
Musik kencang berbunyi sangat keras sekali, membuat nada suara yang sangat cepat. Namun bernada asik untuk mereka semua yang menikmati berjoget riya di bawah sana.
Di tengah ramainya tempat hiburan malam. Seorang perempuan muda yang mengenakan outfit jaket levis hitam, kaos putih, dan celana panjang jeans hitam. Rambut di gelung tunggal, riasan wajah tipis seakan-akan memang tidak memakainya. Jangan lupa dengan sepatu hitam putih yang ia kenakan. Perempuan ini berjalan santai menyusuri jalanan lorong kamar VIP tempat hiburan malam ini.
Langkahnya terhenti di depan pintu salah satu ruangan dengan nomor pintu 008. Vlora buka pintu ruangan ini berlahan, sebelum masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan. Vlora sudah di sambut oleh dua orang pria yang sudah duduk tenang seorang diri menunggu kedatangan nya. Vlora melangkah masuk dan duduk sova panjang kosong di depan dua pria ini.
"Pria itu telah kembali",ucap salah satu pria. Evano."Kota G dan Kota daerah kekuasaan kakak mu yang dulu akan dalam masalah kembali".
"Aku memang tidak terlalu faham perselisihan yang sebenarnya terjadi antar dua keluarga ini",potong Rio mengambil juru bicara."Namun menurut ku perselisihan akan berakhir jika Vlora. Keturunan keluarga utama mengajukan diri untuk mengisi kekosongan alpha mengantikan ayahnya".
Ucapan Rio yang mendapatkan tatapan serius dari kedua manusia ini."Keputusan itu jelas akan di terima oleh kedua belah pihak anggota. Karena Vlora berhasil mengalahkan saudara nya sendiri yang seharusnya menjadi penerus berikutnya".Lanjut Rio memperjelas maksud nya.
Sesaat setelah hening beberapa detik kemudian,"Tidak semudah itu".Ucap ku.
"Masih ada Johson, keluarga cabang yang masih hidup".
"What?Johson!?Pria egois itu masih satu keluarga dengan mu".Ujar kaget Rio."Jika pun bener kenapa Xana mengangkatnya menjadi pemimpin utama. CK apa Xana tidak berpikir resiko nya".
"Kan keluarga cabang yang telah menghancurkan keluarga nya".Marah kesal Rio pada Xana yang telah tiada.
"Mungkin ada alasan lain Xana melakukan itu",saut Evano."Xana orang yang teliti juga berpikir sebelum bertindak. Tidak mungkin dia membiarkan musuhnya tetap berkeliaran hidup-hidup. Apa lagi jika musuh itu mengancam keselamatan adiknya".
Kalimat terakhir yang membuat Vlora langsung terfokus pada sumber suara.
"Dia memang kejam, tapi dia tidak pernah suka ada orang lain melukai mu selain dirinya sendiri".Pertegas Evano sahabat akrab Xana semasa hidup. Di kala kelamnya masa lalu mereka berdua hampir sama. Di paksa untuk menghabisi kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan mereka.
++++++
Baru saja Vlora masuk ke dalam kamarnya. Vlora sudah di sambut oleh kehadiran Kiki di sana tengah duduk seorang diri di ambang pintu masuk balkon yang sudah terbuka.
"Ki",seru ku di barengi berjalan mendekat setelah selesai mengunci pintu kamar."Ada apa?".
Masih tetap di tempat nya. Kiki hanya berpaling sekilas ke arah Vlora sebelum akhirnya kembali berpaling melihat keluar balkon kamar. Tanpa ada niatan menjawab pertanyaan Vlora.
Keduanya sama-sama hening. Tanpa ada dari salah satu dari kedua maklum bumi ini membuka obrolan terlebih dahulu. Kiki yang masih terdiam di tempat nya memperhatikan langit malam dari ambang pintu balkon Vlora. Tanpa mengubah posisi duduk nya di ambang pintu sejak tadi.
Sementara Vlora sudah duduk di tepi tempat tidur. Sibuk melepas kan sepatu dan alas kaki yang ia kenakan.
Sampai akhir Kiki membuka obrolan. Namun ia belum memiliki niat untuk memalingkan perhatian melihat lawan bicara nya.
"Lain kali kalau keluar jangan lupa kunci pintu balkon nya Yun. Bahaya".
"Lu kenapa?Aneh tiba-tiba ada di sini ngomong gitu. Merinding anjing",Aku di barengi mengelus kedua lengan tangan ku."Apa jangan-jangan lu sudah jadi hantu".
Pakkk.... Tamparan keras mendarat tepat dengan baik di pipi Kiki. Yang entah sejak kapan Vlora sudah ada di depannya untuk menampar pipinya.
