My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.70 Perkelahian kecil


__ADS_3

Mata yang berkaca-kaca ketakutan,"Bang, Vania takut, kita akan baik-baik saja kan!?",gumam Vania meremas pakaian Ifan bersembunyi di balik badan nya.


Sebelum ini Ifan dan Vania di kejar-kejar oleh seseorang yang misterius. Kedua langsung berlari menjauh tepat di saat Ifan menyadari nya. Sialnya karena tidak membawa kendaraan dengan terpaksa ia harus tetap mengajak adiknya berlari. Walaupun sebenarnya ia sudah sangat kasihan dengan adiknya yang sudah sangat kelelahan


Karena kurang beruntung keduanya akhirnya terjebak di gang buntu. Walaupun tidak terlalu jago bela diri sehebat kedua kakak dan adik laki-laki. Ifan tetap siap pasang badan untuk melindungi adik perempuan nya.


Tiga pria yang mengejar nya akhirnya berhasil menemukan. Membuat Vania semakin ketakutan bersembunyi di balik badan Ifan.


"Tetap di belakang Abang",minta Ifan sudah siap menerima serangan tiba-tiba lawan.


Vania hanya terdiam menyembunyikan diri di belakang kakak laki-laki nya. Tangan kanan nya meremas kuat kerah tas ransel nya ia bawa.


"Lihat, cantik juga adik nya bro",kata salah seorang pria berjalan mendekat."Sini cantik ikut kita",hendak menarik Vania.


Namun boro-boro bisa menarik, belum sempat memegang saja. Ifan sudah lebih dulu mematahkan pergelangan tangan pria ini. Bahkan sampai akhir ia tersungkur karena Ifan.


"Jangan ganggu kami",kata Ifan dingin menatap tajam mereka yang masih dapat berdiri."Pergi sebelum aku.....",


Bruakkk.....Krakkk.....Bakk....Bugkk.....Daniel datang tepat waktu melumpuhkan mereka semua dalam hitungan detik.


"Kalian berdua baik-baik saja?",tanya nya pada kedua adik nya.


"Bang Daniel",Vania yang langsung tergerak merangkul pinggang Daniel.


Sementara ia membalas pelukan adik perempuan nya yang ketakutan. Atensi mata nya tetap terfokus pada Ifan di sana. Tanpa terasa Daniel mengangkat jari jempolnya untuk Ifan. Membuat Ifan membalas dengan respon senyum tipis di sudut bibir nya.


Kenan yang masih mengikuti segera menghubungi Raka di sana. Untuk memberitahu informasi yang baru saja ia dapatkan.


"Habis dari mana?Kenapa malam-malam keluar tidak besok saja",Daniel yang terfokus melihat kedua adik nya yang hanya mereka berdua saja yang saat ini ia miliki. Setelah kepergian kedua adik laki-laki nya, juga kepergian ibu nya yang jatuh sakit setelah mendapatkan kabar tentang Kiki. Sementara ayah nya yang sudah tua saat ini sudah mulai sakit-sakitan. Dan saat ini beliau tengah di rawat inap di rumah sakit. Yang tidak sembarang orang bisa menjenguk beliau.


Melihat diam nya kedua adik nya,"Dari rumah sakit",tebak Daniel.

__ADS_1


"Kalau mau marah sama aku saja bang, jangan sama Vania. Karena yang mengajak Vania ke rumah itu aku bukan Vania",kata Ifan terfokus pada Daniel. Tidak dengan Vania yang saat ini tengah melihat nya.


"Ayo pulang",Daniel yang mengabaikan perkataan Ifan. Memilih untuk mengajak kedua adik pulang.


Setelah kedua adik sudah masuk ke dalam mobil yang ia bawa. Daniel mulai menyalahkan mesin mobil untuk segera tancap gas pergi dari tempat ini.


Fokus mengemudi,"Lain kali jika ingin ke rumah sakit telfon saja. Abang akan mengantar. Dan jangan pernah keluar larut malam, bahaya. Abang tidak bisa setiap hari harus melindungi kalian".


"Abang harap kalian faham".


"Maaf membuat bang Daniel repot",ucap Vania yang duduk di kursi penumpang samping Daniel."Sebena.....".


