
Remaja laki-laki yang baru saja memasuki ruang utama rumah nya. Langsung berjalan ke dapur menghampiri seorang perempuan yang tengah sibuk membuat makan malam.
Ia mencium pipi perempuan itu sekilas,"Sore bun",sapa Bryan nama remaja laki-laki ini.
"Kenapa malah mampir ke sini. Ganti baju bersih-bersih dulu Bryan. Ibu bau bawang kami bau asem".
Cengengesan,"Hehehheh......ayah belum pulang Bun?".
"Belum".
"Sudah sana mandi sebelum semua makanan nya di habis ayah mu".
"Tidak akan, aku segera kembali",Bryan bergegas pergi meninggalkan dapur masih dengan menenteng tas ransel sekolah nya.
+++
Sesaat kemudian setelah selesai dengan acara makan malam bersama yang di lakukan dengan hening tanpa ada yang membuka obrolan satu sama lain. Adalah tata krama dari kecil yang di tanamkan Kiki dan Vlora ajarkan pada Bryan.
Bryan yang masih duduk di tempat nya,"Yah",
"Hemm".
"Kenapa orang-orang di luar sana sangat aneh-aneh? Mereka menatap ku sangat ketakutan. Tidak semua sih hanya sebagai. Tapi tetap saja aneh",kata Bryan pada Kiki.
"Kamu anak monster mungkin".
__ADS_1
"Mungkin ada benarnya, ayah mantan pembunuh, bunda ketua Mafia yang sangat kejam",kata Bryan."Kalau soal bunda sebenarnya aku masih belum percaya".
Terfokus memperhatikan Vlora yang sibuk menata piring kotor yang akan di bawa ke dapur oleh asisten rumah nya."Soalnya masakan bunda enak, aku jadi tidak percaya bunda adalah ketua mafia. Bunda itu malaikat tidak bersayap ku".
"Jadi kamu hanya yakin dengan masa lalu buruk ayah saja",yang di balas anggukan langsung oleh Bryan.
"Iya sudahlah cepat pergi ke kamar mu untuk belajar. Jangan sampai tidur larut malam atau kamu akan melihat sisi lain dari bunda mu",suruh Kiki pada Bryan.
Masih tetap terduduk di tempat nya,"Besok ada wali murid jam 8. Yang datang ayah atau bunda?".
"Bunda yang akan datang",saut balas Vlora.
Beranjak berdiri dari tempat duduknya,"Good night Yah, Bun",pamit Bryan sebelum berlalu meninggalkan ruang makan.
Awalnya Bryan merasa takut. Akan tetapi lama kelamaan ia pun sudah terbiasa dengan kegiatan orang tuanya.
Bryan mulai terbiasa saat dengan mata kepala nya sendiri Bryan melihat bagiamana ayah nya akan menghabisi seseorang pria yang akan menculik dirinya saat ia masih berusia 8 tahun.
Di saat itulah untuk pertama kalinya Bryan melihat darah sebenarnya yang keluar dari tubuh manusia. Yang akhirnya membuat dirinya mengetahui jika ayah nya dulu benar-benar seorang pembunuh bayaran.
Walaupun demikian sampai tumbuh remaja. Bryan tidak pernah sekalipun lagi melihat sisi lain dari orang tuanya. Terutama sisi lain dari ayahnya. Sehingga walaupun di besarkan oleh seseorang mantan pembunuh bayaran dan seorang ketua Mafia yang kejam. Bryan tetap tumbuh dengan baik tanpa melihat banyak nya kekerasan di depan matanya. Ia tumbuh seperti layaknya keluarga Cemara pada umumnya.
Tokk....Tokk.....
"Masuk, pintunya tidak aku di kunci",kata Bryan yang duduk kursi belajar nya.
__ADS_1
Clekkk......Kiki membuka pintu kamar dan berjalan masuk ke dalam kamar putranya.
Bryan yang sudah memutar kursi nya berbalik melihat ke arah pintu yang terbuka,"Ada apa Yah?".
"Hanya ingin mengobrol sebentar, sedang tidak banyak tugas sekolah kan?",Kiki yang sudah duduk di tepi tempat tidur depan Bryan duduk.
"Enggak ada tugas",
Sudah terfokus pada Bryan,"Sebentar lagi kamu lulus SMA. Ayah ingin tau apa tujuan kamu setelah lulus?".
Bryan terdiam sejenak. Sebelum akhirnya ia berkata,"Aku akan kuliah ambil jurusan teknik informatika".
"Dan...,"menjedah kalimat nya,"... bolehkah aku ambil kerja sambil kuliah?".
"Aku tau ayah dan bunda cukup uang untuk membiayai kuliah ku. Hanya saja aku hanya ingin mencari kesibukan lain selama kuliah nanti. Aku ingin mendapatkan banyak pengalaman untuk nanti setelah selesai kuliah. Bisa di katakan aku tidak mau ketergantungan dengan uang ayah dan bunda".
Setelah mendengarkan baik-baik perkataan Bryan,"Ayah tidak melarang apa yang sudah menjadi keputusan mu. Selama itu tidak merugikan diri kamu sendiri".
"Jika itu sudah menjadi keputusan mu. Maka kamu harus berkomitmen dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah kamu ambil. Jangan hanya berkata, tapi buktikan. Laki-laki banyak bertindak bukan banyak banyak bicara".
Beranjak dari tempat duduknya. Kiki berjalan mendekat dan menepuk bahu kanan Bryan,"Semangat. Berjuanglah sewajarnya".
Kiki akhirnya berlalu meninggalkan kamar Bryan. Membiarkan Bryan melanjutkan kegiatan belajarnya.
Sementara Bryan yang masih memperhatikan punggung laki-laki kepala tiga yang semakin hilang dari perhatian nya. Tanpa terasa menyungging senyum tipis. Senang rasanya mendapatkan dukungan penuh dari orang tua nya. Itulah kebahagiaan yang saat ini Bryan rasakan.
__ADS_1