
Tanpa terasa dua Minggu sejak Aftar sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Iya, walaupun dengan syarat yang sangat tidak boleh Aftar langgar. Jika Aftar tidak boleh terlalu sering melakukan aktivitas yang membuat tubuhnya terlalu capek. Atau Aftar harus banyak beristirahat dari pada harus banyak berolahraga.
Terbilang sangat sulit sekali untuk Aftar yang hobby olahraga. Tapi mau tidak mau Aftar juga harus menuruti persyaratan dokter ini agar lekas di biarkan bebas dari rumah neraka ini. Sebutkan yang cocok untuk rumah sakit, pikir Aftar.
Tepat di Minggu ini di hari Rabu. Aftar izin tidak masuk sekolah karena ada jadwal kontrol di rumah sakit. Di antar oleh Bryan yang sengaja selalu menyempatkan waktu untuk menemani Aftar. Karena Bryan tau betul, Aftar jelas akan banyak membantah jika Afif yang menemani.
Sementara Afif tetap berangkat sekolah seperti hari-hari biasanya. Bedanya di hari ini. Afif akan berangkat ke sekolah seorang diri tanpa kembaran nya yang selalu nebeng tumpangan.
Bisa di katakan, Afif harus mulai terbiasa untuk berangkat ke sekolah sendirian. Karena Aftar akan semakin sering mengambil izin tidak mengikuti pelajaran di sekolah. Untuk pergi melakukan pemeriksaan di rumah sakit setiap minggunya.
+++++++
Ruangan yang membosankan yang sudah sangat sering Aftar kunjungi selama beberapa minggu ini sangat membutuhkannya bosan. Ruang kerja pribadi dokter intensif organ dalam, Dr. Yuta.
Setelah pemeriksaan panjang yang akhirnya selesai. Saat ini Aftar dan Bryan tengah duduk di kursi yang tersedia sedikit di ruang kerja Dr. Yuta.
"Hasil pemeriksaan keadaan kesehatan Aftar sangat baik. Tapi tetap saja Aftar tidak boleh memaksakan untuk melakukan rutinitas olahraga seperti dulu lagi".
"Saya tidak bisa meninggalkan tim basket saya Dok. Bolehkah saya tetap ikut main basket?",tanya Aftar pada Dr. Yuta.
Dr. Yuta melihat Bryan sekilas sebelum akhirnya ia berkata,"Boleh, asal jangan terlalu memaksakan diri sendiri".
"Jika merasa lelah langsung istirahat jangan di paksakan untuk terus bermain basket",timpal Bryan ikut menuruti Aftar.
__ADS_1
Aftar menganggu senang sekaligus bahagia. Seenggaknya ia masih memiliki dukungan untuk menikmati kehidupan sebelum kematian menjemput nya.
Sesaat kemudian Aftar sudah keluar dari ruang kerja pribadi Dr.Yuta. Meninggalkan Bryan yang masih basa basi dengan Dr. Yuta tentang pengobatan selanjutnya Aftar.
Selama itu juga Aftar duduk seorang diri di lobi rumah sakit. Entah kenapa setelah pemeriksaan tadi tubuhnya menjadi sangat lelah juga pening. Karena takut terjadi sesuatu yang menghebohkan rumah sakit. Maka Aftar memutuskan untuk duduk tenang di kursi tunggu menunggu kedatangan Bryan.
Sesudah mengambil obat-obatan yang di butuhkan adiknya. Bryan segera berlalu pergi dari tempat ini. Dengan jalan sedikit terburu-buru karena merasa khawatir pada Aftar. Yang sudah ia tinggalkan cukup lama.
Akan tetapi langkah kakinya tiba-tiba melambat, tepat saat ia tidak terlalu jauh dari ruang pemeriksaan kehamilan. Ada apa?
Bryan terpaku. Di sana ia melihat sesosok perempuan mengenakan sweater rajut panjang yang menutupi dress selutut yang ia kenakan dengan rambut panjang yang di biarkan terurai, masuk ke dalam ruang pemeriksaan itu tanpa menyadari kehadiran nya yang memperhatikan dari kejauhan.
'Apakah?',pikir Bryan sebelum akhirnya memilih melanjutkan perjalanan melewati ruang pemeriksaan yang sudah tertutup rapat itu.
+++++
Pakk...
"Bang jangan ngelamun",Aftar mengingatkan."Abang banyak pekerjaan di kantor?", lanjutnya.
Bryan yang sudah tersadar dari lamunannya. Fokus nya yang tetap melihat ke depan,"Tidak".
"Terus kenapa dari tadi ngelamun? Apa aku emang tidak bisa sembuh iya bang, sampai Abang melamun gitu memikirkan".
__ADS_1
"TIDAK AFTAR",Bryan sedikit membentak di susul menginjak rem mobil dadakan berhenti di tepi jalan.
"Maaf, maafkan Abang. Abang sedang lelah saja",kata Bryan berpaling melihat Aftar yang terlihat cukup terkejut dengan nada suara tinggi nya."Abang minta tolong Aftar jangan bicara seperti itu lagi. Aftar pasti akan sembuh. Dan maafkan Abang karena membentak mu".
"Iya bang, tidak papa".
"Jangan putus asa. Kamu harus optimis bisa sembuh. Abang akan berusaha untuk kesembuhan mu".
"Makasih bang, maaf kami berdua jadi merepotkan Abang. Terutama aku, Abang pasti kurang istirahat karena aku".
"Tidak juga. Abang emang, tapi lelah karena laper bukan karena kurang istirahat",kata Bryan berbicara sehati-hati mungkin agar Aftar tidak sampai menyalahkan dirinya sendiri.
Aftar tersenyum tipis,"Kalau gitu cepat tancap gas pulang, Abang harus coba masakan paling enak bibi",bersemangat Aftar enerjik seperti biasa.
++++
Menjelang malam hari nya. Sekitar jam 10 malam Bryan yang baru menyelesaikan pekerjaan kantor dengan singkat dan cepat. Akan tetapi, ia masih harus pergi ke rumah Alpha pertemuan mafia King88 yang saat ini sudah di ketuai oleh penerus keturunan nya, Bryan.
Sehingga Bryan baru bisa bebas dari kesibukan nya jam set 1 malam. Di saat itulah, tidak segera pulang untuk beristirahat. Bryan justru tancap gas mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di jalanan kota yang sunyi senyap ini.
Mobil Bryan baru berangsur-angsur melambat dan berhenti di depan parkiran mobil di depan supermarket. Di saat itulah Bryan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Karena jalan yang akan ia lewati cukup mengundang perhatian jika ia memaksa tetap mengendarai mobil.
Jalan setapak yang hanya selebar mobil berukuran sedang yang di hapit hampir kiri kanan rumah adalah jalanan tempat Bryan berjalan kaki sekarang.
__ADS_1
Baru berhasil membobol pintu belakang rumah seseorang. Bryan yang baru melangkahkan kakinya beberapa langkah. Ia langsung di sambut oleh sesuatu yang harus secepatnya untuk segera ia hentikan.