
Keesokan harinya setelah keributan yang tidak akan terlupakan oleh Aftar. Kini Aftar yang masih seorang diri duduk di dekat ranjang pesakitan Bryan yang masih pingsan di atas ranjang pesakitan setelah mendapatkan penanganan tadi malam.
Lalu bagiamana dengan Afif?
Melihat Bryan mulai membuka kelopak matanya membulat Aftar benar-benar sangat senang dan tidak henti-hentinya mengucap syukur.
"Syukurlah, Syukurlah Tuhan, Syukurlah".
"Masih pusing?",tanya Aftar pada Bryan yang sedikit merintih menahan sakit memegangi kepalanya.
"Tidak",balas Bryan beranjak bagun untuk duduk.
Dengan membantu Bryan,"Abang tidur saja kalau masih pusing".
"Aku tidak pusing....Afif di rawat di mana?",Bryan yang sudah terduduk terfokus melihat lawan bicara nya.
"Afif masih koma, ia kehilangan banyak darah kemarin malam",nada suara Aftar yang merendahkan merasa sangat bersalah pada Afif.
Bryan beranjak turun dari atas tempat tidur nya. Hendak bersiap-siap untuk pergi.
"Abang tau ayah di mana? Sejak tadi malam aku telfon tidak di angkat-angkat",kata Aftar yang masih terfokus melihat punggung Bryan yang sibuk menggantikan atasan pakaian nya yang sudah di siapkan di sini.
Tidak mendapatkan balasan respon dari abangnya,"Bang",panggil Aftar.
__ADS_1
Bryan yang sudah selesai berganti pakaian berpaling menghadap Aftar yang masih terduduk,"Ayah ada pekerjaan di luar Kota. Ayah sudah berpesan untuk tidak menghubungi nya sampai pekerjaan nya selesai".
"Om Daniel sudah ke sini?".
"Belum, hanya Tante Vania saja yang ke sini mengantarkan makanan".
"Sudah kau makan?".
Melihat diamnya Aftar,"Cepat makan jangan sampai kamu sakit". Berlalu pergi ke pintu keluar kamar rawat inap ini.
Beranjak dari tempat duduknya menghadap Bryan yang membelakangi nya,"Bang Bryan mau kemana?".
"Kerja".
"Tap kond....".
++++++
Daniel di sibukkan membereskan kekacauan yang telah Bryan lakukan semalam agar pihak berwajib tidak sampai ikut campur lebih jauh dengan banyaknya korban yang telah Bryan bunuh di tempat.
Oleh karena itu Daniel belum memiliki kesempatan untuk melihat keadaan Afif ataupun Bryan di rumah sakit. Akan tetapi setelah mendapatkan kabar Bryan sudah keluar dari rumah sakit. Daniel langsung mengambil tindakan menyuruh orang terbaik nya untuk selalu mengawasi Bryan dari kejauhan dan membantu Bryan, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Bryan.
"Bry bukankah seharusnya kau masih harus di rawat di rumah sakit",kata Juan berjalan cepat untuk menyusul Bryan yang sangat terburu-buru pergi."Luka di belakang kepala mu belum membaik Bry".
__ADS_1
Bryan yang tetap berjalan keluar gedung kantor keluarga nya,"Cepat kumpulkan mereka yang dapat di andalkan di markas",suruh Bryan mengabaikan perkataan Juan.
Juan memilih untuk mengalah dan mengikuti perintah Bryan dari pada harus di amuk Bryan yang mood nya sedang sangat kacau karena kehilangan Kiki sejak kemarin.
Di markas tersembunyi Bryan dan Juan. Mereka yang khusus di kumpulkan oleh Juan telah membubarkan diri setelah Bryan memberitahu tugas yang akan mereka lakukan.
Walaupun sudah menyuruh orang tepercaya untuk mencari keberadaan ayahnya. Bryan tetap masih belum bisa duduk dengan tenang. Ia tetap menyusun strategi lain untuk mencari keberadaan ayahnya.
Anak mana yang bisa duduk tenang sementara ayahnya sedang dalam bahaya di luaran sana yang entah ada di mana sekarang.
"Ju",seru Bryan terfokus melihat Juan yang duduk sova depannya."Kau masih ingat dengan laki-laki bernama Geo".
"Iya, seingat ku dia sudah tewas begitu juga dengan anaknya Sion".
"Entah hanya dugaan yang salah atau memang benar. Menurut bio data yang telah aku baca keseluruhan. Geo sebenarnya memiliki dua putra, satu putra pertama bernama Sion dan putra keduanya bernama Zion".
"Bry",Juan yang langsung terfokus melihat Bryan dengan manik mata membulat sempurna."Zion kan anak kuliahan seangkatan kita jurusan Kriminologi. Dia juara dua setelah kau".
Bryan terdiam sejenak mengingat-ingat masa-masa kelulusan kuliah nya.
"Baji***ngan",umpat Bryan mengepalkan tangannya teringat kalimat singkat yang di ucapkan Zion saat berpapasan dengannya turun panggung,'Sampai ketemu lagi',
"Kau tau alamat rumahnya di mana?",tanya Bryan pada Juan.
__ADS_1
"Tidak tau, kau kan tau aku pernah ribut dengannya. Mana mungkin aku akur dengannya",kata Juan.
"......Tapi bio data kampus akan memberitahu",sambungnya bersemangat.