
Singkat cerita menjelang sore harinya. Selepas selesai memeriksa penghasilan yang masuk ke dalam saham terbesar nya. Vlora segera tancap gas pergi dari markasnya ke suatu tempat.
Seperti biasa ia pergi seorang diri tanpa membawa sopir walaupun hari sudah menjelang semakin malam. Ia tetap akan pergi sendiri mengendarai mobil Buggati yang biasa ia gunakan.
Sesaat setelah menempuh perjalanan panjang sampailah Vlora di tempat tujuan nya. Ia segera beranjak turun dari dalam mobil setelah selesai memarkir mobil nya dengan baik. Berjalan sejenak untuk masuk ke dalam tangga taman tengah taman Kota.
"Sudah sampai",ucap seseorang pria yang terduduk di ujung tangga atas membelakangi Vlora berdiri saat ini.
"Ada perlu apa?".
"Bagaimana rasanya setelah menghabisi musuh mu?".
"Dia adalah putra ku satunya",masih terdiam di tempat.
"Kiano tidak memiliki orang tua",
Membulat manik mata sempurna menatap lurus ke depan, kaget.
"Kau berpikir aku adalah orang yang membunuh putra mu",ucap ku kembali.
Bakkk......Namun sedetik kemudian tiba-tiba saja ada benda tumpul keras memukul kepala belakang Vlora kuat. Ia sempat berbalik badan melihat ke belakang. Akan tetapi karena pandangan kabur juga kesadarannya yang berlahan-lahan hilang membuat nya pingsan. Saking kerasnya benturan benda tumpul itu di kepalanya.
Terfokus melihat sepasang mata yang masih terpejam di depan nya,"Yun, Yuna, Yuna bangun",panggil seseorang yang saat ini sudah memangku kepalanya.
Sayup-sayup ia membuka matanya untuk melihat suara samar-samar itu. Hingga akhir Vlora langsung melonjak bangun. Namun segera terhenti karena rasa sakit di tempurung belakang kepala masih sangat terasa.
"Jangan banyak bergerak atau kau akan pingsan lagi",ucap seseorang ini membuat Vlora berpaling melihat nya.
"Kenapa kau di sini?",tanya ku pada Kiki seseorang yang saat ini tengah bersama ku."Dan di mana ini?".Melihat sekeliling ku yang di penuhi pepohonan tanpa ada penerangan cahaya, gelap gulita.
"CK bodoh, kau jelas sudah menebak ini di mana",ucap Kiki beranjak dari tempat duduknya."Lebih cepat kita pergi dari sini sebelum para komplotan itu menemukan kita".
__ADS_1
Teringat dengan beberapa menit yang lalu,"Di mana pria itu?".
"Kau hampir di bunuh oleh dia?Dan ku masih mengkhawatirkan dia".
Menatap datar,"Aku tidak mengkhawatirkan nya, aku hanya tanya keberadaan nya".
"Neraka",balas Kiki berlalu pergi lebih dulu."Cepat jalan".
"Mobil ku",
"Kau orang kaya dan itu hanya sebuah mobil".
"Di mana mobil ku?",bernada tegas ku bertanya.
Menghela nafas kasar,"Bang Daniel sudah ku suruh mengambilnya".
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Vlora memilih terdiam sepanjang perjalanan mengikuti langkah kaki Kiki yang berjalan tidak terlalu jauh dari nya.
"Tidak bisa aku harus segera pulang".
"Sekarang sudah malam mencari kendaraan untuk sampai di rumah mu tidak mungkin. Mau jalan kaki besok pagi kita baru sampai".
"Yasudah jalan kaki saja",aku yang melihat berlalu pergi lebih dulu meninggalkan Kiki.
Terfokus memperhatikan kepergian Vlora,"Jadi bagaimana mas?",tanya penjaga penginapan ini.
"Tidak jadi, maaf",Kiki yang segera berjalan menyusul Vlora yang semakin jauh.
Menarik pergelangan tangan Vlora untuk menghentikan langkah kaki,"Kenapa tidak mau menginap di sana?".
"Aku tidak suka".
__ADS_1
Menghela nafas kasar,"Rumah ku dekat dengan daerah ini, kau bisa menginap di rumah ku. Nanti kau bisa beristirahat di kamar adik ku, mungkin Vania tidak akan keberatan".
"Baiklah".
Kiki akhirnya mengajak Vlora untuk datang ke kediaman rumah yang ada di dekat daerah ini. Dekat dengan memakan waktu 2 jam berjalan kaki, ia dan Vlora baru sampai. Saking dekatnya rumahnya.
Jam 10 malam Kiki yang baru saja sampai di kediaman rumah nya menekan-nekan segera membuka pintu gebang, menekan bel rumah beberapa kali agar adik nya membukakan pintu depan.
Setelah pintu terbuka,"Bang Ifan sudah pulang?".
"Belum",terfokus melihat seseorang yang saat ini bersama kakak nya."Kak Hyuna",seru Vania senang.
"Yuna akan menginap di sini. Boleh tidak...",belum juga menyelesaikan perkataan."Sangat boleh",menarik tangan Vlora untuk masuk bersama nya,"Bahagia banget aku hari ini",kata Vania berjalan beriringan dengan Vlora mengabaikan Kiki yang masih terdiam di ambang pintu depan.
Berlalu menutup pintu depan rumah kembali. Sembaring bergumam,"Ini alasan terbesar ku untuk seharusnya memaksa Yuna menginap saja di pondok tadi".
++++++
Vania tengah duduk di meja belajar fokus mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sementara Vlora yang baru saja selesai mandi keluar dari dalam kamar mandi kamar Vania. Berjalan duduk di tepi tempat tidur belakang Vania duduk.
"Sedang mengerjakan apa?".
"Matematika kak, sulit sekali",ucap Vania tanpa melihat sumber suara.
Sampai tanpa Vania sadari Vlora sudah membungkuk di samping nya memperhatikan soal-soal yang tengah ia kerjakan.
"Mudah ini",kata ku berpaling melihat Vania yang saat ini tengah menatap ku."Boleh kakak bantu mengerjakan?".
"Umm...tentu-tentu boleh dong, masak ada yang bantu keluar dari kegilaan tidak mau".
"Hahahh....Mana pensil nya?Kamu lihat, sekalian kakak ajarin",tutur kata ku lembut.
__ADS_1