
Hari-hari pun berlalu dengan normal. Sampai pada suatu seketika. Di jalanan di salah satu daerah di Kota G. Jalanan yang hanya bisa di lewati dengan berjalan kaki.
Di sana Vlora berlari sekuat tenaga. Berlari-lari terus berlari. Mengejar seseorang misterius di depan sana yang harus segera ia dapatkan.
Kreakk.....Kreakk......Dengan gerakan parkour yang lincah Vlora berhasil melukai lengan seseorang misterius itu dengan pisau dalam genggaman tangan nya.
Sayangnya walaupun berhasil melukai seseorang misterius itu. Vlora tetap kehilangan seseorang itu, karena ia jauh lebih pintar dari yang Vlora perkirakan.
Seseorang itu meledakkan bom asap membumbung perhatian Vlora hilang. Tepat setelah asap-asap itu hilang seseorang yang terluka di hadapan sudah hilang dari perhatian nya.
"Bit***ch",umpat kesal ku.
+++++++
+++++
Keesokan harinya masih berjalan dengan normal. Namun di malam hari nya. Sesuatu yang janggal membuat Vlora bertanya-tanya, akan tetapi Vlora engan untuk menanyakan ataupun menjelaskan nya.
Jadi di malam ini. Kiki yang sudah beberapa hari kemarin tidak pernah datang lewat balkon kamarnya. Tiba-tiba di hari ini, iya datang lewat balkon kamar nya. Seperti biasa Vlora membukakan pintu kaca kamar nya untuk mempersilahkan Kiki masuk.
Baru selesai menaruh sepatunya dengan benar,"Buset di luar dingin banget Yet".
Pakk......Tanpa basa basi Vlora langsung menampar keras lengan Kiki. Membuat Kiki sangat menyeringai kesakitan. Padahal itu hanya tamparan kecil.
Membuat Vlora teringat dengan luka yang ia buat pada seseorang misterius tempo hati itu. Vlora langsung menurunkan paksa jaket yang Kiki kenapa sampai memperlihatkan lengan tangan kiri nya.
Aku yang sudah terfokus melihat luka yang sudah berbalut perban luka,"Luka apa ini?".
"Luka bakar karena minyak goreng",balas Kiki tenang.
Namun Vlora menatap heran Kiki.
"Apa?Mau lihat?",mendapati Vlora yang tetap terdiam membuat Kiki melepaskan sebagian jaketnya. Memperlihatkan singlet lengan pendek hitam yang ia kenakan.
Berlahan-lahan Kiki buka sendiri perban luka yang sudah terpasang rapi itu. Untuk memperlihatkan nya pada Vlora yang entah kenapa seperti menyimpan kecurigaan padanya. Ia bahkan menatap dirinya seperti seseorang asing yang baji**"ngan.
Berhasil membuka perban luka membiarkan Vlora melihat nya,"Kemarin adik gue belajar masak, dia beli ikan gurame. Kebetulan gue di rumah, dia meminta gue untuk membantu nya masak karena kak Ifan yang di minta bantuan ada urusan mendadak di tempat kuliahnya yang tidak bisa di tinggalkan".
"Eh pas ikan itu nyemplung adik gue lupa tiriskan dulu airnya. Ikan yang baru keluar dari air bumbu langsung ia masukan ke dalam wajah yang apik nya kegedean pula",jeda Kiki mengambil nafas."Dan bom-bom lah, di mana-mana".
"Tapi syukurlah dia tidak papa, iya hanya gue saja nihh yang paling terluka lecet".
"Btw kenapa lu menatap gue seperti itu saat pertama kali melihat perban ini?".
"Apa terjadi sesuatu kemarin?".
"Yun, monyet gue di abaikan",kesal Kiki.
Baru tersadar dari lamunannya,"Biasa tadi abaikan".Aku yang hendak kembali melanjutkan belajar nya.
"Woy Yet",Panggil Kiki.
"Hemm...",tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Bantu gue memperbaiki perban luka gue Monyet. Kalau gue pulang dalam keadaan seperti ini bakal ngomel-ngomel adik gue seperti ibu".
Menahan tawa sebelum akhirnya meledak tertawa terbahak-bahak. Melihat wajah penuh kepasrahan. Namun pada akhirnya Vlora membantu Kiki memperbaiki perban luka yang sudah terlepas.
__ADS_1
Terfokus memperhatikan kedua tangan yang tengah sibuk memperbaiki perban luka nya,"Yun".
"Hemm".
"Tidak terjadi apa-apa kan Yun beberapa terakhir?".
"Tidak".
"Lagian sakit apa lu?Sampai satu Minggu tidak masuk sekolah",tanya ku pada Kiki yang memang berapa hari kemarin tidak menghadiri kelas belajar mengajar tatap muka.
