
'Aku harus keluar dari sini. Tapi bagaimana caranya. Pintu keluar utama gerbang depan hanya bisa di buka dengan dena baji***ngan itu. Aku juga terikat di sini, sial, sial',pikir ku yang sudah lelah dan sangat ingin memberontak melepaskan diri dari ikatan tali ini.
Namun setelah berjam-jam berusaha sampai pergelangan kedua tangan sudah terasa sangat perih. Vlora tetep tidak kunjung bisa lepas dari ikatan tali ini. Boro-boro lepas dari tali yang melilit kedua tangan saja ia tidak bisa. Lalu bagiamana dengan tali yang melilit tubuh nya.
Lima jam berlalu. Dan Vlora tetap berada di tempat yang sama. Sampai seseorang tiba-tiba saja membuka pintu kamar ini. Vlora sudah menyakini itu adalah Sion. Alhasil ia tidak tertarik sedikitpun untuk melihat ke arah seseorang yang sudah melangkah kakinya masuk ke dalam kamar.
Benar jika itu adalah Sion. Laki-laki itu berjalan mendekati Vlora melepaskan ikatan tali yang mengikat kedua tubuh Vlora pada kursi yang ia duduki satu persatu.
Sampai akhir Sion yang sudah berdiri tidak terlalu jauh di depannya. Melemparkan sebuah jaket polos berwarna hitam ke arah nya.
Vlora memegang jaket itu. Dan ia langsung mengetahui siapa pemilik jaket hitam polos ini. Dari aroma wewangian yang masih melekat di kain jaket ini. Aroma yang tidak pernah jauh darinya.
Lantas aku langsung mendongak menatap tajam Sion,"Kau apakah Kiki?".
"Tentu saja ku bunuh",balas dengan nada bicara entengnya Sion."Sayangnya aku tidak membawakan bangkainya ke sini".
Beranjak dari tempat duduknya, aku menyungging senyum miring pada Sion."CK!Pandai sekali kau merangkai kata-kata untuk membuat ku takut".
Sion terdiam memperhatikan Vlora.
"Anjing hanya bisa mati di tangan majikan nya. Dan kau?Kau bukan majikan nya. Kau hanya sampah tidak berguna yang berusaha merangkai kata-kata kebohongan untuk mengelabuhi majikan anjing itu, agar beranggapan peliharaan nya telah mati. Supaya majikan nya lekas mencari pengganti anjing yang baru",kata ku terfokus menatap Sion.
"Hemm..hahhahh......",tertawa renyah menyilakan surai rambut yang hampir menutupi mata nya."Pandai sekali istriku..",masih dengan tertawa renyah.
Akan tetapi di tengah-tengah tawa menggema Sion. Vlora justru tiba-tiba saja tertekuk lutut di depan Sion. Seperti nya apa yang di lakukan Vlora bukan karena murni keinginan nya. Karena di posisi itu juga tangan kanan Vlora tergerak memegangi lehernya. Sementara tangan kirinya tetap memegangi jaket milik Kiki.
Semakin lama pandangan Vlora semakin tertunduk sujud. Ia terlihat semakin ke sulit bernafas. Sampai dirinya terbatuk-batuk agar bisa tetap bernafas.
Apa yang terjadi dengan Vlora? Dia tidak pernah memiliki riwayat penyakit asama.
__ADS_1
Berjongkok di depan nya,"Sial kau hampir membuat kami mati ketakutan".Kata Jay pada Kiki.
Kiki yang tengah terduduk di atas tanah hanya dengan mengenakan singlet hitam dengan beberapa luka gores di lengannya. Bekas luka setelah ia berhasil lolos keluar dengan selamat dari dalam tambang emas yang saat ini sudah rasa dengan tanah.
Berpaling menatap datar Jay di depan nya,"Ada seseorang yang sengaja meledak tambang emas itu",
"Bukan kau yang melakukannya",kata Fazlur ikut bergabung mengambil topik pembicaraan.
Tersenyum miring,"Sudah ku duga hal ini akan terjadi. Tapi syukurlah kau baik-baik saja".Jay beranjak dari tempat nya jongkok."Lebih baik kita segera pergi sebelum pihak berwajib datang".
"Tunggu!",Fazlur menghentikan pergerakan kedua rekannya."Jaket Kiki tertinggal di sana".
"Tidak ada yang tertinggal",Jay yang menatap menyakinkan pada Fazlur.
Next......
Sesuatu itu adalah sebuah remote control untuk kalung yang Vlora kenakan. Menyadari itu Vlora berusaha melepaskan kalung ini dari lehernya. Namun gagal, kalung ini justru semakin kuat melekat pada lehernya.
