
Brakk....Tubuh lemah Kiki terlempar cukup kuat sampai membentur dinding keras penjara.
Memang benar dan sudah bagus, ikatan tali yang melilit kedua tangannya telah di selepas kan. Akan tetapi tubuh lemahnya justru mendapatkan perlukan lebih kasar lagi.
Kiki terduduk menggenggam lengan tangannya, yang seperti terasa sangat sakit setelah terinjak-injak justru di tambah dengan terbentur dinding keras ini.
Tanpa bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa terduduk di sana mengiris menahan sakit di sekujur tubuh nya.
Sementara di lantai satu atas rumah ini. Vlora dan kedua orang kepercayaan telah tiba. Ketiganya langsung di sambut oleh deretan sepasang mata tajam yang menatap nya tidak suka.
Sampai sampai ketiganya di ruang tengah rumah ini. Di bawa lampu kristal gantung telah berdiri sosok pria berkemeja hitam polos, lengan panjang kemeja yang di lipat memperlihatkan otot-otot tangannya yang besar.
"Welcome adiknya Xana"Sapa pria ini. Jenson menyungging senyum manis yang terlihat sinis.
"Di mana Kiki?"Aku yang langsung tode poin pada tujuan ku jauh-jauh ke sini. Untuk menyelematkan Kiki yang tertangkap oleh anggota mafia ZCBlack. Yang saat ini telah di jadikan sadra mafia ZCBlack.
Jenson tersenyum miring mendengar pertanyaan yang di lontarkan Vlora.
Namun di lain sisi. Ada dua orang yang saling bertukar pandang satu sama lain sejak awan pertemuan keduanya. Yang paling mencuri perhatian. Evano dan Kenan yang menatap penuh kebencian seperti ingin segera tergerak cepat menghabisi Evano. Itu terlihat jelas dari kedua tangan Kenan yang mengepal kuat bahwa tangan kanan sudah mengeluarkan setetes darah tanpa ia sadari.
Fallback masa lalu.....
Kenan adalah seorang pemuda yang terlahir di keluarga sederhana. Tidak kaya, tapi kaya akan kasih sayang. Baik Ayah ataupun Ibu Kenan sangat menyayangi Kenan juga kakak laki-laki nya, Evano.
__ADS_1
Evano pernah bercerita jika kebahagiaan kedua orang tua semakin melimpah setelah kehadiran Kenan, adiknya dalam keluarga sederhana ini.
Tiga tahun sejak kelahiran Kenan, semua berjalan dengan baik-baik saja. Evano yang selalu menjaga Kenan kecil dengan baik layak seorang kakak yang sangat sempurna untuk Kenan.
"Bang, bang",Kenan yang sangat bersemangat berlari menghampiri abangnya yang sudah menunggu kepulangan nya dari sekolah.
Berjongkok menyamai tinggi badan Kenan untuk menangkap tubuh Kenan yang akan mencium aspal. Sungguh respon yang sangat cepat untuk melindungi adiknya,"Jangan lari dik, kalau jatuh ibu sama ayah akan marah".
"Semangat sekali bang,"menunjukkan selembar kertas yang sembaring tadi dalam genggaman tangan kecilnya."Lihat bang, Kenan juara satu".
"Pinter banget kan Kenan?"Di susul senyum sumringah penuh kebahagiaan.
Masih berjongkok di depan Kenan.Tangan Evano tergerak mengacak-acak surai rambut berantakan adiknya,"Enaknya bakal dapat makanan enak dari ibu lagi".
"Sudah ayo cepat naik".Tuntun Evano menaikan adiknya ke tas sepeda angin miliknya.
Kedua kakak beradik adik berlalu pergi meninggalkan halaman depan sekolah dengan suasana hati bergembira, sangat bahagia.
Sampai di kediaman rumah. Kenan yang baru turun dari atas sepeda meninggalkan abangnya yang masih sibuk menarik sepeda. Ia berlari masuk ke dalam rumah,"Aku pula...".Ucapnya terhenti saat tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan kaki seseorang di depannya.
"Jangan lari-lari dalam rumah".Nada bicara tak ramah, seperti bukan sosok seorang ayah yang biasa ia kenal.
Tanpa membantu Kenan yang masih terduduk terpaku di tempatnya. Kaget dengan tubuhnya yang baru saja terpental karena menubruk kaki jenjang ayahnya kuat.
__ADS_1
"Kenan".Nada bicara berbeda yang terdengar selalu menghangatkan."Jatuh lagi?".Sosok perempuan dewasa berusia 30 tahun keatas. Namun tetap terlihat cantik seperti biasanya. Berjalan mendekati Kenan membantu Kenan untuk kembali berdiri dengan baik.
Mengusap kening kening Kenan yang basa akan keringat,"Lain kali jangan lari-lari, bahaya. Jalan saja dengan pelan-pelan agar selamat,"di susul senyum hangatnya."Lagian ibu juga tidak akan kemana-mana. Ibu selalu menyisakan menu makanan khusus untuk Kenan. Jadi Kenan jangan....",menjedah menuntut nya untuk melanjutkan,"....jangan lari-lari".Sambung Kenan.
"Pinter".
+++
Dua Minggu setelah kejadian di hari itu. Sifat ayah nya semakin berubah. Ayahnya menjadi pribadi yang sangat dingin dan lebih menonjolkan sosok tegasnya dari pada sisi hangat seperti dulu. Begitu juga dengan abangnya, yang juga ikut berubah setelah hari itu.
Abangnya juga menjadi pribadi yang tertutup, juga lebih banyak diam dari biasanya. Walaupun begitu Evano masih tetap menunjukkan sisi hangatnya pada adiknya. Seperti tetap mengantarkan Kenan pulang sekolah. Dan masih tetap menemani Kenan latihan pedang di aula tempat latihan rumah. Dari perubahan itu Kenan mengambil kesimpulan jika ayahnya mungkin karena lelah bekerja, dan abangnya karena terlalu di sibukkan dengan urusan sekolahnya yang akan segera melakukan ujian kelulusan.
Sampai hari itu tiba. Hari setelah pembagian ijazah kelulusan sekolah SD Kenan yang akhirnya merusak semua pemikiran positif Kenan.
*Ia mengambil jalan cepat untuk segera sampai ke kediaman rumah nya. Agar secepatnya dapat menunjukkan hasil nilai ijazah nya yang sangat bagus pada ayahnya dengan harapan ayahnya akan hangat seperti dulu lagi.
Kenan mendapatkan peringatan satu di kelasnya atau kurang lebih peringkat satu di sekolah nya. Dengan nilai ijazah terbagus. Itulah kenapa Kenan tidak sabar untuk sampai di rumah*.
Namun,"Ibu!",tubuh Kenan membeku tepat di depan pintu utama rumah yang langsung membawanya ke ruang tamu rumah nya.
Tepat di mana ibunya sudah tergeletak bersimbah darah. Tepat di samping ibunya ada ayahnya yang terduduk bersimpuh di depan Katana yang bersimbah darah.
Tidak cukup sampai di situ. Kenan juga di buat bingung oleh sikap Abang nya. Yang sudah berdiri tepat di belakang ayahnya mengangkat pedang Katana yang masih bersih dari bercak merah. Apa yang sebenarnya terjadi?Apakah Evano akan menghabisi ayahnya yang telah merenggut nyawa ibu nya. Atau mungkin Evano yang telah merenggut nyawa ibu nya. Dan kini ia berganti ingin menghabisi ayah nya.
__ADS_1