My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.17 Hati nya hancur


__ADS_3

Vlora yang menyadari diri nya ketiduran. Lekas beranjak bangun dari tempat nya tidur. Akan tetapi telapak tangan besar tiba-tiba tergerak menutup langsung kedua tangan nya dengan satu tangan. Mendorong nya mengikuti tangan nya sampai tubuhnya kembali tidur terlentang.


Telapak tangan besar melepasnya. Vlora membuka kelopak mata nya untuk melihat pemilik tangan. Juga melihat apa yang ada di bawah kepala nya karena Vlora tidak merasakan sakit saat tubuh nya terdorong paksa kembali tertidur telentang.


"Kiki".Seru ku pada pemilik tangan. Dan saat ini aku tengah tiduran dengan ber bantal kan paha Kiki.


"Sejak kapan?".


"Awal".Balas nya terfokus menatap Vlora,"Kau tidur tanpa alas apapun jadi aku mengajukan diri sebagai bantal untuk mu".Di susul senyum hangatnya.


Vlora berpaling ke arah lain agar tidak melihat senyuman itu,"Hemm".


"Apakah harus aku duluan yang chat. Beberapa bulan ini kita tidak saling berhubungan dan kau tetap santai".


"Padahal aku sangat menunggu chat dari mu. Tapi tidak pernah terjadi".Kata Kiki.


Masih memalingkan perhatian melihat hal lain,"Untuk apa aku chat. Sementara tidak ada yang di perlukan".


"Apakah harus ada perlu dulu baru di chat?".


"Iya".


"Heeyy....kapan diri mu pekah".Gumam Kiki yang masih terdengar sama oleh Vlora.


"Ngomong apa anjing? Bisik-bisik".


"Tak ada".Kiki yang lagi-lagi di susul dengan senyuman hangat pada Vlora.


Aku beranjak bangun untuk duduk,"Aneh".Melanjutkan beranjak berdiri untuk kembali kelas.


"Jika kau kembali ke kelas sekarang kau akan terkena hukuman. Karena pelajaran sudah di mulai sejak tadi".Kata Kiki tetap duduk di tempatnya.


Tersenyum miring,"Jadi aku terjebak di tempat membosankan ini".


"Iya semacam itu".Saut Kiki,"Lebih baik kau duduk lihat langit siang hari ini sangat indah".Kata Kiki sedikit mendongak memperhatikan langit indah siang hari.


Tidak ada yang bisa di lakukan lagi agar tidak dapat hukuman. Selain duduk berdua di atap sekolah meninggalkan jadwal belajar mengajar yang sudah terlambat untuk kita berdua ikuti.


"Aku senang kau menyukai masakan ibu ku".Ucap Kiki tiba-tiba memecahkan kedamaian semenjak tadi.


Menengok ke arah sumber suara,"Kau yang mengirimnya".


"Iya".

__ADS_1


Kembali ke perhatian semula,"Sampaikan terimakasih ku pada Tante".


"Iya".


"Aku senang melihat mu bahagia saat bersama Ana. Kau tersenyum dan tertawa tulus tanpa paksaan seperti biasa".


Tertunduk,"Kau tau".


"Aku selalu memperhatikan nya. Aku selalu mengetahui tanpa harus menunggu bercerita. Hanya saja aku tidak pernah mendekati mu untuk mengatakan nya".


"Kenapa?".


"Untuk.....".


++++++++


Malam hari nya. Di tengah malam yang dingin, Vlora berjalan-jalan seorang diri di jalanan pejalan kaki Kota. Malam yang sunyi tidak terlalu ramai. Aneh tidak seperti biasanya. Namun lagi-lagi sangat nyaman.


Menghentikan langkah kaki Vlora tiba-tiba,"Ana".Seru ku melihat Ana yang muncul dari tikungan gang di depan ku.


Nafasnya terengah-engah namun dirinya bersikap seperti baik-baik saja. Vlora tau betul dia habis berlari dari kejaran sesuatu, tapi karena apa dia berlari. Dan kenapa dia hanya diam saja tidak meminta ku membantu nya.


Lantas Vlora berjalan mulai mendekati nya,"Berhenti!".Teriak Ana lantang.


Vlora yang tidak terlalu jauh dari tempat Ana berdiri tekena sedikit bercak darah jantung Ana yang meledak. Tubuh Vlora terdiam membeku di tempat, bergetar syok.


