My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.145 Kembali


__ADS_3

Dua hari semenjak kepergian Aftar dan Bryan. Afif tetap harus menjalani hari-hari seperti aktivitas normal sediakala. Bangun pagi bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


Karena Afif masih anak SMA kelas 11. Sehingga ia masih harus bersekolah menempuh pendidikan nya. Walaupun itu sedikit menyakitkan karena hari-hari setiap pagi nya tidak akan sama seperti dulu. Akan banyak sekali yang berubah.


"Afif",panggil seseorang yang baru saja keluar dari area perkiraan mobil berjalan ke arah Afif terdiam menunggu.


Seseorang itu adalah Rangga teman sekelas Afif,"Akhirnya lu masuk sekolah".


"......",hanya terdiam dengan raut wajah datar seperti biasa.


Menghela nafas kasar melihat Afif semakin dingin dari biasanya. Rangga segera merangkul bahu Afif membawa nya ikut berjalan beriringan masuk ke dalam gedung sekolah.


"Lilly",panggil salah seseorang membuat Lilly berbalik badan melihat ke arahnya.


"Kylin",ujar Lilly bersemangat seperti biasa."Ada apa?Seneng banget gue tuh di cariin ratu genius sekolahan".


Mendorong pelan bahu Kylin dengan bahunya,"Ada apa mbak bro?",goda Lilly.


"Bisa bicara empat mata",minta Kylin.


"Siap",Lilly yang langsung menuruti saja keinginan Kylin ia memisahkan diri nya dari pada teman-teman sekelasnya.


++++++++++++


Singkat cerita menjelang siang harinya. Baru mendapatkan kabar jika semua persiapan telah usai. Di malam itu juga Afif langsung tancap gas ke lokasi.

__ADS_1


Namun bersamaan dengan itu seseorang tiba-tiba menghubungi tidak di kenal tiba-tiba menghubungi nomernya.


Afif menepikan mobilnya untuk segera mengangkat panggilan telfon suara dari nomer tidak di kenal itu.


Dengan sorot mata yang berubah berkaca-kaca setelah menerima panggilan telepon suara dari orang yang tidak di kenal. Afif langsung menyalakan mesin mobilnya kembali. Untuk segera tancap gas melanjutkan perjalanan.


Di seberang sana. Seorang pria berpakaian lusuh mengembalikan ponsel yang baru saja ia pinjam kepada pemilik. Setelah mengucapkan terima kasih ia pun berlalu pergi meninggalkan tempat ini.


Dan di suatu taman di pinggiran Kota. Yang sangat jarang di jama manusia jika sudah menjelang malam hari. Afif datang seorang diri ke sana untuk mencari sesuatu.


"Ayah".


"Ayah dimana??".


Teriak Afif sembaring menyusuri sekitar tempat ini.


Lantas tanpa berpikir panjang Afif langsung berlari berjalan mendekat. Dan benar saja di sana sudah ada Kiki dengan pakai lusuh tubuh penuh luka.


"Ayah",senang sekaligus perihatin melihat keadaan ayahnya. Afif langsung membantu Ayahnya berdiri dan secepat membawa ayah agar segera lekas bisa mengobati luka-luka yang ada di tubuhnya.


Iya, seseorang yang menelfon Afif dengan nomor tidak di kenal tadi adalah ayahnya sendiri Kiki. Dan setelah mengetahui posisi ayahnya Afif segera tancap gas pergi ke sana untuk segera menjemput ayahnya.


Next...


Sepanjang perjalanan Afif mengemudi mobil dengan sangat hati-hati agar tidak sampai membangunkan ayahnya yang tengah tertidur pulas.

__ADS_1


Sampai setibanya di rumah. Setelah menunggu Kiki selesai mandi. Afif segera turun tangan langsung membantu Kiki mengobati berbagai jenis luka-luka yang ada di sekujur tubuh nya.


Dengan seseorang ia menitihkan air mata sedih yang bercampur kebahagiaan. Bagaimana bisa ayah mendapatkan luka sebanyak ini selama ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk segera menolong nya.


Kiki memang tidak melihat langsung Afif menangis tapi ia tetap mengetahuinya,"Kenapa menangis?".


"Kedua saudara mu di mana? Sejak tadi ayah belum melihat mereka berdua sama sekali".


Mendengar itu Afif hanya bisa terdiam membisu seribu bahasa tidak dapat berkata apapun lagi.


"Afif",seru Kiki."Ayah bertanya pada mu?".


Setelah hembusan nafas panjang. Afif mulai menceritakan semua yang telah terjadi selama Kiki pergi sampai bagaimana kedua saudara nya merenggang nyawa.


Selesai mendengarkan cerita Afif. Respon Kiki hanya terdiam membisu, tapi sorot mata tertuju terus melihat ke arah Afif.


"Maafkan ayah Afif",ucap Kiki lirih."Karena ayah kamu jadi kehilangan semuanya, seharusnya ayah tidak memaksa kabur dari sana. Seharusnya ayah tetap di sana membiarkan mereka menghabisi ayah".


Tertunduk sedih tak kuasa lagi untuk melihat putranya,"Maafkan ayah Afif".


Kedua pegangan tangan Afif membuat perhatian Kiki kembali terangkat,"Ayah jangan pergi-pergi lagi. Afif sekarang cuma punya ayah".


"Jangan tinggalkan ayah sendirian lagi Afif ".


Kiki menyungging senyum hangat,"Tidak akan. Ayah akan selalu ada untuk Afif. Maaf ayah berkata demikian".Di susul dengan Kiki mengelus-elus lembut bahu Afif."Hebat seperti bunda".Kata Kiki.

__ADS_1


Afif yang dapat mendengar membalas dengan tawa kecil yang ringan dan tidak di buat-buat. Seperti kulkas ini telah mencair.


__ADS_2