My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.137 Pertemuan terakhir


__ADS_3

Di malam berikutnya. Bryan kembali dengan membawa beberapa camilan untuk Zalfa. Sayangnya di saat ingin menekan bel rumah Zalfa. Salah seorang ibu-ibu tetangga Zalfa yang baru saja keluar dari rumahnya hendak membuang sampah.


Menghampiri Bryan,"Cari Zalfa Mas?".


"Iya Bi".


"Zalfa baru saja keluar".


"Kemana bi?".


"Pamitnya tadi ke tempat kerjanya mas",kata bibi ini.


Bibi itu juga bertanya-tanya tentang Bryan. Dari mulai Bryan ini siapanya Zalfa? Dan mau apa bertemu dengan Zalfa? Terkesan sangat kepo, tapi pada akhirnya bibi ini memberitahu alamat tempat Zalfa bekerja.


Di saat itulah Bryan segera berpamitan berlalu pergi menyusul Zalfa. Dan meninggalkan atau kurang lebih memberikan kotak makanan yang ia bawa pada bibi ini.


"Afif",


"Hemm".


"Yaelah lu jutek",semprot Aftar tak habis pikir dengan sikap dingin kembarnya.


"Mau apa?",tanya Afif yang fokus mengemudikan mobil.


"Antar gue ke makam bunda".


"Ngapain?".


"Ziarah. Masak Party di makam".


".......".


++++++++


Bgk......Tubuh Zalfa terdorong kasar oleh lelaki di depannya. Ia kaget juga takut akan terjadi sesuatu jika ia sampai benar-benar terjatuh. Tapi Zalfa tidak bisa menghentikannya. Akan tetapi tubuh Zalfa tiba-tiba terhenti sebelum mencium ubin lantai.


Zalfa mendongak untuk melihat sesuatu yang telah menyangga keseimbangan tubuhnya,"Bry".


Bryan hanya terdiam tatapan nya lurus menatap tajam bak elang menemukan mangsa lezat untuk di makan pada lelaki yang telah mendorong Zalfa.


"Ayo pulang",ajak Bryan pada Zalfa.

__ADS_1


"Tapi Bry, Tuan.....,"memotong kalimat belum terselesaikan Zalfa dengan tatapan dingin tidak ada penolakan.


Zalfa akhirnya berlalu pergi dari tempat ini. Namun lelaki atau bos tempat Zalfa bekerja justru menghalangi nya. Bryan yang terlanjur geram takut keselamatan Zalfa jadi di pertaruhan. Langsung saja melayang pukulan keras pada lelaki itu sampai tersungkur.


Walaupun sebelum mendaratkan tinjunya. Bryan sempat membisikan sesuatu yang membuat lelaki ini seketika langsung terdiam mematung.


Alhasil karena tindakan Bryan para bodyguard yang melindungi lelaki ini langsung berkerumun mendekat. Melihat itu Bryan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Zalfa.


"Suruh mereka pergi atau ku buat bangkrut seluruh usaha mu, Kai",berpaling menatap tajam pada Kai bos tempat Zalfa bekerja.


Kai yang sudah beranjak bangun dari tempat nya terjadi,"Beri dia jalan",tegasnya pada bodyguard-bodyguard nya.


Di saat itulah. Bryan langsung menyuruh Zalfa untuk berjalan lebih dulu di depannya. Sementara dirinya mengikuti dari belakang.


Bryan tiba-tiba mengenakan Zalfa jaket yang ia kenakan. Sampai menutupi hampir sekujur tubuh Zalfa.


Zalfa hendak menengok dan bertanya, tapi di tahan oleh cengkraman tangan Bryan di atas kepala nya yang menyuruh Zalfa untuk tetap melihat ke depan.


"Panas Bry tidak boleh ku lepas apa?",tanya Zalfa di posisi yang sama.


"Lepas di rumah",kata Bryan bernada dingin.


Setibanya di rumah Zalfa. Bryan yang masih tetap menemani Zalfa ikut masuk ke dalam rumah. Sampai ia menamai Zalfa makan.


