
Tanpa terasa sudah tiga hari sejak Aftar harus di larikan ke rumah sakit agar secepatnya mendapatkan perawatan intensif dari dokter.
"Afif",panggil Aftar pada Afif yang sibuk memotong buah apel tepat di samping ranjang pesakitan tempat nya berbaring."Gue kapan pulang? Bosen harus di sini terus. Tiga Minggu lagi gue juga ada pertandingan basket. Gue tidak boleh absen latihan gue kan kapten tim".
Sudah mendongak untuk melihat kembaran nya,"Berhenti saja Aftar. Tidak usah main basket lagi".
"Enak saja. Lu tidak bisa ngatur gue",marah Aftar."Seenak saja menyuruh gue berhenti bermain basket. Enggak!! Gue tidak akan pernah berhenti".
"Kalian sudah tau penyakit gue? Bukan berarti kalian jadi menyekap gue seperti hewan peliharaan", Aftar pada Afif.
Afif yang masih terfokus melihat Aftar,"Jadi lu sudah tau kalau lu sedang sakit. Lalu kenapa lu tidak memberikan kami?".
"Kalian berdua sibuk", balasan Aftar membuat Afif langsung terdiam membisu.
Iya, memang selama ini baik Bryan ataupun Afif selalu sibuk dengan kegiatan nya masing-masing. Mereka bertiga sangat jarang sekali berkomunikasi dengan baik. Membuat Aftar terkadang lebih sering sendirian di rumah sebesar ini.
Apa lagi semenjak Kiki hingga Aftar benar-benar sangat kesepian. Karena sebelum ini Aftar jauh lebih dekat dengan pendengar baiknya Kiki dari pada kedua saudara nya. Kemungkinan hal itu yang membuat Aftar sedih dan terbayang-bayang terus tentang kejadian penyerangan beberapa tahun yang lalu.
Aftar memang tidak melihat Bagiamana bundanya merenggang nyawa. Tapi Aftar melihat banyak sekali darah bahkan orang-orang yang di bantai sampai mati di depan, maka ada kemungkinan besar Aftar memiliki trauma dengan kejadian di waktu itu yang sama sekali tidak di sadari kedua saudara nya.
"Bry",panggil Juan berlari mendekat menyusul Bryan."Gue sudah dapat alamat nya".
"Kirim lewat Chat", respon Bryan dingin.
__ADS_1
"Kalau kau mau kesana jangan pergi sendirian Bry, bahaya",
Bryan yang tidak menggubris perkataan Juan setelah mendapatkan kiriman chat dari Juan. Ia langsung berlalu pergi meninggalkan Juan tanpa sepatah kata lagi.
Di saat itulah Juan segera menghubungi bantuan untuk secepatnya menyusul laki-laki gila itu. Seakan-akan sudah tidak sayang dengan nyawanya Bryan nekat pergi seorang diri ke sarang serigala licik.
Bryan kembali ke rumah nya untuk mengambil beberapa senjata yang ia butuhkan. Sebelum akhirnya ia kembali pergi menggunakan mobil yang sama.
Telfon suara Jay dan Daniel.
*Bryan sudah pergi ke alamat yang sudah ku kirimkan ke kau".
Terdengar umpat kecil di seberang sana.
Tutttuuuttt.....
"Cepat kumpulkan seluruh anggota terkecuali pengawas tinggalkan",perintah Daniel pada Kenan yang langsung bergegas pergi.
Raka yang sudah terfokus melihat lawan bicara nya,"Ada apa?".
"Bryan pergi ke markasnya seorang diri".
"Ha? Cepat susul anak itu",Raka yang ikut khawatir akhirnya bergegas bergerak membantu Daniel dan Kenan mengumpulkan seluruh anak buah.
__ADS_1
Di rumah sakit tempat Aftar yang masih harus mendapatkan perawatan intensif di jenguk oleh anggota tim basket juga sepupu dan dua teman klub pencak silat Afif.
Dari grup sekelas Aftar, Rizal, Rai, Lukman, Aji, Raja. Dan dari Afif, Rangga dan Haris, juga sepupu Afif dan Aftar, Lilly. Berdelapan orang datang menjenguk dan untung nya diperbolehkan masuk dengan persyaratan tidak berisik karena keadaan Aftar masih belum pulih sepenuhnya.
"Anak-anak gue akhirnya ingat bapaknya juga",Ujar Aftar dengan mengulurkan tangan kiri berharap mereka mau mencium punggung tangannya."Sini-sini cium dulu".
Aji yang melihat itu,"Bau tai bang**sat".
"Enak aja lu, sabun yang gue pakai mahal iyaaa. Jadi tidak mungkin ada tai yang menempel".Nada bicara Aftar seakan-akan sedang tidak memiliki sakit berat. Karena ia lah yang disini paling bersemangat.
"Oi...bahas yang lain",ucap Lilly membuat mereka baru tersadar kalau ada perempuan di sini.
"Sorry-sorry nyonya, sorry",sungkem Rai dan Aji yang memang terkenal sangat receh sereceh jajan ciki-ciki di kedai.
"Aduh, aduh", geleng-geleng kepala."Sebenarnya yang lu sakit beneran. Energi lu masih cukup kuat membantai kita berlima anjing",kata Rai.
Mengangkat tangan kirinya menujuk otot setipis tisu,"Gue lelaki sehatt",ucap Aftar di susul senyum garangnya.
Sementara yang lain, yang masih normal ikut nimbrung bersama Afif di sova depan televisi.
"Sebenarnya adik lu sakit apa?",tanya Rangga pada Afif.
Afif yang teringat dengan ucapan adiknya sangat yang bersikukuh bahkan sampai mengancam menolak untuk melanjutkan pengobatan, jika Afif sampai membocorkan penyakitnya kepada teman-teman nya. Hal itu karena Aftar takut mereka menjadi cemas dan menyuruh dirinya berhenti dari klub basket di sekolah. Sementara Aftar hanya punya kegiatan ini yang bisa membuat nya sedikit lupa dengan trauma nya. Dapat di simpulkan Aftar akan sering murung dan melamun jika ia benar-benar keluar dan tidak memiliki kegiatan apapun. Di tengah-tengah pendengar nya belum kembali pulang.
__ADS_1
"Aftar tipes".