My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.18 Sadness


__ADS_3

Langit pun ikut bersedih melepaskan kepergian nya. Lantas bagaimana dengan Vlora. Yang sudah menganggapnya lebih dari seorang sahabat dekat. Ia yang selalu mengingatkan Vlora pada almarhum ibu nya. Mana mungkin Vlora tidak sangat hancur melepaskan kepergian nya.


Akan tetapi kenyataannya sangat menyakinkan Vlora kalau dia telah pergi untuk selamanya darinya.


Di bawah gerimis siang hari yang gelap. Vlora dan keluarga nya juga para pelayat tengah berkerumum mengantar nya ke peristirahatan terakhir untuk nya.


Iya, setelah di otopsi semalaman di rumah sakit. Keesokan paginya jenazah Ana langsung di serahkan ke pihak keluarga untuk di kebumikan.


Next.....


Sepanjang pemakaman Vlora hanya terdiam menundukkan perhatian nya menutupi kehancuran diri nya dari mereka. Sampai seseorang menyodorkan seikat buket bunga Krisan putih pada nya. Membuat perhatian Vlora mendongak sedikit terangkat.


"Dari kami sekeluarga yang bersedih. Kau adalah orang yang paling hancur saat ini".Kata Raka kakak laki-laki Ana. Dia yang sangat mengenal betul kedekatan kami sebagai sahabat sejak kecil.


Vlora menerima bunga itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia berlalu menaruh bunga itu di atas makam Ana. Tanah merah yang masih sangat basah.


Sementara seluruh pihak keluarga telah berlalu pulang. Vlora tetap berada di tempat nya. Berjongkok di samping makam Ana. Sendirian tanpa seorang pun yang menemani nya. Astaga lupa!Siapa yang mau menemani orang yang sedang kacau seperti Vlora.


Vlora beranjak dari sana. Berlalu pergi meninggalkan pemakaman yang sudah sunyi sepi dengan keadaan pakaian nya yang basa kuyup.


++++++


++++++++++


Satu hari setelah hari pemakaman Ana. Di sekolah SMA Garuda Sayap Emas. Di mana seluruh sekolah tengah sibuk bergosip soal kematian Ana. Yang sudah menjadi makanan paling banyak para cewek-cewek.


"Lihat mereka salah satu tempat dari yang mati meledak kemarin".

__ADS_1


"Dengar-dengar tubuh nya sangat hancur".


"Karma mungkin. Kan kelas mereka sangat brandal".


"Hustt..jangan begitu".


"Tau gini-gini kelas mereka sudah membawa nama baik sekolah ke olimpiade MIPA".


Terus berganti ke sisi lain.


"Mungkin dia mati karena karma".


"Ayahnya kan seorang walikota. Jadi tidak terlalu kaget dia mati seperti itu".


"Akan tetapi ayahnya walikota yang dermawan".


"Tapi semua itu salah. Kata ayah ku Yuna penyebab kematian Ana".


"Serius?Jangan ngawur lu mereka berdua adalah sahabat akrab".


"Jaman sekarang kan tidak yang tulus. Bisa saja mereka berdua hanya akrab di luar".


Vernon dan Kiki yang baru saja sampai di sekolah langsung di sungguh kan oleh suara-suara yang sangat menganggu bagi mereka berdua yang seketika memasang wajah datar dan dingin sepanjang langkah kakinya. Sayangnya mereka berdua memilih untuk terdiam karena tidak mungkin mereka berdua menghajar mulut perempuan yang bicara tidak-tidak tentang penyebab kematian Ana.


"BA***COT ANJING!!".Bentak Jehan,"GUE TIDAK TULI!BICARA APA LU TADI?".Jehan tanpa keduanya sadari sudah mencengkeram menjinjing tubuh salah seorang perempuan sampai sedikit terangkat menyamakan tinggi badannya.


"Hoi!!Bicara apa anjing?Kalau ngomong di depan jangan di belakang bang***sat. Cari mati kau!?".Marah Jehan pada mulut kompor perempuan ini,"Sudah sampah makin sampah diri kalian".

__ADS_1


Kiki menggenggam kedua lengan Jehan,"Sudah Jehan. Ayo ke kelas. Meladeni mereka yang sok tau hanya akan buang-buang tenaga mu".Kata Kiki menenangkan Jehan yang terbawah emosi.


"CK! Seenaknya saja mereka bilang...,"Menjedah ucapan,"....Ana meninggalkan karena itu lah, karena ini lah. Padahal sudah jelas dia korban kejahatan. Bukan karena Yuna, bukan!!! justru Yuna ingin membantu Ana tapi Ana terlanjur di terpasang barang peledak. Di hancur, di hancur hiks...hiks...kalian mana tau dasar bang***sat mulut lamis!!!".Jehan berbicara lantang sembaring mati-matian menahan air matanya yang terus saja mengalir deras membasahi pipinya.


"Hentikan Jehan".Vernon terdiam mengepalkan kedua tangannya,"Mereka tidak akan mengerti sebelum merasakan nya sendiri. Bagaimana rasanya kehilangan".Kata Vernon melanjutkan perjalanan untuk pergi ke kelas nya.


Mereka yang berkerumun segera membukakan jalan untuk Vernon dan kedua temannya. Tanpa memberikan perlawanan apapun. CK, siapa yang mau melawan anak pemilik sekolahan.


++++


Di kelas seluruh siswa siswi kelas yang sudah masuk sekolah. Terdiam duduk tenang di bangku nya masing-masing. Mereka semua tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan mereka atas kematian Ana. Siswi yang sangat berpengaruh untuk kelas ini. Keceriaan nya, ke humoris nya selalu bisa saja membuat isi kelas ini bersinar. Dan menakutkan.


Kesedihan mereka semua terlihat jelas sejak kemarin acara pemakaman Ana.


Lalu setelah tidak ada kehadiran nya kembali. Apa yang akan terjadi pada kelas ini. Apakah cahaya terang yang selalu bersinar akan berlahan-lahan pudar.


+++++


Hari ini Vlora tidak masuk sekolah. Ia memilih berdiam diri di dalam kamar tanpa melakukan apapun selain hanya duduk seorang diri di lantai samping tempat tidur. Melihat keluar pintu kaca balkon rumah yang sengaja ia biarkan terbuka sedikit sejak kemarin. Tidak lupa pakaian yang sama seperti yang ia kenakan untuk mengantarkan Ana ke peristirahatan terakhir nya. Masih melekat ia kenakan.


Cahaya hangat dari luar pintu kaca berlahan-lahan masuk ke dalam kamar nya. Menyinari tubuh Vlora yang duduk tertekuk mendekap kedua kaki, melamun dengan tatapan kosong.


"Sudah hancur!Dan mati lagi, dan yang ini sudah yang ke berapa kali,"potong ku."Aku lupa?".Gumam ku entah pada siapa di dalam kamar ini,"Hey Ana bisa kau memberitahu ku?".


Semakin mengeratkan pelukan pada kedua kaki yang tertekuk,"Aku lupa lagi. Kamu kan sudah meninggal".


+++++

__ADS_1


__ADS_2