Zalfa yang hanya makan seorang diri tanpa Bryan yang hanya berdiam diri saja memperhatikan nya."Kamu tidak lapar?".


"Melihat kamu makan sudah membuat perut ku kenyang",kata Bryan pada Zalfa.


Tersenyum kecut,"Mana bisa, aneh",gumam Zalfa.


Zalfa berganti mengemil beberapa buah yang sudah di potong-potongkan oleh Bryan. Saat sedang menikmati makanan nya. Zalfa yang melihat Bryan mula berkata,"Lapar itu Bry",semprot Zalfa.


Menyilang kedua tangan kembali di atas meja,"Tidak".


"Itu mual-mual kenapa?".


"Entah, sudah beberapa hari ini seperti ini".


"Sudah periksa ke dokter?".


Menggeleng ringan.

__ADS_1


"Periksakan Bry biar segera mendapatkan penanganan dokter ".


"Iya nanti",kata Bryan merogoh kantong celana mengambil dompet kemarin. Ia mengeluarkan kartu hitam dan memberikan nya pada Zalfa."Ambil ini, gunakan kartu itu untuk memenuhi semua kebutuhan mu nanti".


"Kamu akan pergi lagi?",tanya Zalfa tanpa mengambil kartu hitam yang Bryan letakan di depannya.


Bryan terdiam cukup lama sangat lama membuat suasana ruangan ini menjadi sangat hening.


"Bry",panggil Zalfa mencair suasana hening.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang sebenarnya",kata Bryan melihat lurus ke Zalfa."Kalau aku sebenarnya anak seorang ketua Mafia. Keadaan keluarga dan orang-orang yang dekat dengan ku selalu dalam bahaya. Begitu juga dengan kamu".


"Jika musuh ku tau. Aku memiliki hubungan dengan mu. Kamu akan dalam bahaya. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak ku".


Bryan beranjak dari tempat duduknya, ia berlalu mendekati Zalfa yang memutar posisi duduk menghadap Bryan yang berlutut di depannya.


Berlutut sembaring memegangi kedua tangan Zalfa. Bryan bernada suara ragu Zalfa akan mempercayai ucapan nya.


"Maaf aku tidak bisa menikah mu. Aku tidak mau kamu bernasib sama seperti bunda ku".


"Maaf Zalfa, maaf aku tidak bertanggung jawab seutuhnya.",Bryan menenggelamkan wajah di kedua tangan Zalfa.


"Iya, apapun keputusan mu aku tidak akan marah, Bry. Aku justru berterimakasih karena kamu mau datang menemui ku. Kamu bahkan memberikan semuanya, tapi...Bolehkah jika aku membutuhkan bantuan mu, aku boleh menghubungi mu?".


"Iya, tentu boleh".


Tersenyum tipis di barengi menciumi punggung tangan Zalfa.


Sayangnya semenjak hari itu. Bryan sudah tidak pernah lagi datang mengunjungi Zalfa. Yang usia kehamilan nya sudah menginjak 4 bulan. Perut yang sudah mulai terlihat membuncit.


Membawakan buah untuk Zalfa kebetulan keluar rumah membawa dua kantung plastik besar. Bibi tetangga ini segera mengambil alih menukar kantung plastik itu dengan kantung plastik kecil berisik buah yang ia bawa sembaring berkata,"Kalau mau buang sampah panggil bibi saja Zalfa",kata bibi ini.


"Suami mu akan marah jika melihat kamu angkat berat-berat",tegur bibi ini.


"Suami?",ujar.


"Kamu bahkan tidak pernah bilang kalau sudah menikah dengan pria kemarin".


"Bryan",tebak Zalfa membenarkan yang sedang di bicarakan bibi ini.


"Namanya Bryan".

__ADS_1


"Iya bi",kata Zalfa di susul tawa renyah,'Kapan Bryan menemui bibi?',pikir Zalfa bertanya-tanya masih terdiam di ambang pintu yang tertutup memperhatikan punggung bibi tetangga nya yang berlahan-lahan semakin jauh.


__ADS_2