My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.136 Kehadiran


__ADS_3

Baru juga berhasil membobol pintu belakang rumah seseorang ini. Bryan yang baru melangkahkan kakinya beberapa langkah. Langsung di kejutkan dengan sesuatu hal yang menyambut kedatangan dan sesuatu yang harus secepatnya segera ia menghentikan.


Bryan berlari secepat mungkin tanpa di sadari oleh seseorang perempuan ini, ia langsung menarik pisau dalam genggaman tangan perempuan ini lalu melemparkannya asal.


"SUDAH GILA KAU?",tanya Bryan bernada tinggi pada perempuan ini yang adalah Zalfa.


Zalfa tersenyum sinis pada Bryan sebelum akhirnya ia berkata,"Gila? KAU YANG TELAH MEMBUAT KU GILA",nada bicara tinggi nya.


"Kau sudah tau aku sendirian. Aku sendirian!! Sejak aku SMP. Kau, Juan, Diva adalah teman pertama ku dan sahabat baik ku. Aku sangat bersyukur bisa mengenal kalian",mendorong-dorong dada Bryan dengan jari jemarinya.


"Lalu setelah sekian lama aku tidak bertemu kalian. Aku pikir kalian tetap sama, dan kemarin aku bertemu dengan mu untuk pertama kalinya. Kamu kedinginan sendirian. Aku bermaksud baik? Karena aku pikir....", menjedah kalimat sembaring tetap mendorong-dorong dada Bryan dengan jari nya dengan amarah kekesalan."Ternyata....hiks...hiks....,"Zalfa tidak bisa melanjutkan ucapan yang terpotong dengan sesenggukan tangis yang menyakiti nya.


Masih dengan bui bening yang sudah membasahi pipinya, tangan yang masih bergerak-gerak,"Sampai aku datang ke rumah sakit dengan harapan mereka bisa membantu. Tapi....tapi sepertinya aku harus melakukan sendiri. Aku mau mati, aku mau bertemu dengan ayah dan mama. Aku tidak mau ada di sini. Aku tidak mau".


"Aku takut",bernada lirih tubuh yang bergetar terisak tangis.


Hiks...Hikss....Hikss..... Melihat Zalfa sangat terluka karena nya. Bryan menarik Zalfa dalam pelukan, ia memeluk Zalfa.


"Maafkan aku Zalfa, aku mohon jangan lakukan itu lagi. Aku akan menjaga mu mulai sekarang",lirih Bryan bernada tenang untuk Zalfa yang masih sesenggukan menangis.


Sesaat setelah akhir Zalfa sudah lebih tenang. Bryan melepaskan pelukannya, tangannya tergerak menghapus bui bening yang membasahi pipi Zalfa. Sampai ia juga melepaskan jas yang ia kenakan, dan mengenakan pada Zalfa yang hanya mengenakan dress lengan pendek. Dengan keadaan dress yang basa kuyup.


Menatap lurus Zalfa,"Ganti pakaian mu",suruh Bryan di barengi membantu Zalfa kembali bangkit berdiri dari lantai rumah ini.


Untuk sekali lagi,"Ganti pakaian yang bagus aku akan buatkan makanan untuk kamu".


Zalfa yang masih terdiam menatap sepasang manik mata lawan bicaranya,"Bry, kamu serius dengan perkataan mu?".lirih.


"Iya, sudah sepatutnya aku bertanggung jawab. Entah itu karena tidak sengaja ataupun di sengaja. Apapun yang telah ku lakukan harus ku pertanggung jawaban kan".


Memegangi kedua punggung tangan Zalfa,"Maafkan aku yang terlambat".


Mendekat untuk membiarkan tubuh bersandar di dada Bryan hingga akhir pingsan.


Bryan cemas harus melakukan apa. Langsung saja mengendong tubuh Zalfa ke kamar nya.

__ADS_1


+++++


Beberapa jam menunggu Zalfa siuman sembaring menggenggam telapak tangan Zalfa dengan kedua tangannya.


Zalfa akhirnya membuka kelopak matanya, sayup-sayup ia mulai melihat sekeliling kamarnya. Masih dalam keadaan berbaring di atas tempat tidur.


Di saat itulah. Bryan yang awalnya soft berubah menjadi dingin,"Sudah berapa lama kamu tidak makan?".Bryan bertanya demikian karena saat ia membuka kulkas ataupun lemari makanan, ia tidak mendapatkan sedikitpun makanan selain hanya makanan sisa di kulkas.


Namun Zalfa yang menyadari hal lain,"Kamu yang ganti pakaian ku?",melotot kan matanya melihat Bryan.