"Kenapa terjadi lagi?Kenapa terjadi lagi?Mereka semua mati".Terdiam meracu teringat masa lalu.


Keluar dari dalam mobil ayah Ana,"Hati-hati turunnya".Pesan ayah Ana yang tetap duduk di kursi pengemudi.


"Siap om", Sembaring beranjak turun,"Selamat malam Ana Om".Vlora kecil sebelum menutup pintu mobil.


"Malam!!selamat beristirahat Yuna".Ana yang berbalas ku lantang.


Melihat Vlora sudah berlari masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Ayah Ana segera tancap gas melanjutkan perjalanan pulang.


Akan tetapi tawa dan langkah gembira itu hilang tanpa ayah Ana dan Ana sadari. Setelah Vlora masuk ke dalam gerbong rumah nya.


Melihat tubuh kelima satpam rumah nya yang sudah tidak sadarkan diri,"Pak satpam!".Mengambil langkah mundur, sebelum berbalik cepat berlari untuk masuk ke dalam rumah,"Ibu, ayah, kenapa?Tidak, tidak, Vlora tidak boleh takut".Berlari cepat mungkin masuk ke dalam rumah.


"Jangan di lihat. Jangan di lihat. Ayah bilang jangan lihat darah nya. Aku harus tetap cepat berlari".Vlora yang semakin cepat lari menarik tangga.


Sampai membuat nya tersandung hingga keningnya berdarah. Ia menangis di sana tanpa ada seorang pun membantu nya. Hanya ada darah segar yang mengalir di samping tempat nya jatuh. Ia mendongak takut, melihat ke atasnya yang sudah ada mayat pembantu rumah nya. Tergeletak tidak bernyawa dengan keadaan leher tertancap besi.

__ADS_1


Karena ketakutan Vlora hampir tergelincir di atas tangga. Ia bergegas bangkit dan melanjutkan lari nya.


"Kenapa??Ayah, ibu?Apa yang terjadi?Vlora mulai takut".Ucap nya berlari menuju kamar kedua orang tua.


Namun sampai di dekat kamar kedua orang tua nya langkah kecil Vlora melambat. Tubuh nya ragu-ragu bergerak maju. Dan sebelum ia membuka pintu coklat kayu kamar kedua orang tuanya.


Clekkk....,"Kakak!?Ayah, Ibu".Aku sebelum melangkah masuk ke dalam kamar.


"Apa yang sedang kakak lakukan?".


"Membunuh mereka berdua".Balas enteng Xana di balik cahaya remang-remang dalam kamar.


Semakin cemas membuat suara-suara aneh semakin mendorong nya terlalu jauh.


"Bunuhlah orang terdekat mu adik ku bodoh hahahhh.....".


"Kau yang telah membuat mereka berdua mati. Beban...bodoh!!".


"Temui aku jika kau sudah membunuh orang terdekat mu, bodoh".


"Berusaha untuk membenciku agar kau bisa membunuh orang".


Terdiam lutut yang sudah bertekuk lutut lemah,"Aaaaaaaaaaakkkkk...........".Aku berteriak sekencang mungkin sembaring menutup kedua telinga ku.


Tanpa aku sadari Kiki sudah ada di dekat Vlora Pakk....menampar pipi ku sekuat mungkin.


Vlora terdiam menengok paksa tidak lupa dengan manik mata nya yang membulat sempurna,"Sadar Vlora. Kendalikan kesedihan mu".


"Aku menyukai mu karena kau berani, kuat, tegar, juga pintar."Ucap Kiki menatap dalam manik mata suram ini,"Aku percaya kamu bisa melewati semuanya Vlora".


Sudah terfokus menatap sepasang manik mata yang memberikan Vlora ketenangan,"Tapi Ana, dia!".


"Ana sudah di masukan Ambulan".


Benar jazad ada sudah di angkut masuk ke dalam ambulan. Dan sekeliling Vlora sudah banyak orang-orang yang berkumpul.


"Ayo pergi".Kiki membantu Vlora untuk kembali bangkit.


Pergi mengikuti kemana jenazah Ana akan di bawah.


+++++++


++++++++++++

__ADS_1


Langit sangat memahami kesedihan Vlora sekarang. Sejak kemarin malam, hujan rintik-rintik terus saja berjatuhan membasahi tanah ibukota G. Mengiringi kepergian sosok perempuan yang sangat berharga untuk nya.


__ADS_2