
Keesokan harinya,"Shett!!Sial".Aku beranjak dari tempat duduk ku tempat tidur.
Pergi berlalu keluar kamar tidur. Tanpa pergantian pakai terlebih dahulu.
Bi Nur yang berpapasan dengan Vlora,"Nona mau kemana?".
"Selamat pagi bi".Sapa ku mengabaikan pertanyaan nya.
Vlora masuk ke dalam liv rumah untuk mempersingkat perjalanan nya sampai di lantai satu rumah.
Sampai di lantai satu rumah. Baru saja Vlora membuka pintu rumah. Vlora di kejutkan dengan keberadaan Kiki yang sudah berdiri di depan nya.
"He!!Baru mau ku tekan bel nya".
"Maaf, aku buru-buru".Aku berlalu pergi mendahului nya.
"Hey!!".Panggilan Kiki yang tidak di hiraukan oleh ku yang terlalu terburu-buru untuk segera pergi.
Bi Nur sudah keluar rumah,"Tuan".
"Yuna mau kemana Bi?".Tanya Kiki pada Bu Nur.
"Tidak tau Tuan".
++++
Brummm....... Vlora mengemudikan mobil nya melaju dengan kecepatan di atas normal.
*Daniel cepat suruh anak buah kita untuk pergi ke bawah jembatan sungai jernih".
*Baik Nona".
Panggil yang berakhir segera di matikan sepihak oleh Daniel di sebelah sana.
Dan Vlora semakin mempercepat menambahkan kecepatan agar mobil ini semakin cepat melaju di jalanan Kota yang terbilang ramai.
++++
Masih terlalu pagi. Namun hujan rintik-rintik turun membasahi tanah Kota G. Membuat suasana pagi masih seperti malam hari.
__ADS_1
Diriku yang telah sampai di tempat tujuan. Lekas berlari keluar parkiran mobil. Berlari ke tempat tujuan akhir Nya bawah jembatan sungai jernih.
"Sudah cukup!Berhenti sampai disini".Kata ku dengan lantang pada mereka yang tengah mengangkut suatu barang ke atas kapal yang terhenti di tepi sungai.
Salah satu dari anggota pria berpaling ke arah tempat nya berdiri,"Hey gadis kecil lebih baik kau pergi jangan cari masalah dengan kami".Ucap Rio pada Vlora.
Tidak mendapatkan balasan dari Vlora yang terdiam melihat satu tujuan. Rio mulai berjalan mendekati Vlora. Akan tetapi,"Urus saja yang lain, Rio".Kata Xana. Kakak laki-laki Vlora yang juga ada di tempat ini.
"Gadis kecil ini akan merusak semua jika tidak segera di selesaikan Xana."Kata Rio terfokus pada Xana,"Aku harus membunuh nya".
Xana mengabaikan ucapan Rio. Ia mulai berjalan berlahan maju mendekati Vlora. Vlora segera mengeluarkan senjata api nya yang langsung ia arahkan ke Xana.
"Berhenti!!Akan ku bunuh kau".
"Lakukan sesukamu".Balas dingin Xana tanpa menghentikan langkah kaki nya.
Lagi-lagi tangan nya tidak ada bergerak, tangan nya membeku tidak dapat di gerakan. Brakk......Xana menendang memutar punggung kakinya mendarat tepat di lengan tangan nya. Sampai membuat dorong yang berakhir dengan tubuh ku terpental.
"CK, perasaan tadi dia seperti melindungi gadis itu. Tapi sekarang dia malah menyiksa habis-habisan gadis itu".Kata Rio menonton.
Belum cukup dengan menendang Xana mencengkeram leher Vlora sampai tubuh sedikit terangkat menyamakan tinggi badannya.
Stt....Brakk..... seseorang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak. Melompat dan menendang tangan Xana yang mencengkram erat leher Vlora.
Seseorang ini juga bergerak cepat menangkap tubuh Vlora yang goyang,"Kau baik-baik saja?".
