
Kapan mereka mengerti?Tanya nya entah kepada siapa. Karena di tempat ini hanya menyisakan dirinya seorang. Tapi sudah resiko dirinya untuk bertugas sendirian. Sulit untuk nya jika harus melibatkan seseorang yang pada akhirnya akan pergi meninggalkan nya kembali.
Cuaca mendukung walaupun sudah menjelang siang hari. Vlora berjalan-jalan seorang diri di jalanan pejalan kaki Kota G. Ia berjalan santai seperti warga yang lain. Ketenangan itu terjadi karena Vlora sangat menutup rapat-rapat identitas pribadi. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang mengenal baik dirinya. Membuat mereka yang berpapasan dengan Vlora menganggap Vlora sebagai warga kota biasa.
Sejauh dan sebebas apapun Vlora berjalan ia tetap akan terlindungi oleh orang-orang yang tenang yang tertutup cahaya hiu pikuk ramainya jalanan Kota G.
"Sudah lama sejak hari itu jalan-jalan seperti ini belum pernah ku lakukan lagi",batin ku tetap berjalan-jalan melihat sekelilingku. Entah kenapa aku merasa sangat kesepian di tengah keramaian ini. Padahal dulu.
Perhatian ku Yeng terdiam memperhatikan,"Es krim ku",muram kesal seorang laki-laki karena es krim jatuh karena temannya.
Menyodorkan es krim punyanya,"Maaf, ambil saja punya ku",ucap seorang anak laki-laki lain.
Menggeleng,"Tidak mau, aku akan beli lagi".
Langkah Vlora tergerak mendekat, mengambil beberapa lembar uang dari tas nya. Ia bungkuk kan sedikit badan nya di antara keempat anak laki-laki ini.
"Ambil ini untuk membeli es krim lebih banyak lagi",aku yang menyodorkan dua lembar uang pada mereka berempat.
Keempat laki-laki ini terdiam memperhatikan ku, tanpa ada satu anak pun dari mereka yang mengambil uang pemberian ku.
Salah seorang anak laki-laki mengambil langkah maju menyuruh teman-teman untuk mundur,"Kamu mau menculik kita?".
"Eh?".
"Uang itu agar kita mau ikut dengan mu kan. Terus setelah itu kamu membawa kami pergi dan menjual kami".
"Tidak, aku emang ingin memberikan kalian uang ini percuma",kata ku sembaring menarik tangan anak laki-laki di depan ku menaruh uang itu di sana."Aku mau mengganti es krim yang jatuh itu, Anak baik",di susul mengelus lembut surai rambut anak laki-laki ini sebelum akhirnya aku berlalu meninggalkan mereka berempat.
__ADS_1
"Wanita baik sepertinya bukan penculik",ucap seorang anak laki-laki yang es krim nya jatuh.
"Belikan saja es krim aku ingin nambah",sahut yang lain.
Vlora kembali melanjutkan jalan-jalan nya yang tertunda. Baru beberapa langkah seseorang tiba-tiba saja menghentikan langkah nya. Vlora sedikit terkejut di kala menurut nya tidak ada orang yang kenali. Namun sesaat setelah ia melihat seseorang itu.
Masih menggenggam pergelangan tangan Vlora,"Kak Hyuna",ucap Vania seseorang itu.
"Kak Hyuna dari mana?Dari ketemu sama bang Kiki iya",goda Vania..
"Tidak, aku jalan-jalan saja sendirian".
"Umm....", kekecewaan Vania terlihat jelas.
"Kamu dari mana?".
"Terus kenapa ada di sini".
"Sudah pulang kak, hari Sabtu pulang pagi",jelas Vania seorang gadis remaja yang memang masih mengenakan seragam sekolah rapi."Terus ibu tadi telfon minta aku belanja kebutuhan rumah sebelum pulang".
"Kak Hyuna mau menemani aku belanja?",tanya Vania kepada Vlora."Kata bang Kiki tuh kak Hyuna bakal ke rumah, tapi sampai sekarang kak Hyuna belum pernah ke rumah".
"Maaf kakak sibuk banyak pekerjaan".
Tiba-tiba langsung merangkul lengan tangan Vlora,"Kalau mau aku maafin temenin iya kak. Belanja sendirian tidak ada yang di ajak ngobrol tuh kayak orang gila".
Mau tidak mau Vlora akhirnya menemani Vania untuk berbelanja. Walaupun ia belum mengatakan setuju atau tidak nya untuk menemani Vania. Ia sudah lebih dulu di tarik paksa untuk ikut bersama Vania yang tidak mau di tingkatkan.
__ADS_1
Sekian lama menemani Vania belanjaan. Seorang gadis remaja yang sangat jauh berbeda dari kakak-kakak nya ini. Selama bersama dengan nya, Vlora lebih mengenal Vania sebagai seorang extrovert yang sangat aktif jauh berbanding terbalik dengan ke dua kakak-kakak nya. Terutama dengan Daniel, apa lagi dengan Kiki yang lumayan aneh.
Vania yang selesai berbelanja di antar oleh Vlora ke parkiran motor di mana motornya terparkir dengan baik di sana.
Sudah terfokus memperhatikan Vania yang sibuk mengenakan helm,"Sudah bisa naik motor".
"Udah dong, bang Ifan yang ajarin".
"Bukan Kiki".
"Terakhir kali aku di ajarin bang Kiki hampir masuk RS".
Seketika Vlora mengerutkan keningnya penuh pertanyaan.
"Bang Kiki ngajarin aku naik motor nya. Kak Hyuna kan tau sendiri aku ini masih pendek. Eh malah di ajarin naik motor gituan",cerita Vania."Pada akhirnya memang aku bisa, tapi saat aku berhenti aku hampir masuk selokan depan rumah karena tidak sampean kaki ku. Berat pula motornya".
"Bang Kiki langsung cekatan menahan motornya jadi aku baik-baik saja. Tapi Bang Ifan yang ternyata memperhatikan sejak tadi langsung datang geplak kepala bang Kiki".
Sembaring memperagakan,"Pakkk....gitu. Kasihan banget bang Kiki, tapi tenang kak aku selalu melindungi nya. Jadi bang Kiki tidak sampai berurusan panjang sama bang Ifan".
"Tapi iya gitu, sejak saat itu bang Ifan tidak izinin bang Kiki ngajarin aku naik motor. Padahal aku pingin sekali bisa naik motor. Akhirnya bang Ifan lah yang ajarin aku, dia juga yang telah membelikan motor ini untuk ku".
Vlora tidak henti-hentinya menahan tawa mendengar cara bercerita Vania padanya. Gadis remaja ini benar-benar pandai membuat orang-orang di sekitar terhibur.
Sudah naik ke atas motor, dan menyalahkan mesin motor nya,"Duluan iya kak, jangan lupa mampir ke rumah kalau ada waktu luang".
"Iya, hati-hati di jalan jangan ngebut".
__ADS_1
"Siap calon kakak ipar cantik",di susul senyuman tulus nya pada Vlora.