
"Afif",seru bahagia Kiki menyambut kepulangan Afif setelah bertahun-tahun pergi untuk menempuh pendidikan di negara orang.
Kiki memeluk hangat Afif putra kesayangannya. Untuk melepas rindu selama bertahun-tahun berpisah.
"Lebih tinggi dari ayah",ucap Kiki tersenyum haru menepuk bahu kekar lelaki di depan.
"Udah lebih tinggi dari bang Bryan juga",di susul tawa renyah nya.
hahahhh.......
Menghela nafas berat,"Sudah pergi ke makam?".
"Sudah Yah".
"Ayo makan siang di luar, sekalian jalan-jalan sebentar",ajak Afif pada ayahnya.
"Baiklah".
Afif mengajak ayah nya pergi keluar rumah bersama untuk sekedar jalan-jalan juga makan siang di luar.
Setibanya di luar. Afif sengaja memarkirkan mobilnya di penitipan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki bersama ayahnya untuk menikmati suasana siang hari Kota G yang rimbun akan pepohonan juga rimbun akan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi-tinggi.
Sepanjang hari sampai menjelang sore hari keduanya habiskan bersama-sama. Bahkan saat menjelang malam. Afif masih menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah Zalfa agar bisa bertemu dengan Binzo.
__ADS_1
Sesampainya di sana di karenakan Kiki sudah berkabar dulu. Saat sampai di sana Zalfa sudah siap menyambut keduanya dengan menu makan malam yang enak-enak.
Sebenarnya setelah pertemuan pertama Zalfa dengan kakek dari anaknya. Zalfa di tawarin untuk tinggal bersama mereka di mansion. Namun Zalfa menolak dengan alasan, ia tidak bisa meninggalkan rumah lamanya yang penuh kenangan semasa kecil di sana. Juga karena keluarga Bryan sudah cukup berjasa untuk kehidupannya. Walaupun Bryan tidak menikah nya, tapi Bryan memberikan hak untuk nya dan anak hidup. Dan hak yang telah di berikan oleh Bryan berjumlah cukup fantastis. Jika pun mau Zalfa bisa membeli rumah sendiri jauh lebih besar dan mewah dari mansion kediaman rumah Bryan. Tapi sampai sekarang Zalfa tetap enggan dan memilih untuk tetap mempertahankan rumah lamanya tinggal bersama putra satu-satunya Binzo. Dan menjalankan bisnis kecil-kecilan membuka cafe.
"Selamat malam Opa",sapa Binzo dengan ramah pada kakek nya.
"Malam cucu ganteng Opa",merangkul bahu Binzo,"Minggu kemarin kenapa tidak ke rumah?".
Tertawa renyah,"Hehehe....maaf Opa, aku cidera di kaki kemarin. Bunda menyuruhku untuk beristirahat di rumah".
"Cidera?", berpaling melihat ke arah Zalfa."Kenapa tidak telfon?".
"Hanya cidera kecil Ayah. Lagian Binzo anak yang kuat beberapa hari saja dia sudah sembuh".
"Mungkin tidak kuat, tapi keras kepala",sahut Afif yang baru memasuki rumah."Seperti ayahnya".
"Iya".
"Kapan pulang om?".
"Di lanjutkan nanti ngobrol nya ayo makan dulu, sayang kalau keburu dingin makanannya",ajak Zalfa kepada pada laki-laki ini.
Sesaat setelah makan malam selesai dan Binzo selesai membantu bundanya membereskan dapur. Binzo pergi lebih dulu ke ruang tamu menyusul Kiki dan Afif yang sudah ada di sana sejak selesai makan malam tadi.
__ADS_1
"Ikut kegiatan apa di sekolah sampai cidera kaki?",tanya Afif pada Binzo yang baru duduk di samping Kiki.
"Basket, Silat, dan pedang".
"Pedang bukan kegiatan sekolah tapi kegiatan ku dengan Opa",kata Binzo tersenyum sumringah pada Kiki senang.
"Ternyata ayah lebih akrab dengan cucu ayah dari pada diriku",menyipitkan kedua manik matanya menatap Kiki.
Kiki yang melihat ekspresi wajah Afif hanya bisa tergelak tawa lucu.
"Kamu sudah umur 10 tahun",tebak Afif.
"Bukan Om, aku 9 tahun".
"Tapi sudah banyak iya kegiatan yang di ikuti, tidak capek?".
Menggeleng ringan,"Tidak, justru kalau diam saja rasanya capek sekali".
"Aneh",
"Binzo beda sama kamu Afif",kata Kiki."Binzo fisik Aftar, mental otak Bryan".
"Aneh! Anak bang Bryan tapi ada gen Aftar di sana",Afif menyangga dagunya berpikir keras.
__ADS_1
Binzo menyodorkan sedikit tubuhnya ke depan. Lalu berkata berbisik,"Bunda ku kuat seperti Hero women, pekerja keras. Turun dari bunda".
Afif yang mendengarkan manggut-manggut faham saja. Toh dia tidak mengenal dengan baik sifat asli Zalfa. Kakak iparnya.