
Dua bulan berlalu dengan sangat cepat. Kekacauan di luar Kota G juga sudah mulai berangsur-angsur membaik. Begitu juga di dalam Kota. Walaupun pada akhirnya Vlora sendiri lah harus turun tangan tanpa mengotori tangannya sendiri menghentikan kekacauan. Mengerti maksudnya?
Menjelang siang. Sekitar jam 9 siang. Vlora berjalan santai menyusuri jalanan pusat perbelanjaan tradisional. Lebih tepatnya pasar pinggir jalan Kota G.
Untuk sekian lama setelah lima tahun. Untuk pertama kalinya Vlora pergi ke pusat perbelanjaan hanya demi bi Nur pembantu nya yang sudah sepuh. Pembantu paling tua yang masih tetap memaksa untuk tetap bekerja menjaga Vlora. Walaupun di rumah Vlora sudah ada satu asisten rumah baru yang akan mengganti bi Nur.
Next....
"Daun seledri nya satu ikat",kata ku pada penjual sayuran ini.
"20.000 ribu kak",kata penjual sayuran membuat Vlora yang sibuk mengambil uang langsung terfokus melihat pri penjual sayuran di depannya.
"Kak!Kenapa?",pria ini membuat lamunan Vlora hilang."Jadi beli kak?".
"Kiki",ujar ku kepada pria penjual sayuran ini.
Menunjuk dirinya setelah bingung,"Kakak panggil aku Kiki?",tanya pria ini.
"Iya, kamu Kiki bukan",tebak ku karena gestur tubuh dan wajah pria penjual sayuran ini sangat mirip dengan Resendriya Kiki yang hilang entah ke mana. Jadi tidak heran jika Vlora beranggapan jika pria di depannya saat ini adalah Kiki.
__ADS_1
Tertawa kecil,"Bukan kak, aku Sandi. Sandi Wiliam anak pemilik toko sayuran ini".
"Umur berapa kamu?",
"Mungkin 23-24 tahun. Maaf soalnya aku tidak terlalu perduli dengan umur ku, jadi sangat tidak tau",di susul masih dengan senyuman ramah nya.
"Kamu sangat mirip dengan Kiki. Bahkan umur kamu juga sama dengan Kiki. Apakah kamu yakin kamu adalah Sendi",kata ku yang masih menyakiti jika Sendi adalah Kiki yang hilang.
"Aduh kak, jadi beli tidak?",Sendi sedikit kesal juga marah. Tentu saja marah. Toh Vlora adalah orang asing yang sok tau tentang dirinya.
Vlora memilih terdiam menyelesaikan pembayaran,"Coba tanya pada orang tua mu",pesan ku sebelum berlalu pergi dari toko sayuran ini.
"Wanita aneh",gumam Sendi fokus mengerjakan tugasnya lagi.
Malam harinya. Vlora tengah duduk di ayunan balkon rumah. Tengah mengobrol dengan seseorang di seberang sana melalui panggilan telepon. Seseorang itu adalah Vania.
Semenjak hilang nya Kiki. Vania yang tidak dapat turun langsung membantu mencari keberadaan kakak laki-laki. Dengan terpaksa ia meminta bantuan Vlora. Setiap informasi yang di dapat Vlora tentang Kiki, akan di beritahu ke Vania. Seperti saat di pasar tadi.
*Besok tolong antar aku, kak Hyuna mau kan?".
__ADS_1
*Iya, besok sepulang kuliah telfon kakak. Kamu tunggu saja di depan kampus".
*Siyap, thanks you kak Hyuna".
*Iya, istirahat yang baik. Good night".
*Hemm, good night".
Panggil di akhir Vania sepihak dari seberang sana. Terdengar nada bicara yang sangat bahagia juga gembira di seberang sana. Saat mendapatkan informasi baik ini.
Ia terdiam memandangi langit gelap di atasnya. Membiarkan angin malam mendinginkan tubuh nya. Dengan sudut bibir menyungging senyum tipis. Sederhana namun membuat Vlora bahagia.
++
Niat hati ingin membuang sampah dan langsung kembali pulang. Yang urung karena seorang pria paru baya yang menghadang jalan nya.
"Bagaimana rasanya hilang ingatan?",tanya pria setengah baru baya di depannya ini.
Tidak mengerti sedikit pun yang pria ini katakan,"Sepertinya anda salah orang, permisi",ucap Sendi berlalu berjalan berpapasan dengan ia yang masih terdiam.
__ADS_1
"Kau tetap lah orang yang sama. Dan kau harus segera mencari tau kebenaran nya sebelum kau kehilangan dia",kata pria yang masih terdiam di tempat awal berdiri."Jika tidak kau benar-benar akan kehilangan dia selamanya".
Sendi tidak menghiraukan, ia memilih untuk lekas pergi dari tempat pembuangan sampah ini.