
Sudah genap empat tahun usia baby boy. Yang saat ini sudah tumbuh dewasa menjadi laki-laki kecil yang tampan.
( Resendriya Bryan )
Anak laki-laki ini tengah bermain-main di halaman belakang membantu bunda nya menyiram tanaman.
"Sudah selesai Bryan, kemari cuci tangan ayah mu sudah pulang",panggil Vlora pada putra sulung nya.
"Iya Bun",berlari kecil ke arah Vlora berdiri.
Setibanya di dekat bundanya. Bryan mengulurkan kedua tangan nya membiarkan perempuan di depannya membersihkan kedua tangan nya.
Melihat bundanya mengusap-usap kedua tangan nya dengan handuk kecil,"Sudah keri Bun?".
"Sudah".
"Sudah bisa peluk ayah dong",kata Kiki yang sudah berdiri tidak terlalu jauh di belakang keduanya.
Kiki sedikit berjongkok untuk menangkap Bryan yang berlari ke arah nya.
Bryan yang sudah ada di dalam gendongan ayahnya,"Ayah pulang cepat?".
"Iya kan sudah janji sama Bryan untuk siang bersama".
Menarik gemas hidup Bryan,"Janjikan harus di tempati",kata Kiki.
__ADS_1
"Ayo masuk",ajak Vlora pada suami dan anak laki-laki nya.
Keluarga kecil ini menikmati menu makan siang dengan hening. Akan tetapi setelah selesai makan, atau saat Vlora sudah memulai beberes wadah kotor.
Menatap tajam keduanya,"Main di tempat lain, jangan sampai kalian berdua memecah piring lagi".
"Siap Bun",ucap kedua bersamaan.
Kiki berlalu pergi meninggalkan ruang makan bersama Bryan yang masih dalam gendongan nya. Kedua pergi ke ruang tamu untuk melanjutkan bercanda riya. Sampai akhirnya sama-sama tenang fokus melihat layar ponselnya yang sedang di main(bermain game online).
Melihat keduanya hari semakin hari. Ternyata benar, jika buah memang tidak pernah jatuh dari pohon nya. Bryan sangat-sangat mirip dengan Kiki. Kepribadian, perilaku yang sangat sama persis. Postur tubuh yang sama, tapi tidak dengan raut wajahnya. Bryan mewarisi postur wajah Vlora, dari mata, hidung, bibir, dan senyum manisnya.
"Jika melihat kalian berdua seperti ini. Seperti aku menang tidak perlu melakukan tes dna",Vlora yang sudah selesai dengan kesibukan di dapur. entah sejak kapan sudah berdiri di dekat keduanya bermain.
Baik ayah dan anak berpaling melihat ke arah Vlora bersamaan dengan ekspresi wajah yang sama.
"Kau tega mengusir ku".
Bryan duduk di atas perut Kiki yang duduk setengah tiduran di sova panjang,"Benar! bunda tega mengusir ayah".
"Game nya seru tau, Bun".
"Iya Bun",timpal Kiki menambahi.
"......".Namun Vlora justru terdiam menatap datar keduanya.
__ADS_1
Kiki langsung menurunkan Bryan. Ia bergegas beranjak dari tempat duduknya. Buru-buru merapikan pakaian kerjanya.
Kiki berjalan mendekat ke arah Vlora. Mencium sekilas bibi Vlora,"Jangan marah-marah Yun kasihan Bryan".
"Ayah berangkat Bry".
"See you ayah".
Tetap berjalan Kiki mengangkat tangan kanannya,"See you too".
"Sejak kapan Bryan bisa bahasa Inggris?",tanya Vlora pada Bryan.
"Sejak ayah ngajarin",sudah berdiri di samping Vlora.
Vlora mengelus lembut surai rambut Bryan,"Bryan mau sekolah?".
Mendongak untuk melihat bundanya,"Iya, mau",antusias Bryan.
"Kalau gitu tahun depan Bryan akan bunda daftarkan sekolah",yang di balas anggukan kepala cepat Bryan.
"Ehmm....makasih Bun".
"Tapi nanti harus janji Bryan fokus belajar bukan fokus bermain".
"Janji fokus belajar yang rajin",
__ADS_1
Vlora tersenyum hangat untuk Bryan yang sudah sangat pintar. Di saat anak-anak seusianya yang lain masih belajar mengenal sekitar nya. Bryan justru sudah berkembang banyak, ia sudah bisa membaca walaupun belum lancar. Ia juga sudah bisa menghitung dengan baik.
Beruntung sekali di berikan anak seperti Bryan. Itulah rasa bangga yang Vlora dan Kiki rasakan saat menyadari perkembangan Bryan yang sangat cepat dan baik dari anak-anak lain seusianya.