"Abang sudah tau",kata Daniel memotong ucapan Vania."Makanya Abang mengatakan itu kepada kalian".


"Kalian sudah makan?",tanya nya yang tetap fokus mengemudi mobil. Entah kenapa sifat yang di tujukan Daniel kepada adik-adik nya sangat berbeda dengan saat ia berhadapan dengan mereka.


"Belum",balas Vania setelah lama keheningan."Aku ingin ayah sembuh",tertunduk untuk menutupi kesedihannya.


+++++++


Di dalam kamar lantai dua kamar Ifan yang satu lorong dengan kamar Kiki. Daniel tengah berada di kamar Ifan. Mengobrol hanya berdua dengan Ifan adik ke ketiga.


Ifan yang hanya bisa terduduk tertunduk merenung sedih di tepi tempat tidur nya. Dan Daniel yang duduk di samping belakang tepi tempat tidur nya.


"Abang belum ada kabar tentang Kiki?",tanya Ifan pada Daniel.


"Aku mohon tetap di rumah selama beberapa hari ini",kata Daniel keluar dari topik pertanyaan Ifan.


Masih tertunduk,"Apa lagi yang Abang lakukan?Belum cukupkah kami menjadi korban",kata Ifan membuat Daniel mengangkat pandangan melihat luruh ke depannya.


"Pertama Ikbal, lalu Kiki, dan Ibu.....Sekarang ayah yang sedang berjuang hidup dan mati di sana",nada bicara Ifan yang semakin meninggikan di akhir kalimat marah juga kesal."Apa yang di lakukan ketua itu?CK melindungi sahabat saja tid.....",

__ADS_1


Brukkk.......Tinjuan kuat mendarat tepat di pipi Ifan membuat nya sampai terdorong paksa menengok ke arah lain.


Mengelus sudut bibir yang berdarah,"Abang suka dengan nya?".


"Tutup mulut mu!",ucap tegas Daniel mencengkeram kerah pakaian Ifan membuat tubuhnya sedikit terangkat dari duduk nya."Tau apa kau tentang Nona Vlora?".


Ifan fokus pada sorot mata tajam di depannya."Dia hanya baji***ngan perusak kebahagiaan orang. Pantas saja dia tidak punya keluarga".


Semakin mengeratkan genggaman tangannya, geram. Sebelum akhirnya ia renggang kan genggaman tangannya."Saking baji***ngan nya dia sampai mengorbankan seluruh hidupnya hanya untuk warga kota yang menganggap dirinya sebagai sampah kota".


"Dan perlu kau ketahui, jika dia lebih hancur dari kita saat mendapatkan kabar Kiki menghilang. Dia sangat baji***ngan juga gila sampai mau loncat dari atas jurang itu",sedikit meninggikan nada bicara di akhir kalimat.


Daniel melepaskan cengkraman tangannya,"Cepat istirahat besok kau harus membuka toko ayah, dan restoran ibu",ucap nya berjalan mendekat pintu keluar kamar Ifan. Menghentikan langkah kaki nya sejenak di depan pintu."Mereka berdua bukan sekedar sahabat",Ucapan terakhir sebelum melanjutkan perjalanan.


+++


Berdiri di depan pintu kaca balkon yang gorden nya di biarkan terbuka. Membuat dapat melihat langit malam gelap penuh bintang.


Sembaring mendengar suara seseorang berbicara di seberang sana melalui sambungan telepon dalam genggaman tangan yang ia tempelkan di daun telinga nya.


Sebelum akhirnya ia jauhkan ponsel nya, ia melanjutkan memperhatikan langit malam di luar sana. Walaupun kedua pintu ini tertutup, tapi kenapa angin malam seperti merangkul nya. Angin kesendirian.


Iya, sudah lima tahun hidup melakukan semuanya sendiri tanpa kehadiran keluarga ataupun sahabat dekat sangat sepi. Dan Vlora bisa bertahan sampai sejauh ini. Walaupun akhirnya ia benar-benar kehilangan sosok Yuna dalam dirinya.


Bui bening yang akan menetes cepat ia hapus,"Di mana kamu?".gumam nya tetap tegar dalam pendirian nya untuk tidak menangis.


+


+


+

__ADS_1


__ADS_2