
Bakk.... Pertama kali datang Jay sudah menendang tubuh salah seorang pria sampai tersungkur tidak sadar diri. Jay bahkan langsung menembak tepat di kepala pria itu sampai merenggang nyawa di tempat.
Membuat kelompok pria-pria yang lain sedikit mengambil ancang-ancang mundur. Atau berpikir dua kali terlebih dahulu sebelum menyerah Jay yang termakan amarah. Lebih tepatnya mereka yang menganggu Juan mengenal betul Jay.
Alhasil akhirnya beberapa dari mereka memilih untuk pergi menjauh meninggalkan tempat ini. Sehingga hanya menyisakan satu orang pria di sana yang memiliki nyali besar berhadap dengan Jay.
Jay memutar dua senjata api dalam pegangan kedua tangan nya di barengi berjalan berlahan-lahan mendekat tanpa memiliki rasa takut untuk mati. Walaupun lawan di depan telah menodongkan senjata api ke arahnya.
"Tidak ada yang diragukan dengan keberanian mu",ucap Pria ini tidak ingin melangkah mundur menghindar.
Bagge.....Sett..... Brugkk......Stepp......Bakkk....
"Aak....",Pria yang awalnya berdiri kokoh tidak ingin mengalah dengan Jay. Saat ini terjatuh tergeletak bersimbah darah di depan Jay.
Sayangnya hal itu tidak membuat Jay berhenti sampai di situ. Jay masih sanggup menodongkan senjata api tepat di depan kepala pria ini.
"Am..".
"Di mana putra ku?",tanya Jay sekali lagi bernada suara berat nan dingin.
__ADS_1
"Jay ja....,"Bagg...... peluru Jay jauh lebih dulu meledakkan kepala pria yang sekarat ini.
"Jay!",bentak Kiki."Kalau kau membunuhnya bagaimana mencari Juan".
"Tidak, aku di sini",kata seseorang yang keluar dari balik kegelapan malam. Sembaring berjalan mendekat,"Ayah sangat mengerikan",ucap Juan melihat takut Jay.
Jay masih dengan raut wajah datar menjauhkan senjata nya, ia berjalan mendekat ke arah Juan. Dan menarik kerah belakang pakaian Juan,"Beraninya kau membutuh mama mu khawatir Juann....".
"Aduh, aduh, aduh, Yah, ayah",teriak Juan yang tidak cukup bisa melawan dan melepaskan pegangan tangan yang mencengkeram kerah pakaian nya. Pegangan tangan yang menarik tubuhnya paksa untuk m ngikut.
"Om Jay serem kayak....",gumam Bryan terhenti karena tersadar orang yang akan ia omongkan ada di samping nya.
Tanpa membatah Bryan merogoh kantong celana nya mencari kunci mobil milik nya. Setelah sudah mendapatkan kunci mobil. Bryan pun memberikan nya pada Kiki.
Singkat cerita setelah menempuh perjalanan panjang sampailah kedua ayah dan anak ini di kediaman rumahnya.
"Kalian berdua dari mana saja?",tanya Vlora beranjak dari tempat duduknya. Berjalan mendekat,"Itu kenapa lebam-lebam Bry?",tanya Vlora sedikit bernada tinggi.
"Bi, bibi", panggil Vlora tegas."Ambilkan kotak obat air dan handuk untuk membersihkan luka".
__ADS_1
"Aku akan naik duluan",pamit Kiki berlalu pergi meninggalkan lantai satu.
Sementara Bryan di giring Vlora untuk duduk bersama di sova yang tersedia. Di sana Vlora tidak bertanya apapun lagi. Selain terdiam membisu sembaring mulai merawat luka-luka di wajah Bryan dengan obat-obatan yang telah asisten rumah nya siapkan.
"Maaf sudah buat bunda khawatir",kata Bryan pelan menundukkan pandangan nya.
Namun Vlora tetap terdiam tidak merespon. Yang akhirnya membuat Bryan ikut terdiam, merasa bersalah pada Vlora.
Di saat menempelkan plaster luka. Vlora menekan plaster itu kuat membuat Bryan merintih kesakitan.
"Iss...".
"Kalau tidak kuat nahan sakit jangan cari masalah",marah Vlora."Kamu pikir saat kamu bisa seperti ayah dan bunda kamu di sebut sebagai jagoan? Tidak!!".
Kembali menempelkan plaster luka dengan kasar,"Jangan perlihatkan kelemahan mu seperti orang bodoh Bryan",nada suara tidak bersahabat Vlora.
"Bunda minta cukup! Jangan ikut campur apapun urusan ayah dan bunda. Sampai bunda mengetahui kamu masih ikut terlibat, akan ku pastikan kau merasakan rasa sakit sebenarnya",Vlora terfokus menatap serius Bryan tanpa rasa keraguan yang terselip di sana.
Kiki yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Vlora,"Ayo naik Yun. Kamu harus segera istirahat",ajak Kiki pada Vlora.
__ADS_1
Selepas kepergian kedua orang tuanya. Bryan baru menyadari betul jika seorang bunda jauh lebih mengerikan dari pada seorang ayah. Akan tetapi karena tidak ingin terlalu mengambil pusing. Bryan pun beranjak dari tempat duduknya berlalu pergi ke Liv rumah untuk pergi ke lorong kamarnya di lantai atas. Toh apa yang baru saja ia lakukan juga sepenuhnya adalah salahnya.