"iya".Seru ku pelan.
Kiki mendudukkan tubuh Vlora di atas paving jalanan ini. Ia yang masih berjongkok di samping ku berkata,"CK baru kali ini aku lihat manusia yang benar-benar tidak layak hidup seperti mu".Kata Kiki.
"Xana cepat naik".Panggil Rio yang sudah akan naik ke atas kapal. Berteriak.
Tanpa mengatakan apapun Xana berlalu pergi dari sana bersama dengan komplotan nya dan rekannya. Meninggalkan adiknya yang masih terdiam terduduk di tempat nya.
Sesaat kemudian Daniel dan parah anggota King88 baru sampai di tempat tujuan segera berlari ke tempat ku.
Vlora kembali berdiri dengan baik dengan di bantu oleh Kiki yang sudah Vlora tolak sejak tadi.
"Maaf, kami terlambat".Kata Daniel pada Vlora.
__ADS_1
"Hem".Dehem ku merespon. Aku berlalu pergi dari sana meninggalkan mereka yang terdiam memperhatikan kepergian ku.
"Kiki bisa kau jelaskan apa yang terjadi?".Minta Daniel yang sudah terfokus pada Kiki.
"Iya".Balas singkat Kiki.
Mereka akhirnya berlalu dari sana untuk kembali ke rumah pertemuan Mafia King88.
Sementara Vlora kembali ke rumah nya. Dengan keadaan seperti sekarang tidak mungkin untuk dirinya membantu mereka. Walaupun yang ia lakukan sekarang sangat tidak profesional sebagai ketua Mafia King88.
Baru saja Vlora membuka sedikit pintu depan rumah. Seseorang di dalam tiba-tiba muncul memeluk erat tubuh Vlora.
"Yuna!!".Ujarnya,"Syukurlah kau baik-baik saja".Katanya tanpa melepaskan pelukan nya.
Mengakhiri pelukan nya,"Aku selalu mengkhawatirkan mu Yuna. Aku selalu berdoa kau menjadi remaja seperti ku. Pasti sangat menyenangkan kita bisa pergi belajar, bermain sepuasnya. Dan kau bisa tertawa sepuasnya".Kata Ana. Seseorang itu adalah Ana.
"Aku sudah mendengar semuanya dari ayah ku. Soal pergerakan mu beberapa hari ini".
Melihat Vlora yang hanya terdiam tidak merespon apapun perkataan nya. Ana merai pergelangan tangan Vlora dan mengajak Vlora untuk masuk ke dalam rumah.
Kami berdua duduk di ruang tengah rumah tepat di bawah lampu kristal putih terpasang di atas kami.
"Lihat ini siku mu terluka".Ana membuka kota obat yang seperti sudah ia siapkan sejak tadi untuk Vlora.
Mengobati luka Vlora dengan hati-hati seperti seorang ibu yang tengah mengobati luka anak nya,"Bagaimana lah seorang perempuan memiliki luka sebanyak ini".
"Seharusnya kau harus lebih hati-hati. Kuli mu cantik putih bersih, tapi penuh luka karena pemiliknya sangattt!!!Lakik!".
Selesai mengobati beberapa luka goresan di siku dan lutut Vlora karena tadi,"Sudah beres".Ana yang sibuk membereskan peralatan obat-obatan.
"Kau sudah makan?".Tanya Ana yang sudah terfokus pada Vlora.
Mengangkat pandangan ku untuk melihat lawan bicara ku,"Ana".Seru ku.
"Kenapa kau begitu yakin suatu saat nanti aku bisa hidup normal seperti mu?".
"Selama aku sudah terjun dalam ke dunia gelap, tidak akan mudah untuk ku meninggalkan dunia ku. Aku juga seorang pendendam yang pengecut. Yang tidak bisa melindungi kedua orang tua sendiri".
"Lebih baik kau...".
__ADS_1