
Sepanjang hari yang melelahkan Afif lalui dengan sangat baik. Walaupun kegiatan sudah semakin berat dari hari-hari biasanya. Karena Afif sudah mengambil keputusan besar untuk membubarkan organisasi King88 dan Alpha. Tapi sepertinya tidak semudah itu untuk membubarkan organisasi besar.
Alhasil organisasi itu akan tetap ada. Namun akan bergerak sembunyi-sembunyi tidak terbuka lagi seperti dulu. Jadi entah semakin berkembang atau semakin hancur nya organisasi Alpha. Tidak akan ada seorang pun yang tau terkecuali anggota inti terpercaya.
Afif juga sudah menjadi pemimpin perusahaan besar keluar nya. Ia sudah banyak berubah dari mulai penampilan dan gaya hidupnya.
"Om bakal tetap di sini? Kasihan Om. Opa selalu sendirian di rumah. Untung saja tiap malam Minggu aku selalu menginap di rumah Opa. Coba tidak, pasti Opa selalu kesepian",semprot Binzo bercerita.
Di pagi hari sekitar jam 9 siang. Afif dan Binzo tengah duduk bersama satu meja di salah satu cafe di dalam mol pusat perbelanjaan.
"Tidak, aku akan tetap di sini. Banyak urusan yang sudah saatnya aku selesai",kata Afif terfokus melihat lawan bicara.
"Hemmm.....lama iya om",
"Apanya?".
"Bunda ku kalau belanja lama sekali. Makanya aku ajak Om untuk ikut".
"Ceritanya tidak mau mati membosankan menunggu bunda mu selesai belanja".
"Betul sekali", mengacungkan jari jempolnya.
"........".
"Kenapa tidak di tolak saja kalau tidak mau?",
__ADS_1
"Jadi gini Om. Menolak permintaan orang tua itu akan sangat menyakiti hati orang tua kita. Dan aku tidak mau bunda sakit hati karena ku......lebih baik aku yang kerepotan, bunda jangan".
Afif hanya merespon dengan tersenyum tipis.
"Ngomong-ngomong Om kapan nikah?".
"Tidak akan".
"Kenapa? Setiap orang harus menikah, karena setiap orang membutuhkan pendamping di hari tuanya nanti".
"Tidak wajib untuk semua orang Bin",pertegas Afif."Kamu masih kecil jika sudah dewasa nanti kamu pasti akan mengetahuinya sendiri".
"Hem".
Hening cukup lama yang membosankan. Sampai Binzo sanggup menyangga dagunya cukup lama sembaring memperhatikan sekelilingnya.
"Om",panggil Binzo.
"Hem?".
"Om kenal sama perempuan itu?",tanya Binzo dengan penglihatan ke arah yang sama.
"Tidak",balas cuek Afif melanjutkan membaca koran yang semenjak tadi masih ada di dalam pegangan kedua tangannya.
"Dia memperhatikan Om sejak tadi. Om beneran tidak kenal dia. Cantik loh Om".
__ADS_1
"Tidak, jaga pandangan Bin tidak baik terlalu berlebihan melihat orang seperti itu. Sebagai laki-laki kita harus menghormati dan menghargai perempuan".
"Tapi aku hanya melihat nya".
"Menjaga pandangan jauh lebih baik dari pada tidak",pertegas Afif cukup bernada serius semenjak tadi.
Tertunduk lesung,"Baiklah Om, maaf".
"Cepat berkemas. Bunda mu menunggu kita di pintu keluar",Afif beranjak dari tempat duduknya. Pergi ke meja kasir untuk membayar semu pesanan yang telah di pesan. Setelah nya ia kembali lagi ke Binzo yang menunggu dirinya menyelesaikan pembayaran.
Afif dan Binzo berjalan beriringan bersama-sama keluar mol pergi ke lantai satu Mol di mana Zalfa menunggu keduanya dengan keranjang belanjaan penuh siap untuk kedua angkat masuk ke dalam mobil.
"Bunda",ujar Binzo terkejut melihat penuhnya isi keranjang belanjaan Zalfa.
"Sekalian belanjaan beberapa kebutuhan toko yang sudah mau habis".
"Aku ambil mobil dulu",Afif berlalu pergi keluar Mol untuk membawa mobil ke depan mol agar mudah untuk memasukkan barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil.
"Kan bisa suruh orang toko kenapa bunda selalu repot-repot belanja sendiri",gerutu Binzo tidak suka.
++++++++
"Om Jay tau sesuatu tentang Zion?".
"Iya, baji**ngan sialan itu sekarang sudah hidup damai setelah menikahi putri mahkota Kota Y",jelas Jay pada Afif geram. Jay sama dendamnya dengan Afif. Karena Zion sahabat semasa kecilnya harus merenggut nyawa di usia muda. Itulah kenapa Jay sangat membantu Afif melancarkan balas dendam nya.
__ADS_1
"Aku sudah orang terpercaya ku untuk menyusup ke dalam markasnya. Tapi harus tetap bersabar karena tidak semudah itu mendapatkan informasi".
"........".