"Tipes gue kambuh Yet. Vernon kan sudah tau, dia tidak bilang ke lu?".
"Vernon juga tidak masuk sama seperti lu, tapi bedanya dia tidak meninggalkan surat keterangan apapun".
"Alpha?".
"hmm".
"Kenapa dia, tidak seperti biasa?".Gumam Kiki entah bertanya pada siapa.
Selesai memperbaiki perban luka Kiki. Vlora yang hendak beranjak dari tempat duduknya di hentikan oleh Kiki.
"Bentar Yun".
Vlora kembali duduk tanpa paksaan di tepi tempat tidurnya. Menunggu ucapan selanjutnya Kiki.
"Kau sudah mengetahui tentang kebenaran nya?".
"Tentang apa?".
"Kematian Ana".
"......".
"Emang kenapa?".
"Pasti sakit Yun. Mengetahui kebenaran nya".
"Lu sudah tau penyebab kematian Abang lu, Ikbal?".
Mengangguk ringan,"Sudah dari dulu".
"Bagaimana respon lu setelah mengetahui nya?".
"Marah, sakit juga sepi kehilangan sosok resek di rumah".
"Kalau gue justru menyalahkan diri gue sendiri",melihat tempat ia biasa belajar."Karena diri gue Ana sampai harus mengorbankan kehidupan nya". Cukup lama hening sunyi terdiam.
Aku berpaling melihat Kiki yang ternyata tengah memperhatikan dirinya sembaring tadi,"Di sisi lain gue juga bangga memiliki teman sekuat dan seberani dirinya. Karena itulah gue berkeinginan kuat untuk tetap berjuang".
"Hebat",ujar Kiki ikut tersenyum senang.
Suasana kembali hening. Baik Vlora ataupun Kiki kembali sama-sama terdiam membisu. Di tempat yang masih sama.
"Apa cita-cita lu di masa depan?",tanya Kiki tiba-tiba pada Vlora.
Tanpa menatap lawan bicara nya, setelah berpikir sejenak."Tidak ada...tapi keinginan yang indah ada".
__ADS_1
"Apa itu?".
"Ingin memiliki keluarga kecil yang harmonis, bahagia, jauh dari ini semua",kata ku masih tanpa melihat lawan bicara ku. Bernada bicara rendah aku berkata,"Keluarga ku sudah hancur. Aku selalu berharap semoga Tuhan memberikan aku pasangan yang keluarganya bisa ngasih aku rasa yang selama ini belum pernah aku rasakan".
"Lu katanya mau datang ke rumah gue kapan Yet?",tanya sewot Kiki merubah suasa sedih ini menjadi iya begitu.
Menatap datar kesal,"Anjing lu".
"Gue serius, adik gue sama ibu gue nyari lu bang***sat".
"Besok-besok lah".
"Dasar monyet".
"Anjing lu",umpat ku tidak kalah kesal.
"Sabar-sabar Yun, sabar. Tua sebelum waktunya bahaya Yun".
"CK",Aku beranjak dari tempat duduk ku untuk menyambung belajar yang tertunda cukup lama sekali.
Melotot mata kaget karena kakinya berbelit membuat nya kehilangan keseimbangan menyangga tubuh nya. Kiki yang masih di sana cekatan meraih pergelangan tangan Vlora menarik nya agar tidak sampai terjatuh.
Bugkk.....,"Aduh merekat kuat kayaknya".
Masih berada di atas tubuh Kiki,"Apa anjing?".
"Perban luka gue", tersenyum masam sekaligus menahan peri. Karena apa?Karena tangan Vlora menahan menekan lengan kiri Kiki cukup kuat.
Mengangkat tangannya cepat menjauhkan dari sana,"Sorry gue sengaja".
"Monyet lu".
Huahahahah......tawa Vlora belum engan beranjak dari tempat nya duduk.
Menatap datar,"Cari duduk yang benar, lu duduk di sini. Aduhh.... ibu, putra mu di rusak".
Beranjak bangun dari duduk nya cepat,"Anjing lu".
"Tapi serius tadi enak. Punggung gue kayak bunyi keretak-retak gitu".
"Wah tua".
Terfokus pada lawan bicara,"Serius Yun, coba lagi deh".
"Mesum".
"Iya tidak gitu Yun. Cuma tekan saja sama tangan lu punggung gue. Lu kan punya tangan Yun, pijitin gue maksud nya".
"Babu".
"Eh Yun, gue bela-belain ke sini di saat gue sebenarnya masih kurang enak badan",di susul senyum Cengengesan nya.
"Siapa suruh?".
"Jahat bener lu Yun".
"Emang jahat".
__ADS_1
"Astaga Yun".
".....".