
"Ki",seru Vlora yang duduk membelakangi Kiki yang tengah mengobati beberapa luka memar di punggung Vlora. Entah macam manalah sampai ada luka memar di punggung Vlora. Benar-benar sangat mengherankan, pikir Kiki tanpa ia sadari melamun.
"Kiki", memangil dengan sedikit berteriak.
"Hemm".
"Seharusnya kau mengobati luka mu, bukan luka ku",kata ku yang masih terduduk membelakangi Kiki."Luka tembak mu lebih parah dari luka memar ku".
"Aku tidak terluka",balas Kiki bernada dingin.
"Bercanda kau?",
"Bercanda kenapa?",Kiki yang sudah selesai mengobati atau mengompres bekas luka memar di punggung Vlora menghentikan aktivitas nya.
Vlora menaikan kemeja yang ia kenakan sedikit. Untuk ia kenakan dengan benar dan berbalik badan menghadap ke arah Kiki.
"Aku tidak terluka Yuna",kata Kiki menyakinkan Vlora yang tidak mempercayai nya."Tidak percaya? Lihatlah sendiri",Kiki yang tiba-tiba membuka kaos yang ia kenakan dan memutar posisi duduk nya duduk membelakangi Vlora.
__ADS_1
Yang faktanya ternyata Kiki memakai pelindung anti peluru di badannya. Bahkan saat ia melepaskan kaos yang ia kenakan. Kiki masih harus melepaskan pelindung ati peluru yang ia kenakan. Sampai akhir hanya menyisakan singlet hitam yang ia kenakan.
Berbalik badan kembali ke arah Vlora,"Sudah percaya".
Vlora hanya terdiam menatap sulit di artikan.
"Kamu sudah makan?",tanya Kiki terfokus pada Vlora yang menurunkan perhatian.
Memegangi kedua bahu Vlora untuk menyadari Vlora dari lamunannya,"Kenapa?".Tanya Kiki saat sudah mendapatkan balasan tatapan dari Vlora.
Namun Vlora justru bergerak memeluk erat tubuh Kiki menenggelamkan wajahnya di dada Kiki. Sebelum ia menjawab pertanyaan Kiki.
"Eh??", memegangi pipi dan menatap heran Vlora.
"Kau tidak menujuk ekspresi apapun sejak awal kita bertemu. Bahkan setelah kau ternyata sudah mengetahui aku telah di nikahi oleh baji**ngan itu".
"Tidak ada rasa jengkel atau marah, atau apapun kau tidak menunjukkan sedikitpun. Dengan ekspresi kekecewaan pada ku pun kau tidak memperlihatkannya".
"Apa kau tidak takut aku sudah....".
__ADS_1
"Sudah apa?",potong Kiki."Yuna bukan wanita yang mudah di sentuh sembarangan orang",lanjut Kiki serius menatap sepasang manik mata di depannya.
Mengusap sudut matanya,"Ihh dasar kenapa aku jadi perempuan cengeng beberapa hari ini, sial!!",gumam ku kesal.
Vlora membulatkan manik matanya saat Kiki telah mencium kening nya. Membuat perhatian mendongak menatap ke arah nya.
Menatap lurus ke sepasang manik mata di depannya,"I love you",di susul dengan mencium bibir Vlora sekilas.
Yang akhirnya menjadi ciuman panas yang enggan untuk Kiki sudahi. Dan Vlora tidak menolak nya. Tidak seperti biasanya. Ia tetap terlihat tenang membalas ciuman Kiki.
Sampai tanpa ia sadari Kiki sudah menindih tubuh nya. Meraba keseluruhan tubuh nya dan membuat tanda kepemilikan.
"Tunggu",aku yang mengehentikan tangan Kiki yang hendak menyentuh area sensitif ku.
Kiki yang sudah terfokus pada Vlora,"Kenapa?",tanya singkat Kiki.
"Sudah basa Yun, sudah sakit juga di bawah sana",menatap memelas Vlora.
Namun Vlora tidak memberikan respon apapun. Membuat Kiki tergerak dengan sendirinya. Ia kembali melanjutkan kegiatan nya tanpa meminta persetujuan pemilik nya.
__ADS_1
Argg.....Vlora yang semakin gusar berusaha untuk tetap mengendalikan diri. Akan tetapi Kiki yang sudah menyadari berbisik lirih di daun telinga,"Keluar saja...aku mulai memasukkan nya".