My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.46 Tidak mudah


__ADS_3

Kiki buru-buru memarkir motornya di tepi jauh dari bibir pantai. Ia berlari sekuat tenaga tertatih-tatih mendekati pantai, belum sampai di situ ia terus berlari menyusuri pinggiran pantai sampai ia naik ke atas hamparan bebatuan karang yang sangat dekat sekali dengan ombak menakutkan pantai.


Di sanalah Kiki baru menemukan sesuatu yang ia cari. Sepasang sandal jepit membuat nya yakin jika seseorang yang ia cari baru saja berada di tempat ini.


Gelombang air laut semakin besar berhembus bertabrakan dengan bebatuan karang menjadikan percikan tinggi air laut. Yang bisa saja menghempaskan tubuh Kiki jika saja ia tidak baik menahan.


Namun tanpa ragu Kiki justru melompat masuk ke dalam air yang memiliki kemungkinan sangat besar tidak akan membawanya kembali ke daratan dengan selamat.


Ia berenang-renang di dalam air melawan arus untuk bisa berenang lebih dalam lagi ke dalam air. Kedua mata yang masih terbuka memperhatikan sekelilingnya.


Sampai akhir manik matanya tertuju pada seseorang di dasar sana. Seseorang yang tengah berusaha melepaskan ikatan rantai dan tali yang melilit tubuh seseorang. Saking berusaha kerasnya ia mengabaikan kedua telapak tangan yang sudah terluka mengeluarkan cairan merah pekat.


Iya, di sana ada dua seseorang yang tengah Kiki cari. Salah satu dari mereka seperti sudah meninggal dunia.


Berhasil berenang mendekat. Kiki langsung menarik pergelangan tangan seseorang ini. Untuk ia tarik paksa keluar dari dalam air meninggalkan seseorang yang masih terikat di dasar sana.


Walaupun seseorang ini terus saja meronta-ronta melepaskan genggaman tangannya. Ia tetap akan berenang-renang naik ke daratan.


Sampai di daratan, dengan susah payah akhirnya Kiki berhasil naik ke daratan. Menarik tubuh seseorang yang ia selamat untuk lebih naik ke daratan. Sedikit menjauh dari lautan yang masih mengamuk. Karena badai hujan yang tidak kunjung berhenti semenjak tadi.

__ADS_1


Menepis kedua tangan ini,"Lepas!!",bentak Ku meronta melepaskan rangkulan erat tangan Kiki yang melingkar di pinggang ku.


"Gila kau, kau pikir dengan kau masuk ke dalam air kau bisa membuatnya hidup kembali",bentak Kiki tidak kala marah melihat hal gila yang baru saja Vlora lakukan.


"Seenggaknya aku bisa membawa tubuhnya ke daratan".


"Lalu kau juga akan menyusul dia ke neraka",Bentak Kiki masih dengan meninggalkan nada bicara.


"Ini adalah resiko yang harus kita tanggung Yuna, dan seharusnya kau sudah mengetahui nya. Kehilangan, sendirian, penderitaan, ke putus asahan adalah makanan keseharian kita".


Menyadari diamnya Vlora.


Namun Vlora justru menitihkan air matanya, ia menangis sekencang-kencangnya di sana, tersedu-sedu. Ia telah berhasil berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia benar-benar sangat hancur sekarang. Sudah banyak sekali yang ia lakukan tanpa pernah menitihkan air mata sesedih ini.


Ia yang selama ini selalu berusaha menutupi semua luka nya. Akhirnya semua luka itu meledak menghancurkan dirinya. Membuat kesedihan ini tidak terkendali.


Aaahhhakhikk...hikk....hiks......


Kiki masih terdiam di sini menemani Vlora di bawah derasnya badai air hujan. Yang semakin deras mengguyur daerah ini.

__ADS_1


Ia berjongkok di depan Vlora,"Ayo pulang lanjut di rumah menangis, kau harus menjaga harga diri mu sebagai ketua Mafia. Ingatlah jangan sampai ada yang mengetahui kelemahan mu, karena apa yang terjadi akan berimbas tidak baik untuk bawahan mu".


"Ayo pulang",ajak Kiki yang langsung mengangkat tubuh Vlora ke dalam gendongan nya. Membawa nya pergi dari tempat ini.


+++++


Kiki kembali menerjang badai dengan motornya untuk mengantarkan Vlora kembali pulang ke rumah.


Sementara kendaraan mobil Vlora di tinggal kan di sana. Kiki sudah memberitahu Daniel untuk mengambil mobil itu.


Sesampainya di kediaman rumah mewah ini. Menyadari motor sudah berhenti dengan baik. Badai hujan juga sudah berangsur-angsur merendah berganti dengan gerimis kecil. Vlora beranjak turun lebih dulu. Sebelum akhirnya ia berjalan mendekati teras rumah nya.


Belum juga menekan bel rumah. Bibi pembantu rumah Vlora sudah keluar lebih dulu membukakan pintu depan.


"Nona dari mana, YaAllah Nona",ekspresi wajah khawatir nya tidak bisa di bohongi setelah melihat keadaan Vlora. Sampai keberadaan Kiki pun di abaikan.


Seorang tukang kebun yang biasa merawat tanaman dan sebagai kepala keamanan. Berjalan mendekati Kiki setelah berlari kecil di bawah gerimis hujan.


"Masuk dulu mas saya pinjemin pakaian kering",kata pak Satpam mempersilahkan Kiki untuk masuk.

__ADS_1


__ADS_2