
Belum selesai dengan masalah nya. Vlora yang sudah sangat tidak tahan lagi justru harus terhenti kembali karena kerumunan di pintu masuk toilet ini. Yang menghalangi jalan masuk ke dalam toilet.
Lelah tidak mau ambil pusing atau lebih tepatnya tidak ingin memikirkan ada apa di dalam sana. Vlora menerabas saja agar lekas memutus semuanya secepatnya.
Berhasil menerabas kerumunan ini. Langkah kakinya justru terhenti di tempat mematung.
Salah seorang perempuan di sana yang melihat kehadiran Vlora,"Wahh ternyata bukan keberuntungan mu",ujar Stella yang ternyata ada di dalam toilet ini bersama dengan komplotan nya sedang menyungging senyum sinis pada Vlora.
'Sial sekarang apa lagi',batin ku sangat kesal karena tujuan ku harus tertunda. Dan kesalnya aku harus menahannya.
Kekesalan semakin komplit saat melihat teman sebangku nya terlihat sangat kacau sekali di sana. Pakaian yang basah dan sobek di beberapa bagian.
Vlora berjalan mendekat melepaskan kemeja yang melingkar di pinggang nya untuk ia kenakan pada tubuh perempuan ini,"Kaca mata mu di mana?".tanya ku melihat dia yang sangat terlihat kesulitan sekali untuk melihat.
__ADS_1
Belum mendapatkan jawaban dari perempuan yang sangat ketakutan ini. Tiba-tiba saja ada tangan yang menarik surai rambut Vlora membuat surai rambut panjang ini tergerai.
Gerakan cekatan Vlora langsung menarik tangan ini agar lepas dari surai rambut. Memelintir tangan panjang ini sebelum akhirnya ia dorong kasar tubuh pemilik nya, sampai pemilik membentur pintu salah satu toilet hingga tubuh hampir masuk ke dalam toilet.
Kedua temannya tidak tinggal diam, mereka berdua juga langsung menyerang Vlora bersama. Dan lagi-lagi Vlora melumpuhkan mereka berdua dengan sangat mudah tanpa harus memperlihatkan gelagat sebenarnya identitas nya.
Melihat mereka berdua sama seperti bos nya yang masih meringkuk kesakitan di dalam toilet. Vlora segera mendekati perempuan yang masih terduduk di lantai toilet. Ia segera membantu perempuan ini beranjak berdiri kembali. Walaupun sulit karena lututnya terluka, di tambah dengan pergelangan kaki kirinya tergilir dengan sepatu yang entah hilang ke mana.
Vlora menuntut perempuan ini keluar dari tempat ini. Vlora juga meminta mereka yang lihat untuk tidak terlalu ramai, atau para dosen dan keamanan kampus turun tangan. Hal itu pasti akan berbuntut panjang. Syukur nya beberapa perempuan yang berkerumun melihat mengiyakan permintaan Vlora, dan berjanji.
"Dia kenapa? Lukanya harus segera di obati, kenapa tidak di bawah ke ruang kesehatan kampus".
"Sahabat saya tanpa sengaja terjatuh di tangga saat terlalu asik bercanda",kata ku."Karena saya sahabat terbaik nya, saya memutuskan untuk membawanya langsung ke rumah sakit terdekat".
__ADS_1
"Baiklah pak permisi, sahabat saya harus segera bertemu dokter".Aku yang secepat melanjutkan perjalanan dengan masih menuntut perempuan ini berjalan berlahan-lahan.
Dan syukurlah dosen itu langsung membiarkan nya pergi tanpa basa basi lagi.
Sampai di parkiran mobil tepat di samping mobil nya yang pintunya sudah terbuka untuk mempersilahkan perempuan ini masuk. Namun perempuan ini justru terdiam seakan-akan menolak untuk naik ke dalam mobil Vlora.
"Kenapa?".Tanya Ku terfokus pada perempuan ini. Namun setelah di tanya ia masih saja tetap terdiam,"Hey! Jika kau hanya diam saja aku tidak akan mengerti".
"Jadi tolong katakan kenapa kau tidak mau naik sementara luka-luka mu harus segera di obati dan pakai mu harus segera di ganti",kata ku panjang lebar tidak seperti biasanya yang singkat simpel.
Menghela nafas kasar di kala perempuan ini hanya terdiam tertunduk ketakutan.
Menggenggam kedua bahu yang langsung menegang kaget,"Tidak perlu takut, aku bukan mereka",ucap ku."Cepat naik kamu akan baik-baik saja, percaya pada ku".
__ADS_1
"Ayo cepat naik",aku yang sedikit memaksanya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Vlora bergegas ikut masuk ke dalam mobil, ia mulai menyalakan mesin mobil untuk tancap gas meninggalkan pekarangan parkiran kampus. Mengantarkan perempuan yang saat ini bersama nya untuk berobat terlebih dahulu.