Di saat Sion sudah menyudahi menyiksa Vlora. Sion pegang dagu Vlora agar perhatian Vlora terfokus melihat dirinya.
"Jangan terlalu keras honey",di susul senyum sengit nya untuk Vlora.
Sion tergerak lebih mendekat lagi pada Vlora untuk mengendong tubuh Vlora. Niat hati ingin membantu Vlora. Namun Vlora justru mendorong kasar tubuh Sion. Membuat Sion terdorong kebelakang dan terduduk.
"Lebih baik aku mati dari pada harus menerima bantuan iblis",ucap ku bernada bicara tegas namun terdengar serak.
Sion beranjak dari tempat nya jatuh dan hendak kembali membuat Vlora yang sudah jelas-jelas sangat menolak pertolongan nya.
Alhasil saat Sion hendak melakukan nya kembali dengan sedikit memaksa. Vlora kembali menepis uluran tangan Sion kasar sampai tanpa sengaja membuat luka goresan di pipi Sion karena goresan kuku panjang Vlora.
__ADS_1
Sion terdiam membulatkan manik matanya saat ia merasakan betul jika ada luka gores di pipi nya. Tangan Sion tergerak mengelus pipi yang tergores oleh kuku panjang Vlora.
Melihat cairan pekat merah ada di ujung jarinya. Sion langsung menatap tajam Vlora yang tidak memperdulikan nya.
Sion langsung merai tangan Vlora asal. Menggenggam kuat pergelangan tangan itu, dan menatap tajam Vlora. Vlora yang masih sangat lemah sangat sulit sekali untuk melawan Sion yang jelas-jelas memiliki tenaga lebih besar dari dirinya.
Sion menarik Vlora ke dalam pelukan dan di susul dengan mengangkat tubuh Vlora. Ia berjalan mendekati tempat tidur untuk melepaskan kasar tubuh Vlora ke atas sana.
Vlora sangat ke sakit, ia berusaha untuk lekas beranjak bangun. Akan tetapi kembali lagi kepada keadaan fisiknya yang masih sangat melemah.
Kini Sion yang berhasil menindih tubuh Vlora yang membuat pergerakan Vlora benar-benar terkunci. Oleh Sion yang sangat tau di mana ia harus mengunci pergerakan Vlora yang jago bela diri.
Sion memegangi kedua tangan Vlora menarik tangan itu di atas kepala Vlora dan menguncinya di sana. Membuat Vlora benar-benar tidak bisa melawan lagi.
Sayangnya itu tidak sama sekali membuat sorot mata tajam penuh kebencian Vlora pudar. Karena di posisi sekarang pun Vlora tetap sangat berani tetap menatap langsung sepasang sorot mata marah Sion yang sangat menakutkan.
Sion yang melihat itu pun menyungging senyum sengit pada Vlora."Berani kau",ucapnya dengan tangan nya yang terbebas memegangi dagu Vlora.
Hingga akhir tangan itu menutup kedua mata Vlora. Sementara yang lain sudah berhasil mencium bibir Vlora memaksa Vlora terus menerus sampai akhir membuka mulut nya. Melu****mat bibir Vlora cukup lama berciuman panas sebelum akhirnya Sion turun ke leher.
Bukan sekedar meninggalkan tanda kepemilikan. Akan tetapi Sion justru mengigit leher Vlora sampai mengeluarkan darah begitu banyak Sion baru menyudahi dan melepaskan telapak tangannya yang menutupi kedua mata Vlora.
Membuat Sion bisa langsung mendapatkan tatapan mata Vlora padanya.
Namun di saat inilah Sion justru memilih langsung beranjak bangun dari atas tubuh Vlora. Ia memilih pergi meninggalkan Vlora tanpa mengatakan sepatah katapun pada Vlora.
Sementara Vlora langsung merapikan pakaiannya. Ia memegangi pelan leher yang mendapatkan luka gigi Sion. Di sini ia dapat melihat jika luka nya sangat dalam. Di saat ia melihat sendiri telapak tangan miliknya penuh dengan bercak darah setelah memegangi leher bekas gigitan.
Vlora yang tidak pernah menunjukan kesedihan nya, justru tiba-tiba saja menitihkan air mata. Begitu banyak sampai membasahi pipinya nya, sembaring ia meringkuk memeluk jaket milik Kiki. Satu-satunya barang milik Kiki yang saat ini dapat membawa Vlora tetap terasa dekat dengan pemilik nya.
__ADS_1