Fokus Bryan yang masih melihat Zalfa dengan tatapan tenang nan dingin,"Iya. Apa yang sudah kulihat tidak boleh di lihat orang lain".


Mengerutkan keningnya kesal,'Mesum',umpat Zalfa dalam hari.


"Cepat bangun untuk makan",suruh Bryan.


"Makan batu! Aku tidak punya makanan",ketua Zalfa hendak menyelimuti tubuhnya dengan selimut namun segera di hentikan oleh Bryan.


Tanpa basa basi Bryan langsung mengangkat tubuh Zalfa dan mendudukkan Zalfa dengan benar di atas tempat tidur.


Zalfa yang syok dengan respon Bryan yang bisa sampai seserius itu hanya bisa terdiam mematung.


Ia duduk kembali di tepi tempat tidur depan Zalfa. Saat hendak menyuapi Zalfa langsung mengambil alih,"Aku bisa makan sendiri",katanya.


".....",Bryan hanya terdiam membiarkan Zalfa makan sendiri.


Sembaring menunggu Zalfa selesai makan. Bryan yang mendapatkan notifikasi chat di ponsel di sibukkan memainkan layar ponsel untuk berbalas chat. Sebelum akhirnya ia akhiri sendiri dengan mematikan ponsel nya. Menyimpan kembali di kantong celana nya.


"Tadi aku beli susu. Kamu minum susu itu setiap hari setelah makan. Jika sudah habis kamu bilang saja ke aku. Nomer kontak ku tetap sama".kata Bryan pada Zalfa yang masih memakan buburnya.


"Aku tidak punya nomor mu. Ponsel ku hilang di hari pertama masuk kerja".


"Kamu tidak punya ponsel?".


"Ada, di meja itu",Zalfa menujuk ke arah meja rias nya.

__ADS_1


Bryan beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil ponsel Zalfa. Karena tidak di sandi Bryan bisa leluasa langsung mengontak atik ponsel Zalfa. Tanpa Zalfa perduli.


"Kamu berhenti kerja saja",ucapan Bryan yang langsung membuat Zalfa terbatuk-batuk tersedak makanan nya.


Bryan segera memberikan Zalfa minum sembaring mengelus teluk Zalfa pelan.


"Kau gila? Makan apa aku kalau tidak kerja?",bentak Zalfa pada Bryan.


Bryan yang masih dengan gelagat tenang nya,"Bukankah kau emang mau mati",kata Bryan membuat Zalfa terdiam.


Diam Zalfa membuat Bryan menyusul dengan berkata,"Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Aku ingin kamu istirahat di rumah dan mencari rutinitas lain yang tidak membuat mu dan anak ku celaka".


"Aku memang akan melindungi mu. Tapi aku tidak bisa selamanya ada bersama mau. Makanya aku ingin kau berhenti bekerja dan mencari rutinitas lain yang tidak membuat mu dan anak celaka. Uang untuk kebutuhan keseharian mu tidak perlu kamu pikirkan. Aku akan memberikan mu uang".


Bryan mengambil jas nya untuk mengambil sesuatu di sana. Ia kembali duduk di tempat yang sama sembaring membuka dompet yang telah ia ambil.


Beberapa lembar uang di sana langsung Bryan ambil habis dan memberikan nya pada Zalfa."Ambil ini. Beli yang kamu mau, jika kurang atau membutuhkan sesuatu telfon aku".


"Aku mohon berhentilah bekerja",minta Bryan sekali lagi.


Sesaat setelah terdiam cukup lama. Zalfa akhirnya mengambil keputusan,"Baiklah, jika itu yang kamu mau".


Keputusan yang membuat Bryan menyungging senyum tipis di sudut bibir bahagia.


++++


Selang beberapa waktu kemudian. Sesaat setelah makan pagi Zalfa selesai. Bryan masih tetap di sini menemani Zalfa yang saat ini sudah terlelap tidur.


Hingga menjelang siang hari. Zalfa yang baru menyadari sesuatu jika Bryan masih terduduk bersandar di samping nya tidur.


Zalfa beranjak bangun untuk duduk dengan hati-hati agar tidak sampai membangunkan Bryan. Sayangnya Bryan justru langsung terbangun sebelum ia benar-benar sudah duduk dengan benar.


"Mau kemana?",tanya Bryan.


"Mandi",balas singkat Zalfa.

__ADS_1


"Sana, hati-hati lantai kamar mandi mu licin",pesan Bryan.


Zalfa berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Baru saja satu kakinya menginjak lantai kamar mandi.'Eh! Siapa yang bersihkan kamar mandi ku',pikir Zalfa sebelum menduga jika Bryan lah yang telah melakukan nya.


__ADS_2