
Juan memilih untuk mengirim pesan singkat pada kedua perempuan yang ia tinggalkan, jika ia akan langsung pulang setelah makan. Suatu kebohongan untuk terhindar dari dua perempuan tadi.
Berjalan beriringan,"Sekarang kemana tujuannya?",tanya Juan bingung menatap lurus jalanan yang ia lewati bersama Bryan.
"Pulang saja Ju, besok masih ada kerjaan",
"Iya, untung masih ada yang di kerjakan coba tidak, di jamin gila",Juan mengehentikan langkah kakinya."Gue lewat sana, gue memarkir mobil gue di sana",pamitnya sebelum berlalu meninggalkan Bryan sendirian.
Bryan melanjutkan perjalanan nya seorang diri untuk pergi ke tempat mobilnya di parkirkan. Ia di hari ini. Bryan memilih pergi menggunakan mobil tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu mengendarai motor.
Namun di saat ia sudah tiba di dekat mobilnya. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel membuat Bryan lekas masuk ke dalam mobil. Secepatnya tancap gas meninggalkan parkiran mobil buru-buru.
Brummm......
"Bagiamana keadaan bunda?".Tanya Bryan pada Vlora yang berjalan keluar ruang pemeriksaan di tuntut Kiki.
"Tidak papa hanya kontraksi sedikit",
"Sakit Bun?".
"Tidak, kamu ini paniknya seperti orang gila",kata Vlora sedikit kesal."Sama seperti ayah mu".
"Eh",ujar Kiki.
"Sudah ayo pulang".
Bryan panik karena ia mendapat notifikasi pesan yang mengabarkan bundanya masuk ke dalam rumah sakit. Karena itulah Bryan menjadi sangat panik, padahal setelah sampai di rumah sakit. Bunda Bryan hanya mengalami kontraksi ringan yang membuat beliau dapat kembali pulang dan beristirahat di rumah. Namun kedua laki-laki ini tetap tidak bisa bernafas dengan lega.
Baru juga sampai di rumah. Dan baru juga Vlora duduk tenang di tempat tidurnya. Bryan yang masih mengikuti kedua orang tuanya,"Belum lahir saja menyusahkan",gumam nya kesal.
__ADS_1
Menekan dengan telapak tangan ubun-ubun kepala Bryan sampai anaknya sedikit terdorong turun,"Kamu dulu juga sama".
"Aduh....aduh....",
Melepaskan telapak tangan nya,"Sudah sana keluar biarkan bunda istirahat".
"Iya",raut wajah kesal Bryan berlalu meninggalkan kamar kedua orang tuanya.
Baru juga akan membuka pintu kamarnya. Bryan tiba-tiba mendapatkan notifikasi chat yang masuk ke dalam ponsel nya. Ia segera merogoh kantong celana untuk membaca isi notifikasi chat yang masuk.
Juan
\=>Bantu gue Bry. Ada sekelompok orang ngejar-ngejar gue, gue sekarang sembunyi di belakang bukit. Gue tidak berani keluar komplotan mereka banyak kali. Bantu gue cari bantuan Bry.
\=>Gue tunggu.
"Mau kemana Bry?".
"Lanjut Nongkrong",balas Bryan buru-buru berlari kecil keluar rumah.
"Ay....? Sudah hilang",Gaza yang masih terfokus melihat kearah perginya Bryan.
"Ada di kulkas Asg",kata Kiki yang baru saja keluar dari dalam Liv rumah."Vania tadi di rumah mana?", berganti bertanya.
"Rumah orang tua ku. Kehamilan Vania sudah besar orang tua ku takut kalau membiarkan Vania sering di rumah nya sendiri".
"Bang Daniel dan Bang Ifan?".
"Mereka berdua jarang pulang ke rumah. Hanya saat aku suruh menemani Vania saja salah satu dari mereka berdua pulang".
__ADS_1
"........".
"Aku ambil dulu bang, tidak bisa lama-lama soal nya".
"Iya, ambillah",kata Kiki tersenyum dengan makna yang berbeda,'Syukurlah adik ku mendapatkan keluarga yang tepat',batin Kiki sedih sekaligus bahagia.
Sesaat kemudian Gaza kembali dengan membawa sekeranjang buah berukuran sedang berisikan stroberi. Kembali berjalan menghampiri Kiki yang masih berdiri di tempat yang sama. Tidak terlalu jauh dari pintu Liv rumah, kurang lebih berdekatan dengan ruang tamu(ruang utama rumah).
"Bang ngapain berdiri di sini?",tanya Gaza yang sudah berdiri tidak terlalu jauh dari Kiki. Belum sempat mendapatkan jawaban Kiki lagi-lagi mendapatkan pertanyaan dari Gaza."Bryan tadi keluar mau nongkrong. Sudah izin Abang?".
"Bryan?".
"Iya".
"CK! Kenapa lagi anak itu?",Kiki yang justru meninggikan nada bicara marah. Ia segera merogoh kantong celana mencari benda pipi di sana.
Dalam keadaan marah Kiki menyalahkan layar handphone untuk mencari nomer kontak Bryan. Satu, dua, hingga tiga panggilan tidak kunjung mendapatkan balasan dari Bryan. Membuat Kiki semakin naik fital.
Alhasil ia mencari nomer kotak lain di sana untuk secepatnya ia hubungi melalui panggilan telfon suara.
Di tengah-tengah keresahan nya,"Bang maaf, aku mau pamit pulang".
"Iya hati-hati, titip sama buat Vania dan kedua orang tua mu",kata Kiki tanpa melihat lawan bicaranya karena terlalu fokus menunggu jawaban panggilan telfon dari seberang sana.
'Anjing, banyak sekali jejak kakinya'pikir Bryan sebelum melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam hutan belakang bukit.
Hujan rintik-rintik juga membuat jalanan di depan menjadi sangat becek dan licin. Sehingga tidak sulit untuk Bryan melihat ada berapa banyak orang yang baru saja melewati jalan yang akan ia lalu ini.
Antisipasi hal-hal yang buruk. Bryan dengan hanya berbekalkan keberanian mulai melangkah masuk seorang diri ke dalam hutan belakang bukit ini.
__ADS_1