My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.95 Kapal Golden 27


__ADS_3

Suasana dermaga kapal besar di kota G yang sangat ramai. Banyak sekali orang-orang beraktivitas. Dari mulai berlalu lalang keluar masuk satu kapal besar, yaitu Golden 27 untuk memasukkan barang-barang milik para penumpang yang membutuhkan jasa angkat barang.


Namun itu hanya berlaku untuk masyarakat kelas standar(di atas rata-rata). Sementara untuk yang kelas atas sangat sedikit dari mereka yang membutuhkan jasa itu. Karena sebagian dari mereka memilih langsung masuk dengan kendaraan mereka sekaligus. Dengan kendaraan mobil mewah yang mereka kendarai.


Sama seperti yang di lakukan supir pribadi mobil yang di tumpangi Sion dan Vlora. Bersamaan dengan jalannya mobil ini masuk ke dalam kapal.


"Jangan macam-macam, kau pasti tau apa akibat dari tindakan bodoh mu",bisik Sion di telinga Vlora.


Tepat di saat itulah. Di luar mobil tanpa keduanya sadari. Keduanya telah di pertemukan lagi, akan tetapi belum saling mengetahui keberadaan satu sama lain.


Next......


Vlora beranjak turun dari mobil begitu juga dengan Sion. Keduanya berjalan beriringan layaknya pasangan pada umumnya. Walaupun sebenarnya tidak, karena Sion memegangi pinggang Vlora cukup kuat. Memaksa Vlora untuk tersenyum (menunjukkan wajah bahagia). Di saat pemilik kapal sendiri yang menyambut kedatangan mereka berdua.


"Kelas standar lumayan juga",gumam Fazlur menaruh tas ransel di atas tempat tidur.


Kiki dan Fazlur membeli tiket kelas standar. Membuat ia memiliki sedikit ruang untuk memilih sesuai selera kamar yang akan keduanya tempati sepanjang perjalanan. Dan keduanya memilih kamar dengan dua ranjang tempat tidur satu kamar. Agar keduanya tetap bisa satu ruangan saat menyusun strategi.


Selesai menaruh tas nya di atas tempat tidur. Kiki berlalu pergi keluar begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Fazlur.


Fazlur yang menyadari kepergian Kiki bergumam kembali,"Seperti apa perempuan itu? Hilangnya dia dari kehidupan Kiki benar merubah dirinya".


++++


Singkat cerita. Hari pun menjelang sore. Vlora yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Sudah bersiap hendak keluar kamar. Namun Sion yang saat itu ada di dalam kamar. Terfokus melihat Vlora,"Mau kemana?Dua menit lagi ada acara makan malam".

__ADS_1


"Aku tidak lapar. Aku hanya ingin jalan-jalan",kata Vlora tanpa melihat lawan bicara nya."Tidak perlu takut aku kabur, aku tidak bisa pergi",kata Vlora sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan mendekati pintu kamar.


Vlora benar-benar pergi meninggalkan kamarnya seorang diri. Tanpa Sion yang tetap ada di dalam kamar. Tengah duduk menikmati secangkir kopi nya.


Sekian lama berjalan kaki. Akhirnya sampailah Vlora di ujung luar kapal ini. Ujung kapal yang menurutnya cukup sunyi dan cukup damai untuk melepaskan rasa lelah. Dan rasa bersalah nya pada seseorang.


Ujung kapal ini seperti taman, lengkap dengan kursi tralis besi tersedia di sini. Namun Vlora melewati kursi itu di kala ada seseorang yang tengah tidur di sana. Vlora berjalan mendekati pembatas kapal. Di mana ia bisa melihat luasnya lautan dari atas sini.


Biru tua mendominasi, langit biru penuh bintang, sunset berwarna oranye yang sudah digusur oleh warna biru tua penuh titik cahaya berkilauan. Menandakan hari benar-benar sudah menjelang malam bukan lagi sore.


Vlora yang kagum dengan kecantikan alam di depan. Spontan mengatakan,"Cantik",


"Tapi kurang", lanjut menunduk perhatian memilih memperhatikan air lautan di bawah sana."Karena hanya sahabat aku begitu sesakit ini. Saat aku mengkhianati nya. Aku...aku sadar aku menyukai nya".


"Benarkah itu?",tanya seseorang di belakang Vlora berdiri.


Kejadian cepat yang sangat sederhana ini adalah momen terindah untuk kedua nya.


Vlora menitihkan air mata sangat bahagia, ia semakin mengeratkan pelukan keduanya tangannya memeluk erat pinggang laki-laki ini. Begitu juga sebaliknya.


"Kamu kemana saja monyet?",Kiki yang masih memeluk erat Vlora dengan sesekali ia mencium ubun-ubun kepala Vlora. Melepaskan kerinduan karena saat ini keduanya tidak bisa lagi berbohong. Jika keduanya sangat-sangat mencintai satu sama lain.


Sementara Vlora yang mendengar pertanyaan itu mencubit pelan, sangat pelan punggung Kiki.


Akan tetapi Vlora tiba-tiba melonggar pelukan nya. Di saat Kiki melakukan hal yang sama. Vlora mengambil langkah sedikit mundur dari Kiki.

__ADS_1


"Sial!",aku menyinggung senyum paksa. Di barengi mengangkat tangan kanan ku. Menunjukkan sebuah cincin pernikahan yang sudah melingkar di jari manis ku."Apa yang harus kita lakukan?Kita....".


"Tidak ada yang terlambat",tegas Kiki memegangi kedua lengan Vlora memaksa Vlora agar kembali menatap ke arahnya."Ayo kita berjuang Yuna".


"Kau menikah karena paksaan bukan karena kau mencintai nya".


"Selama kau mengatakan kau tidak mencintai nya. Aku mau kita berjuang sampai kau bisa terbebas dari nya".


"Tapi bagaimana? Dia sud....".


"Yuna",panggil Kiki tegas."Mau berjuang sedikit lagi atau tidak?".


Aku mengangguk tanpa paksaan cepat tanpa berpikir,"Iya, aku mau".


"Kau harus ikut bersama ku",kata Kiki serius menatap sepasang manik mata di depannya. Walaupun sebenarnya, fokus mata Kiki tidak pada itu. Tapi pada bekas luka di leher Vlora. Kiki sebenarnya sangat marah saat melihat bekas luka itu. Namun saat ia melihat apa yang melingkar di pinggang Vlora. Membuat amarah Kiki sedikit padam, karena apa yang Vlora kenakan cukup membuktikan bahwa Vlora sangat mencintai dirinya.


Aku kembali menitihkan air mata. Namun kali ini air mata bahagia, sangat-sangat bahagia."Jangan jauh dari ku",aku yang kembali menenggelamkan wajah ku di dada Kiki.


"Dari mana saja kau?",tanya Sion pada Vlora yang baru akan kembali.


"Jalan-jalan",cuek ku seperti biasa berjalan melewati Sion. Mengabaikan keberadaan Sion.


Menggenggam pergelangan tangan Vlora,"Kau lupa sesuatu",


".....",menatap dingin Sion tanpa mengutarakan pertanyaan nya.

__ADS_1


"Kau harus menemaniku makan malam",ajak Sion mengandeng pergelangan tangan Vlora untuk ikut bersama dengan nya.


__ADS_2