
Di suatu pagi. Setelah tiga bulan berlalu dan keadaan Kiki sudah berangsur-angsur benar-benar membaik. Sudah bisa melakukan aktivitas keseharian nya. Tapi di dalam rumah tidak dengan di luar rumah.
Itu karena Afif bersikeras kepada Kiki, mewanti-wanti Kiki untuk tidak keluar rumah sama sekali, jika tidak ada keperluan mendadak. Alhasil aktif keseharian Kiki berubah banyak sekali.
Kiki yang keras kepala dan tegas akan suatu hal memilih untuk menuruti keinginan putra satu-satunya yang ia punya saat ini. Ia habiskan sepanjang harinya untuk merawat tanaman-tanaman almarhum istrinya di halaman belakang rumah yang luas. Sehingga tanaman-tanaman itu kembali terlihat cantik dan tertata dengan sangat rapi kembali.
"Ayah",panggil Afif dengan langkah kaki cepat berjalan mendekati Kiki yang berjongkok merapikan salah satu pot bunga.
Kiki berpaling dan sedikit mendongak melihat arah datangnya Afif.
"Ayah tau aku mendapatkan biaya siswa di Rusia".
Kiki yang awalnya tersenyum bahagia melihat raut wajah bahagia anaknya seketika memudar setelah mendengarkan perkataan anaknya.
Berjongkok di samping Kiki,"Ayah tidak suka?".
Belum mendapatkan respon,"Kalau ayah tidak suka aku akan membatalkannya".
"Kapan berangkat?",tanya Kiki pada Afif.
"Ayah mengizinkan ku?",senang Afif dengan raut wajah gembira.
Kiki membalas dengan anggukan ringan. Sembaring beranjak dari tempat duduk yang di bantu oleh Afif.
Kedua berjalan beriringan dan duduk di pondok yang ada di tengah taman untuk berteduh. Sembaring melanjutkan topik pembicaraan yang sempat terputus tadi.
__ADS_1
"Bukankan kamu masih kelas 2. Bagaimana bisa kamu mau kuliah?",tanya Kiki pada Afif yang duduk di samping.
"Seperti tidak mengenal siapa orangnya saja. Sampai ayah bertanya demikian",timpal Afif membuat Kiki terkekeh kecil.
"Dasar anak ku",ujarnya.
Hening sesaat,"Kapan berangkat?".
"Besok malam"Jawab Afif."Tapi sebelum pergi, besok siangnya Afif mau ngasih kejutan ke ayah".
"Kejutan apa tuh??".
"Ayah",
Kiki merespon dengan tertawa lepas bersama Afif. Senang rasanya bisa mengobrol berdua setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Iya, walaupun sebelum ini keduanya sudah banyak kehilangan.
Singkat cerita di siang bolong. Karena sangat tidak sabar mendapatkan kejutan dari Afif. Kiki sampai setia menunggu Afif berjam-jam di ruang tengah rumah dengan pakaian rapi seperti yang Afif mau. Dan enggan pergi dari sana karena takut terlewat.
Hingga akhir seseorang yang Kiki tunggu-tunggu telah sampai. Manik matanya langsung terfokus melihat ke arah datangnya seseorang itu masuk.
Afif dengan seragam sekolah lengkap berjalan mendekati Kiki."Sendirian?",tanya Kiki yang masih terduduk di tempat nya.
"Tidak Yah",balas Afif."Kak Zalfa masuk".
Zalfa dan seorang anak laki-laki dalam gendongan nya berjalan masuk bersamanya.
__ADS_1
Seketika itu Kiki langsung beranjak dari tempat duduknya,"Bryan",ucap Kiki setelah melihat raut wajah anak laki-laki dalam gendongan Zalfa yang sangat mirip sekali dengan almarhum Bryan. Putra pertamanya dan kebahagiaan pertamanya dalam hidup setelah berkeluarga yang telah meninggal.
"Bukan ayah",kata Afif membuat Kiki terdiam sejenak berpaling ke arahnya."Binzo anaknya bang Bryan bukan bang Bryan".
Kiki semakin terdiam, tapi kali ini ia terfokus melihat perempuan yang tengah mengendong anak kecil ini.
"Selamat siang Om",sapa Zalfa tersenyum canggung pada Kiki yang menatapnya dingin.
Kiki terdiam datar tidak merespon apapun. Membuat suasana menjadi sangat dingin, canggung takut Kiki marah di lihat ekspresi wajahnya.
"Ay....".
"Hahahhh...... ternyata aku sudah setua ini. Dapat cucu tampan sekali",Kiki berjalan mendekat sembaring mengambil alih mengendong Binzo yang mau-mau saja ikut Kiki.
Kiki membawa pergi Binzo dari ruangan ini. Membuat Zalfa juga Afif terdiam mematung.
"Ayah mau kemana?".
"Main sama cucu ayah lah",balas Kiki dari kejauhan bernada sangat bahagia.
"Kamu sangat mirip sangat sekali dengan ayah mu",kata Kiki yang masih terdengar sebelum akhirnya benar-benar hilang dari perhatian keduanya.
"Kak",seru Afif membuat Zalfa berpaling melihat ke arahnya."Anggap saja rumah sendiri. Kalau mau apa-apa ambil saja sendiri atau minta atr. Jika pun mau istirahat kak Zalfa boleh istirahat di kamar bang Bryan di lantai 3. Kamarnya nomer empat sampai kanan setelah keluar dari Liv".
"Tapi kalau tidak mau kak Zalfa bisa istirahat di kamar tamu di lantai dua".Sembaring menunjukkan arah di mana kamar tamu berada.
__ADS_1
"Iya, terima kasih".
"Aku tinggal bentar",Afif berpamitan berlalu pergi meninggalkan Zalfa sendirian di ruang tamu rumah ini yang sangat luas sekali.