
"Bertemu lagi, Geo",aku tersenyum licik pada Geo om ku, keluarga ku.
"Perlu kau ketahui. Sion sangat pantas untuk pergi ke neraka",kata ku."Bahkan kau juga harus segera menyusul Sion, putra mu",
Pria paru baya ini adalah Geo yang masih terlihat sangat tenang di tengah Vlora sudah siap untuk membantu nya menyusul Sion yang ternyata adalah putra Geo.
"Kalau gitu lekas bunuh diri ku",nada bicara tenang Geo yang berdiri tidak terlalu jauh dari Vlora."Itukan yang kau inginkan saat datang ke sini".
Vlora mengangkat senjata apinya nya. Mengangkat ke depan Geo berdiri dan siap menarik pelatuk nya.
Cekk......
Geo yang awalnya terlihat tenang akhirnya memperlihatkan sisi ketakutan yang sebenarnya dalam dirinya akan kematian.
Padahal saat pelatuk pistol di tarik. Pistol dalam genggaman Vlora tidak memiliki isi. Yang berarti tidak akan ada peluru yang keluar menembak Geo.
Vlora terdiam menatap datar raut wajah ketakutan Geo. Ia mulai berjalan mendekat di barengi dengan tangan yang sibuk mengisi peluru ke dalam pistol dalam genggaman tangan nya.
"Siapa Sion?",tanya ku pada Geo saat sudah berdiri tidak terlalu jauh dari Geo."Aku tau Sion bukanlah anak kandung mu".
"Siapa dia?",aku semakin menatap tajam Geo mengintimidasi diri nya agar mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Namun dia adalah Geo. Iblis licik yang sangat tidak mungkin berkata jujur dengan mudahnya. Alhasil tanpa berpikir panjang Vlora tiba-tiba menembakan beberapa peluru pada Geo sampai dirinya tersungkur tidak sadarkan diri bersimbah darah.
++++++++++
+++++++++++++++++
Tiga hari telah berlalu. Dan selama itu belum ada kejadian apapun yang merusak ketenangan kota G. Membuat kehidupan Vlora sedikit lebih damai.
Di malam ini pun sama. Sangat damai sekali ia bahkan bisa tidur nyenyak lebih awal tidak seperti biasanya. Yang selalu tidur larut malam. Bahkan tidak tidur sama sekali pun sangat sering.
Akan tetapi di tengah tertidur pulas. Vlora tiba-tiba terbangun. Tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama sekali Vlora di dalam kamar mandi tidak kunjung keluar.
Hingga saat Vlora keluar dari dalam kamar mandi. Ia justru di kejutkan dengan kehadiran laki-laki yang seingatnya masih mendekam di penjara. Dia adalah Kiki yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Vlora.
"Mungkin kebanyakan makan",jelas ku berjalan keluar kamar mandi yang di ikuti oleh Kiki."Bagaimana kau bisa masuk?".
"Kau lupa kunci pintu. Kebiasaan",Kiki yang sudah duduk di tepi tempat tidur sampai Vlora.
"Besok pergi ke dokter, kali saja ada penyakit serius. Biar nanti cepat di tanganin",saran Kiki untuk Vlora.
"Iya",
"Kau kenapa bisa di sini?",
__ADS_1
"Kenapa iya? Ceritanya panjang soal nya".kata Kiki terfokus melihat lawan bicara."Kalau cerita nya lama tidak papa. Nanti kau malah bosen marah-marah aku yang kena".
"Tidak, cepat cerita".
"Sebelum nya.....", terfokus menatap lebih dalam Vlora yang merespon cuek dengan kedatangan nya."Kau tidak kangen dengan ku?",
"Tidak",
Mendorong pelan bahu Vlora dengan lengan tangan nya,"Masak sih Yun!?".
"Kau ke sini cuma cari ribut lebih baik ku pulang sekarang. Aku masih pusing, ada kau di sini. Rasa ingin sekali aku menghabisi mu",geram ku meninggikan nada bicara kesal.
"Jahat banget Yun".
"Kau lagi PMS?".
"Ki!",seru ku menatap datar Kiki yang masih cengar-cengir tidak jelas.
Melihat ekspresi wajah Vlora yang memang sudah tidak bisa di ajak bercanda sama sekali,"Aku mulai cerita Yun, serius ini".
".......".
"Waktu di penjara....".
__ADS_1