
Seharusnya tidak sampai seperti ini. Akan tetapi keduanya sudah kalap dengan amarah nya masing-masing. Membuat kedua enggan menyudahi perkelahian sebelum salah satu dari mereka kalah. Sampai pada akhirnya salah satu dari mereka berdua tumbang karena sudah cukup sampai di sini batasan kemampuan nya.
Keduanya adalah sahabat akrab sejak kecil akan tetapi karena kesalahan salah satu dari mereka keduanya menjadi musuh. Yang mustahil untuk bisa di ubah. Bahkan karena itu keduanya akhirnya menjadi rival yang mustahil akan akrab lagi.
Walaupun begitu salah satu dari mereka berdua sebenarnya sangat enggan untuk berbuat lebih, karena ia masih sangat menghargai persahabatan ini.
Namun Vernon yang sudah dibutakan amarah enggan untuk menyudahi perselisihan ini. Bahkan setelah ia di hajar habis-habisan oleh Kiki sekalipun. Vernon tetap pada pendiriannya, dan tidak akan pernah mengubah pendirian.
Sesaat setelah perkelahian itu. Kini Vernon sudah berdiri di hadapan Kiki dengan jarak 5cm. Tatapannya menjadi sangat dingin juga tajam pada Kiki. Tidak ada tatapan menatap seorang sahabat di sana, ia hanya menatap Kiki dengan penuh kebencian.
"Sudah tau siapa pembunuh Abang lu, tapi lu tetap baik pada nya",Vernon tersenyum miris."Sangat menyedihkan bro, lu di buatkan cinta".
Kiki dengan gelagat tetap tenang,"Bukan cinta",potongnya."Namun pendirian gue mengatakan, sebagai sahabat nya gue harus bisa memahami diri nya yang jauh lebih terluka dari pada kita".
"Hah!Kita??".
"Lu bukan Kita".
"Terserah. Yang jelas lu tidak pernah mengetahui apapun pengobatan yang telah dia lakukan",kata Kiki terfokus menatap lawan bicara.
Vernon tertawa renyah,"Uhahahhakkk.....gue tidak perduli. Nyawa tetap harus di balas dengan nyawa",berganti menatap tajam elang lawan bicara nya."Apapun akan ku lakukan untuk membunuh nya".
Vernon berlalu pergi dari sana meninggalkan Kiki yang masih terdiam di tempatnya berdiri. Sakit rasanya melihat sahabatnya berubah sangat jauh. Dan ia menjadi orang yang paling gagal menarik sahabatnya keluar dari dalam kegelapan. Itulah yang membuat Kiki sangat menyalah dirinya sendiri. Sahabatnya sudah benar-benar berada sangat jauh dari nya, ia bukan lagi sahabat nya yang dulu. Sahabatnya sudah termakan ambisi balas dendam.
__ADS_1
Kehancuran hati nya ikut di rasakan oleh alam semesta. Yang ikut menangis melihat sulitnya berada di posisi Kiki.
Hujan rintik-rintik berjatuhan sampai akhir menjadi sangat deras sekali. Kilat petir juga angin bergerak tidak menentu. Menghasilkan hujan badan yang sangat menakutkan.
++++++
Lap....Jedarrr.....Kilat petir menyambar menghasilkan suara guntur yang sangat menakutkan.
Vlora yang baru saja sampai di kediaman rumahnya berjalan mendekati sova menaruh tas ransel sekolah di sana. Ia hendak berganti pakaian. Akan tetapi atensi mata terfokus pada pintu kaca balkon kamarnya yang tertutup tirai tipis. Ada bayang seseorang tengah duduk di sana. Terlihat sangat jelas saat kilat cahaya petir menyambar.
Menyadari betul itu siapa. Vlora bergerak cepat berjalan ke sana. Membukakan pintu untuk seseorang di luar sana yang tengah kedinginan di luar.
Pakaian yang di kenakan Kiki benar-benar sangat basa kuyup. Walaupun ia sudah berteduh di teras balkon kamar Vlora,"Ki".Panggil ku.
"Kalau kehujanan kenapa tidak langsung pulang, malah mampir ke sini",omel ku pada Kiki yang masih terduduk mendekap tubuhnya yang basah di sana. Wajah yang sudah sangat pucat menengok melihat ku.
Vlora menuntut Kiki untuk masuk ke dalam kamar mandi. Selepas ia mengambil pakaian ganti untuk Kiki. Yang seenggaknya muat untuk Kiki kenakan. Sebelum akhirnya ia tinggalkan Kiki sendirian. Membiarkan Kiki berganti pakaian.
Sesaat kemudian, ia keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang sudah berbeda. Kaos biru oblong bergambar Doraemon besar di depan, dengan celana panjang oblong abu-abu tua.
Ia berjalan duduk di sova untuk menghangatkan tubuh. Namun mustahil untuknya hangat walaupun ada di dalam kamar. Karena Vlora menyalah pendingin AC sangat dingin sekali 13c. Benar-benar sangat dingin. Kiki benar-benar merasakan tulang rusuknya ikut membeku.
Merasa sangat tidak kuat lagi. Kiki beranjak dari tempat duduknya untuk berkeliling mencari remote AC. Walau lancang Kiki benar-benar sudah tidak perduli, lebih baik ia di marahin Vlora dari pada dirinya harus mati membeku di dalam kamar ini.
__ADS_1
Sampai akhir pintu kamar terbuka,"Anjing!!".Bentak Vlora yang membawa dua gelas minuman hangat. Dan beberapa camilan dalam gendongan tangannya.
"Lu maling?",tatapan tajam tertuju pada Kiki yang membuka laci lemari samping tempat tidurnya.
"Tidak monyet",belas Kiki,"Lu tidak lihat AC lu berapa derajat".
"Terus?",tanya balik Vlora santai.
"Gue kedinginan monyet".
"Hem",memberikan salah satu gelas pada Kiki."Minum biar hangat".
"Mana bisa hangat tol**ol, sementara AC lu tidak wajar",marah kesal Kiki masih berjongkok di sana.
Masih menyodorkan gelas tadi pada Kiki,"Ambil dulu bang***sat....lu tidak mau?".
Masih marah, akan tetapi tetap menerima pemberian dari Vlora.
Dengan santainya aku berkata,"Gue tidak punya remote-remote apa itu, remote AC, gue tidak punya".
Mendengar jelas ucapan itu,"What bit***ch??!",sampai Kiki hampir di buat tersedak oleh minum hangat yang ia minum.
"Huhahahh......siapa suruh datang ke kamar gue. Rasakan sendiri sensasi kedinginan".Vlora tergelak tawa terbahak-bahak berjalan berlalu pergi meninggalkan Kiki.
__ADS_1
Ia menaruh gelas miliknya di atas meja depan tv. Sebelum akhirnya ia susul berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian yang sempat tertunda.
Lalu bagaimana dengan Kiki?Pemuda itu masih berjongkok di tempat yang sama sembaring menggenggam gelas berisikan minuman hangat dengan kedua tangan. Bisa di katakan sepertinya Kiki sangat syok dengan perkataan Vlora barusan.