
Jam 10 malam. Kiki masih terbaring di ranjang tempat tidur Vlora. Dan selama itu juga Vlora menghabiskan waktu untuk beristirahat di sova panjang depan televisi. Ia yang belum sepenuhnya tertidur. Dapat melihat saat Kiki terbangun dari tidurnya.
Vlora beranjak dari tempat duduknya untuk mendekati Kiki yang sudah terduduk di atas tempat tidur.
"Bagaimana keadaan mu?",tanya ku sembaring tetap berjalan mendekat.
Memegangi sebelah kepala nya,"Pusing".
Sudah duduk di tepi tempat tidur depan Kiki,"Lu dari mana?Sudah tau terluka tidak ke rumah sakit atau pulang malah datang ke gue", semprot omel ku."Dasar anjing bodoh".
Mendongak untuk melihat Vlora,"Hemm".
"Coba tadi gue tidak pulang cepat, bakal mati lu di balkon rumah gue".
"........", menurunkan pandangan kembali tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Wewwww.......",menatap tajam ke arah Vlora."Lu baru saja ngapain gue", menutupi tubuh dengan selimut karena ia memang tidak mengenakan atasan pakaian.
"Gue masih remaja monyet, lu tega nodain gue Yun".
"........". Menatap datar dingin mengerutkan keningnya.
"Huahhhhh....gue tidak suci lagi".
Pakkkk......saking kerasnya tamparan Vlora. Kiki sampai menengok paksa.
"Aduh Monyet lu".
"Anjing lu",umpat Ku menatap dingin."Di sini seharusnya gue berteriak tidak jelas karena lu yang tidak harus masih ada di kamar gue. Bukan sebaliknya be**go".
"Eh!Benarkah!?".
Menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Pakaian gue mana? Ternodai gue, lu lihatin terus".
Menyungging ekspresi wajah julid.
"Eh ini bukan kaos gue", mengambil lipatan kaos di atas meja samping nya.
"Kaos lu kotor. Sementara pakaian saja pakaian gue".
Kiki yang akhirnya mengenakan kaos yang di pinjem oleh Vlora,"Hemm".
"Jadi lu kenapa?",aku mengulang kembali pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh Kiki.
Terfokus melihat lawan bicara,"Gue...",memanjangkan nada bicara."Di keroyok preman".
Menatap masih dengan raut wajah datar,"Logika nya jika lu terluka hanya karena preman. Lalu bagiamana bisa mereka yang menyekap gue mati di tangan lu. Sungguh tidak masuk akal bukan mereka mati tanpa lu bunuh".
Membuang mu ke samping,"CK",Kiki tersenyum miring."Sulit sekali membohongi diri mu".
"......".
"Apa tujuan organisasi lu?".
"Organisasi?".
".....".
"Itu bukan organisasi. Anggotanya pun bisa di bilang sangat sedikit, jadi itu bukan organisasi".
"Sama saja".
"Bedalah",Kiki beranjak menurunkan kakinya dari atas tempat tidur."Yun".
"Hmmm".
__ADS_1
"Lu ada makanan?Demi apapun gue laper banget".
"Jujur gue ingin membunuh lu".
Menyungging senyum semanis mungkin,"Pelis Yun, tidak baik menyiksa anak orang".
"Makanannya gue ingin langsung membunuh biar lu tidak tersiksa",ketus toxic aku.
Namun sedikit kemudian keduanya tiba-tiba sama-sama terdiam. Merenung dengan sisi kepalanya masing-masing. Hal itu berlangsung cukup lama sekali.
Sebelum akhirnya Kiki tiba-tiba tertawa kecil singkat. Membuat lamunan Vlora buyar dan berpaling melihat nya.
"Lucu tidak sih",ucapnya."Dulu kita selalu membayangkan bawah suatu saat nanti kita akan saling membunuh".
"Dan gue mengambil kesimpulan bahwa gue yang mati", berpaling melihat Vlora yang semenjak tadi memperhatikan nya."Iya agar lu panjang umur gue yang akan mati".
"Emang lu yang tentukan",ucap ketus aku."Hidup dan mati gue sendiri yang tentukan. Jika lu mau gue panjang umur maka gue memilih cepat mati".
Mengerutkan keningnya.
"Gue lebih suka mengorbankan diri gue, dari gue harus melihat orang lain mengorbankan diri mereka untuk gue".
Beranjak dari tempat duduknya."Gue akan lihat di dapur ada makanan apa. Lu tunggu saja sebentar".Aku sebelum akhirnya melangkah pergi keluar kamar.
Membiarkan Kiki termenung seorang diri di dalam kamar dengan cahaya remang-remang ini. Hingga sesosok perempuan yang sama kembali datang menemui nya. Beliau muncul tepat berdiri 2cm di depan Kiki duduk.
Kiki yang menyadari kehadiran beliau karena cahaya yang menyinari nya terhalang oleh bayangan beliau. Membuat ia mendongak untuk melihat kehadiran beliau.
Seperti biasa senyuman hangat dari beliau selalu Kiki dapat dengan sangat tulus.
"Sudah selesai Kiki, terima kasih", lagi-lagi di susul senyuman tulus yang hangat. Di barengi dengan tubuhnya yang lenyap berubah menjadi semakin transparan.
Clekkk.....suara pintu kamar terbuka membuat sesosok itu benar-benar lenyap dari hadapan Kiki. Menyisakan kedua sepasang mata yang masih membulat sempurna.
__ADS_1
"Oi anjing",Aku yang menaruh camilan dan minuman di tas meja depan televisi."Makan di sini jangan di sana".
Walaupun masih sangat syok Kiki berusaha memposisikan dirinya senormal mungkin. Ia beranjak dari tempat duduknya untuk bergabung dengan Vlora yang sudah duduk di sana menonton acara televisi yang baru saja di nyalakan.