My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.138 Berita duka


__ADS_3

Semakin hari penyakit yang ada di dalam tubuh Aftar semakin merubah banyak bentuk fisiknya. Penyakit itu banyak sekali memberikan perubahan pada fisiknya. Tubuh Aftar semakin hari semakin kurus. Kulit menjadi menguning, perut juga membuncit karena penumpukan cairan.


Keadaan fisik Aftar semakin mudah lelah. Sehingga ia jauh lebih sering tidak mengikuti pelajaran di sekolah. Juga izin tidak mengikuti latihan basket. Di lain sisi, Aftar juga tidak mau melakukan pencangkokan hati.


Operasi itu sudah bisa di lakukan. Akan tetapi, sangat di sayangkan Aftar yang mengetahui lebih dulu siapa pendonor nya langsung menolak keras operasi itu.


Aftar sampai mengancam jika operasi itu sampai di lakukan, ia tidak segan-segan untuk menghabisi diri nya sendiri. Dengan kata lain Aftar memilih bunuh diri dapat harus melihat orang lain yang mendonorkan hatinya untuk d


ia menderita.


Siapakah pendonor yang membuat Aftar sampai mengambil keputusan besar? Dia adalah kakak pertama nya sendiri, Bryan.


Bryan mengajukan dirinya sendiri sebagai pendonor ginjal untuk adiknya. Akan tetapi sebelum operasi itu di lakukan. Adiknya mengetahui rencana nya dari selembar surat yang di tinggalkan Bryan di ruang kerja pribadi nya di rumah. Aftar mengetahui saat ia mengantarkan minuman hangat untuk Bryan yang sehari sibuk kerja. Karena itulah Aftar bersikeras menolak operasi itu,'lebih baik ia mati dari pada harus menyakiti saudara nya',pikir Aftar waktu itu.


Menjelang malam. Afif yang hendak keluar rumah berpapasan dengan Aftar yang baru saja keluar dari dapur. Aftar yang pertama kali dalam hidup nya, melihat Afif keluar rumah di malam hari seketika langsung melangkah mendekat. Dengan raut wajah jahil menggoda. Intinya walaupun sakit dan lemah sifat jahil tetap tidak boleh di tinggalkan.


"Widhi mau kemana lu?".


"Kencan sama siapa?".

__ADS_1


Raut wajah yang tetap sama,"Beli buku anjing. Kenapa masih belum tidur?".


"Jahat kali, gue haus",Aftar sembaring berlalu pergi meninggalkan Afif.


Di dalam mobil pribadi nya. Afif langsung tancap gas meninggalkan pekarangan rumah nya meninggalkan Aftar seorang diri di rumah.


Mengemudikan mobil dengan kecepatan ugal-ugalan di jalanan raya yang tidak terlalu ramai ini. Selama beberapa jam sampai berhenti tepat di depan rumah sakit besar di kota ini.


Empat orang bodyguard yang menunggu-nunggu kedatangan Afif langsung menyambut Afif saat mobil sudah berhenti dengan baik di depan mereka berempat.


Satu orang pergi untuk memarkir mobil Afif. Dan tiga orang mengikuti Afif, mengantarkan Afif masuk ke dalam rumah sakit.


Kemana mereka akan membawa Afif pergi? Ke kamar jenazah. Dengan langkah kaki yang mulai ragu untuk tetap melangkah maju untuk masuk ke dalam kamar jenazah. Akan tetapi dengan keberanian Afif memaksa untuk tetap menerobos masuk ke dalam kamar jenazah.


Semakin mendekat Afif semakin mengenali sesosok dengan raut wajah pucat fasih di depannya adalah kakak laki-laki nya, Bryan.


Iya, Bryan lah seseorang yang saat ini tengah berbaring tidak bernyawa di dalam kamar jenazah. Sosok kakak yang selalu berjuang keras untuk adik-adik saat ini sudah tidak bernafas lagi depannya. Entah bagaimana rasanya di posisi Afif? Posisi itu sangat tidak ramah pada Afif yang sudah mengetahui semuanya.


'Aku harus apa bang? Ayah belum pulang bang. Aftar sakit, aku harus apa?',batin sedih Afif yang tidak di kemukakan, ia hanya terdiam mematung di samping jenazah Bryan.

__ADS_1


Baru teringat dengan sesuatu Afif pun berpaling melihat satu orang bodyguard yang menemani masuk ke dalam kamar jenazah,"Om Daniel gimana keadaan?".


Perhatian sedikit tertunduk,"Tuan Daniel mengalami koma",kata salah satu bodyguard.


"Afif",seru Ifan yang baru saja datang ke kamar jenazah dengan nafas terengah-engah, sehabis lari maraton.


Ifan melangkah mendekati Afif,"Aftar sudah tau?".


Afif membalas dengan gelengan kepala.


"Jangan beritahu dia dulu, tubuhnya tidak akan bisa menerima",kata Ifan.


"Tapi bagaimana om? Ujung-ujungnya Aftar akan mengetahui semuanya".


"Aftar akan tetap tau tapi tidak sekarang, kamu harus memberitahu nya pelan-pelan tidak langsung semuanya. Ingat! Aftar sedang sakit".


Afif tertunduk sedih yang tak terungkapkan membayangkan bagaimana keadaan adiknya nanti.


Ifan mengeluarkan handphone di depan Afif,"Ambil, kata Bryan hanya kau yang bisa membukanya",

__ADS_1


Setelah handphone itu sudah di terima oleh Afif,"Sudah tiga hari ini Handphone itu ada pada ku".


Afif belum sempat membukanya karena ia masih harus mengurus pemakaman Bryan. Bersama dengan Ifan yang akan mendampingi nya. Sementara Vania ada untuk Daniel masih koma di rumah ini.


__ADS_2