
Setelah semua yang telah Bryan alami dalam waktu satu hari. Dari mulai hilang keberadaan ayahnya sampai penyerangan yang menyebab adik keduanya harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Membuat Bryan segera bertindak secepatnya, ia sudah mengerahkan beberapa orang khusus untuk mencari keberadaan ayahnya.
Sembaring menunggu kabar dari orang-orang suruhan nya. Bryan yang telah mendapatkan petunjuk lain dari Juan secepatnya mencari informasi itu lebih dalam lagi.
Singkat cerita Bryan dan Juan pergi ke kampus tempat keduanya dulu berkuliah. Di tempat itulah Bryan akan mendapatkan informasi lebih dalam tentang seseorang yang Bryan dan Juan curigai, jika pun Bryan mendapatkan nya.
Juan yang fokus pada buku bio data para siswa kejuruan angkatan Bryan,"Bry dapat",ucap Juan.
Bryan lekas mendekat untuk melihat bio data seseorang yang ia cari yang telah di ketemukan olah Juan.
"Sial Bry! Alamat rumahnya berlubang",Juan yang melihat bagian tulisan bio data alamat kediaman seseorang ini telah sengaja di rusak untuk menutup sesuatu.
"Mettionar Zion Williamson",sebut Bryan membaca nama lengkap mahasiswa ini.
"Rumah lama keluarga alpha, baji**ngan itu ada di sana",kata Bryan melihat Juan dengan tatapan kosong yang mematikan.
Bryan bergegas pergi tanpa meninggalkan Juan yang belum berkesempatan untuk menghentikan Bryan.
Lantas karena tidak tau harus melakukan apa lagi. Karena apa yang baru saja Bryan katakan berarti ada kemungkinan besar Bryan akan masuk ke dalam kandang singa yang tertidur.
Jika menyusul Bryan, ia pun hanya akan semakin mempersulit Bryan. Hingga akhir Juan memilih untuk menelfon ayahnya. Sebelum akhirnya ia bersikeras untuk menyusul Bryan seorang diri sembaring menunggu bala bantuan menyusul nanti.
+++++++
__ADS_1
Mobil milik Bryan berkendara dengan kecepatan tinggi menyelip-nyelip beberapa kendaraan tanpa memperdulikan resiko terbesar yang akan dirinya tanggung.
Dari pada mencemaskan keselamatan nya Bryan jauh lebih mencemaskan keselamatan Kiki. Sejak sepeninggal Vlora, hanya kiki seorang lah satu-satunya orang tua yang ia dan adik-adik miliki sekarang.
Perhatian yang lurus melihat ke depan dengan tatapan tajam berkaca-kaca memerah. Bryan begitu sangat fokus mengemudikan mobil sebaik mungkin.
Setelah siuman sejak tadi siang hingga saat ini Afif hanya terdiam melamun seorang diri melihat langit-langit kamar rawat inap nya. Sampai ia tidak menyadari kehadiran Aftar yang sudah duduk di kursi samping ranjang pesakitan nya.
Ikut mendongak melihat langit-langit kamar,"Lihat apa bang?"tanya Aftar membuat lamunan Afif seketika buyar.
"Tidak ada",balas Afif dingin seperti biasa.
Aftar yang kini terfokus melihat lawan bicara,"Sebenarnya ada apa Bang? Semenjak penyerangan rumah waktu itu. Yang membuat bunda akhirnya pergi meninggalkan kita. Kenapa sikap Abang berubah? Abang lihat sesuatu yang tidak aku lihat waktu itu?".
"Sikap gue berubah karena keinginan, perubahan ini bukan karena kejadian di waktu itu",jelas Afif singkat pada bernada tenang."Lu kenapa panggil gue Abang?Katanya lidah lu jerawatan kalau panggil gue Abang".
"Idih! Gitu salah gini salah. Gue cuma mau berusaha bersikap menghormati lu yang lebih tua dari gue",Aftar membela diri."Dan jangan mengalihkan pembicaraan"lanjutnya
"......".
Tidak seharusnya rumah ini terlihat sangat sunyi sepi. Karena keadaan itu membuat Bryan melangkah cepat masuk ke dalam mansion dengan tetap berhati-hati.
Rumah besar keluarga Alpha, keluarga mantan mafia yang paling kejam dan paling di takuti di masanya.
__ADS_1
Mansion ini sangat besar dan luar bahkan untuk di sebut sebagai rumah. Mansion ini sangat tidak layak karena kualitas nya terlalu mewah dari pada hotel penginapan yang mewah.
Mansion atau rumah tinggal yang terlihat sangat bersih dan rapi. Walaupun tidak ada seorangpun yang menempati setelah kejadian kelam pembantaian keluarga cabang di masa lalu.
Setibanya di ruang tengah kediaman mansion ini. Bryan sudah tidak melihat satu orangpun berada di dalam rumah ini. Bryan hanya mendapatkan selembar kertas yang di taruh di atas meja yang beralaskan jas abu-abu tua.
Tangan kanan yang menggenggam erat jas abu-abu tua ini. Tangan kiri yang memegangi selembar kertas yang bertuliskan.
*Balas dendam ku sudah di mulai.
^^^Zion*^^^
Membaca itu Bryan yang sangat marah langsung meremas selembar kertas itu sampai menjadi bola kertas kecil. Dan melemparkannya asal tempat.
"Sedikit kau melukai ayah ku habis ku baji***ngan",kata Bryan bernada berat tidak main-main dengan ucapan nya, serius.
Juan yang baru saja sampai berlari tergopoh-gopoh untuk segera masuk ke dalam rumah. Di saat sudah menemukan Bryan ia hentikan langkah kakinya tidak terlalu jauh dari tempat Bryan berdiri membelakangi nya.
"Beritahu mereka untuk secepatnya melacak keberadaan Zion",perintah Bryan pada Juan.
"Iya",Juan langsung menyetujui keinginan Bryan tanpa basa basi terlebih dahulu.
__ADS_1