
...Tidak semudah itu, untuk membuat seorang perempuan yang sudah hancur sejak kecil untuk jatuh cinta ataupun mencintai kita...
...Karena...
...Mencintai dirinya sendiri saja ia masih sangat kesulitan sampai sekarang ...
+
.
+
.
+
Setelah kejadian di malam itu seharusnya belum lama setelah nya pasti akan ada pemberitahuan di televisi tentang kabar pembunuhan. Akan tetapi di tunggu, tunggu, tidak ada sama sekali selama dua hari ini berita tentang penghilang nyawa. Ataupun penemuan jenazah tanpa identitas.
Sampai akhir di malam ke tiga. Dengan kunjung seperti biasa nya. Kiki mengetuk pintu kaca balkon rumah nya. Yang berbeda hanya kedatangan Kiki kali ini dengan membawakan kotak berisikan makanan.
Aku yang baru saja selesai membukakan pintu untuk Kiki berkata,"Dua orang kemarin lu apakah?".
Kiki tidak menggubris nya, ia yang sudah duduk di sova kamar Vlora sibuk membuka kota makanan yang berisikan roti bakar di sana.
Aku melangkahkan sedikit mendekat, dan duduk di tempat kosong samping Kiki.
"Aaa.....",Kiki menyodorkan roti bakar di depan mulut Vlora.
"Kenyang",ucap ku ketus.
Masih berharap Vlora menerima suapannya,"Aaa....pliss cuma satu suap".
Pada akhirnya Vlora menerima suap roti bakar tidak terlalu besar itu. Sementara ia sibuk mengunyah makanan itu. Kiki masih terfokus memperhatikan dirinya.
Masih terfokus pada Vlora,"Enak?".
"Lumayan".
"Roti bakar langganan adik ku",kata Kiki."Dia cerita kemarin lu nemenin dia belanja".
__ADS_1
"Hemm".
"Terima kasih, karena saat bercerita Vania sangat bahagia".
Vlora hening tidak merespon.
Selama beberapa menit hening. Ia beranjak dari tempat duduknya untuk pergi keluar kamar mengambil beberapa botol minuman untuk Kiki. Yang seperti sangat membutuhkan air minum sejak memakan roti bakar ini. Namun ia tahan-tahan tidak meminta kepada Vlora.
+++++
Singkat cerita acara makan-makan telah usai walaupun makanan itu masih ada. Keduanya memilih diam fokus pada acara televisi yang membosankan.
Berganti dengan nada bahasa bicara yang berbeda,"Kau tidak ke markas?".
"Tidak".
"Kenapa?".
"Tidak papa".
"Hemm".
"Hemm..".
"Kemarin kau kenapa baik banget mau nolongin anak itu".
"Terus".
"Aku heran",Kiki yang sudah terfokus pada tatapan mata dingin di depannya."Aku jadi makin percaya jika Yuna yang aku suka masih ada di dalam sana".
Mendapatkan ucapan yang lumayan manis untuk nya. Tidak baper seperti perempuan pada umumnya. Vlora justru menatap Kiki semakin datar nan dingin.
"Lu mau gue pukul lagi",nada bicara dingin ku.
"Yaelah Yun gue tuh sudah berusaha keras tadi agar lu normal kayak perempuan-perempuan pada umumnya".
"Hemm".
"Maksud gue tuh lu menunjukkan ekspresi baper dikit gitu, atau pipi memerah malu kek. Atau apa lah".
__ADS_1
"......".
"Astaga".
Menyangga dagunya dengan masih terfokus pada Kiki,"Jujur gue malu punya sahabat kayak lu".
"What!!?Why??".
"Saking kelamaan menjomblo lu sampek menjadikan diri gue bahan percobaan",di susul tawa kecilnya.
Namun ucapan itu justru membuat Kiki langsung terdiam dingin merespon hening.
Menyadari diamnya Kiki, ia pun ikut terdiam membalas tatapan dingin yang tertuju pada nya itu.
Tanpa Vlora sadari Kiki sudah tergerak sangat dekat sekali dengan tempat nya duduk. Sampai akhir Kiki berhasil mengunci pegerakan Vlora mendekatkan lagi wajahnya sampai ia bisa merasa hembusan nafas yang terasa tetap tenang dari Vlora.
"Apa kau pernah mencintai ku Yun?",tanya Kiki tanpa mengubah posisi yang masih ada tetap di atas Vlora.
Vlora masih terdiam menatap sepasang mata indah di depannya. Yang terlihat sangat tajam dan menakutkan jika di perhati-hatikan.
"Apa jawaban ku sangat berarti untuk mu?",aku membalikan pertanyaan Kiki padanya.
Kiki tersenyum tipis di depan nya.
Sesaat kemudian,"Tidak juga, karena bagaimana pun kau tetap menyukai ku".
"Apa yang membuat mu percaya diri jika aku menyukai mu?".
"Tatapan mata mu",balas Kiki cepat tanpa berpikir."Tatapan dingin yang menenangkan itu mengatakan kau menyukai ku. Dan ku mau aku tetap bersama mu".
Mendengar itu Vlora hanya terdiam tenang dan menatap dingin pria di depan nya.
Kiki beranjak kembali duduk dengan benar di tempat nya. Sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya.
"Gue pulang duluan besok ada kelas pagi",pamitnya sebelum berlalu pergi keluar dari pintu balkon kediaman rumah Vlora.
Sementara Vlora masih terdiam di tempat nya duduk. Tanpa merespon apapun yang Kiki katakan padanya. Sekalipun Kiki sudah pergi meninggalkan nya, ia baru tersadar.
Ia segera beranjak membereskan kekacauan ini, sebelum akhirnya ia kunci kedua pintu kaca ini dengan baik. Dan menutup gorden tebal nya agar tidak terlihat lagi dari luar.
__ADS_1