
"Tuh sampai, dua tuan muda",ucap Fauzi yang sudah duduk bersila fokus memainkan layar ponsel dalam genggaman kedua tangannya.
Melihat dari kejauhan Juan yang sudah turun dari atas motor berjalan mendekat,"Sudah terlambat tidak bawa makanan",omel Wahyu.
"Sorry, gue tadi dengerin dongeng calon kakak",Juan melirik-lirik sekilas Bryan sebelum akhirnya duduk di samping Fauzi untuk bergabung nobar bersama.
Sementara Bryan sudah duduk tidak terlalu jauh dari Wahyu. Sibuk mengobrol dengan Wahyu anak pertama dari tiga bersaudara ini. Bisa di katakan Bryan sedang mengali pengalaman Wahyu yang memiliki dua adik.
"Hmm.....gue biasa saja waktu adik gue lahir. Gue malah sibuk main game",ucap Wahyu enteng sesaat setelah ia selesai mendapatkan rentetan pertanyaan interogasi dari Bryan."Dan menurut gue adik perempuan, adik laki-laki sama saja".
"Walaupun perbedaan mereka berdua sangat jauh",kata Wahyu."Adik laki-laki cukup nakal, tapi juga enak di jahil. Kalau yang perempuan gue tidak terlalu sering ganggu, soalnya gue tidak suka lihat adik perempuan gue nangis".
"Sedang kalau masalah komunikasi. Lebih enakan adik perempuan, kalau yang adik laki-laki gue mengajak gelud dulu baru dia nurut apa yang gue ucapkan".
"Ittss...",mengacak-acak surai rambut kepala nya frustasi.
"Yeelah Bry, jangan di ambil pusing. Jalanin aja, kalau adik lu laki-laki iya udah terima saja. Soalnya sedurhaka apapun adik laki-laki gue dia tetap takut sama gue".
".....".menghela nafas kasar nan panjang.
__ADS_1
Beranjak dari tempat duduknya. Untuk pergi ke tepian jalan di atas bukit ini. Bryan lagi-lagi hanya bisa menghela nafas kasar. Atau kurang lebih ia sudah mulai pasrah, bahwa ia bukan lagi menyandang gelar anak tunggal sebentar lagi.
"Bry",panggil Juan."Fauzi sudah dapat Bry",katanya fokus melihat ke arah laptop Fauzi yang menyalah.
Bryan, Wahyu, Juan, langsung mengerumuni Fauzi untuk melihat data kasus kriminal yang berhasil Fauzi sadap dan dapatkan informasi detail nya.
Ngomong-ngomong, data kasus kriminal yang Fauzi sadap adalah kasus kriminal yang belum pernah terpecahkan.
Next.....
"Gila pinter juga lu",puji Juan mendorong pelan kepala Fauzi.
"Yasudah tidak perlu banyak ba**cot. Mending sekarang kita susun strategi nya",kata Wahyu menenangkan.
Sesaat setelah mendengarkan perkataan Wahyu. Kini giliran Juan yang mengambil alih menyusun strategi untuk rencana selanjutnya.
Singkat cerita Bryan yang baru saja memasuki halaman depan rumahnya langsung di sambut oleh Kiki yang berdiri tepat di ambang pintu masuk utama rumah. Sorot matanya tajam terfokus pada Bryan.
"Kenapa di luar Yah? Ayah kan belum sepenuhnya sembuh",kata Bryan berjalan lebih mendekat. Yang tidak mendapatkan respon apapun dari Kiki.
Kiki tetap tidak merubah posisi ekspresi wajah datar dan tatapan tajamnya,"Sudah lama main-main nya?".
__ADS_1
"Iya soalnya game sudah level teratas, Juan tadi kalah terus-menerus dia minta main terus sampai bisa menang",jelas singkat Bryan dengan ekspresi wajah sumringah.
"......",
"Hanya Game, yang kegiatan lainnya tidak mau kamu ceritakan ke ayah",kata Kiki membuat Bryan yang awalnya sumringah langsung terdiam."Ayah membelaskan kamu bermain bukan berarti ayah memperbolehkan kamu ikut campur dengan urusan dunia kriminal",Kiki semakin meninggikan nada bicara akhirnya.
Kiki yang masih terfokus pada Bryan,"Kamu tidak tau kalau sekali kamu masuk akan sulit untuk kamu keluar".
"Tapi ayah dan Bu....",memotong ucapan belum terselesaikan Bryan,"...Jangan pernah samakan ayah dan bunda dengan kehidupan mu",tegas Kiki membuat Bryan kembali terdiam.
"Ayah bunda ingin kamu hidup normal Bry, jauh dari dunia kriminal. Ayah dan bunda dulu sudah hampir mati Bry karena dunia itu. Kami memang selamat tapi tidak dengan lukanya".
"Apa kamu tidak faham kenapa ayah bunda tidak pernah mengatakan atau menceritakan lebih lanjut kepada kamu. Itu karena kami tidak mau kamu mengalami hal yang sama seperti kami".
"Ayah mohon Bry tinggal dunia itu, cukup ayah dan bunda saja yang merasakan. Kamu jangan Bry kamu harus menjadi orang normal",tutur kata Kiki penuh permohonan untuk Bryan.
Kiki merangkul bahu Bryan yang terdiam. Mengajak Bryan masuk ke dalam rumah bersama-sama."Lekas istirahat jangan bergadang",pesan Kiki pada Bryan.
Bryan hanya membalas dengan anggukan kepala ringan sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ayahnya seorang diri di lantai satu rumah.
Kiki yang masih terdiam di tempat nya berdiri, memperhatikan punggung laki-laki di depannya yang berlahan-lahan semakin menjauh darinya,'Ayah harap kamu menuruti kemauan ayah Bryan',batin Kiki gusar akan masa depan anak sulung nya itu.
__ADS_1