"Bukan hantu",ucap enteng ku yang tidak menyimpan rasa bersalah sedikitpun.
"Monyet lu"umpat Kiki mengelus pipi memerahnya.
Duduk di depan Kiki,"Lu serem anjing, gue merinding. Jadi gue berinisiatif untuk memastikan lu masih di hidup atau sudah mati".
__ADS_1
"Sakit yet".
"Sorry",masih dengan ekspresi wajah tanpa rasa bersalah."Kenapa ke sini? Malam-malam masuk ke kamar perempuan. Dasar pria murahan".
Berpaling menatap tajam masih dengan telapak tangan yang masih menyentuh pipi memerahnya,"Kebalik monyet".
"Bener anjing".
"Terserah lu dah".
"Gue serius anjing. Lu ada keperluan apa ke sini?".
"Cuma pingin berkunjung".
Ngedumel yang masih bisa di dengar oleh Kiki,"Anjing kalau tidak punya otak iya gini".
"Lu bilang apa Yet?".
"Abaikan"beranjak dari tempat duduknya."Mau makan minum apa lu?".
"Apa aja yang ada. Gue laper poll sejak tadi nunggu lu tidak balik-balik".
"Siapa suruh juga masuk rumah orang diam-diam. Kayak tidak gue izinkan masuk dan seperti tidak ada pintu saja saja lu sampai mengendap-endap".
"Eh Yet. Lu kan yang sudah nyuruh satpam rumah lu yang badan besar-besar itu buat tidak ada satu orang pun datang ke rumah lu selama lu pergi. Dan saat satpam lu telfon lu malah tidak angkat. Akhirnya gue di usir Yet. Makanya gue susah payah buat masuk sampai bela-belain naik pagar rumah lu yang tingginya mengalahkan menara Evel".
"Anjing!!Baru tau gue kalau pagar rumah gue setinggi itu".Aku tanpa rasa bersalah. Dan tanpa rasa kasihan dengan perjuangan Kiki pun berlalu pergi begitu saja meninggalkan Kiki sendiri di dalam kamar.
Sesaat kemudian Vlora kembali dengan beberapa camilan dan minuman dingin di genggaman tangannya.
Selesai meletakkan bawaan yang ia bawa di atas meja. Vlora pun duduk di sova tunggal dekat sova panjang.
Kiki beranjak duduk, untuk mulai membuka salah satu dari bungkus camilan yang Vlora bawa.
Sudah terfokus pada lawan bicaranya,"Kapan pulang?".
"Ngusir".
"Gue ngantuk anjing, gue tidak bisa tidur kalau lu masih ada di sini".
Fokus mengunyah camilan nya,"Yaelah tidak perlu khawatir, gue tidak tertarik pada pria".
"CK!Anjing",umpat ku."Buka itu yang gue maksud be**go. Gue juga faham lu tidak normal".
"Gue memang tidak bisa tidur karena lu pasti bakal berisik sekali anjing. Toh sekarang saja lu nonton tv dengan volume keras".Aku menatap tajam lawan bicara ku marah.
Kiki mengambil report tv dan langsung mengecil volume suaranya,"Sudah beres. Sono pergi".
"Anjing lu".
"Salah lagi".
"Iya lah, ini kamar gue. Seenaknya saja lu perintah gue".
__ADS_1
"Gue tidak memerintah, gue cuma menginfokan".
"Ihhh". Akhirnya aku segera beranjak dari tempat duduk. Berlalu pergi meninggalkan Kiki, untuk pergi ke kamar mandi mendi mencuci muka sebelum tidur.
+++++
Jam 12 tengah malam sudah lewat. Namun Vlora belum tidur sama sekali sejak tadi sampai sekarang. Lantas ia beranjak bangun untuk duduk dari tempat tidur. Menatap Kiki yang masih ada di sana asik menonton acara TV.
Di tengah tatapan Vlora yang memperhatikan Kiki. Tanpa ia sadari Kiki sudah berpaling memperhatikan nya balik.
"Lu kenapa belum tidur Yet?".Tanya nya tanpa merubah posisi duduknya.
Masih terdiam di tempat dengan tatapan kosong yang masih memperhatikan.
"Oi Yet, lu kenapa?Serem be**go, lu memperhatikan gue kayak gitu"Kiki sedikit meninggikan nada bicara membuat Vlora sedikit kaget tersadar dari lamunannya.
Tersenyum manis menyeramkan, di susul berkata,"Gue kesulitan tidur anjing. Padahal besok harus berangkat pagi".
"Ohh!!Kasihan".Sebelum kembali fokus dengan acara tv mengabaikan Vlora.
Vlora merai ponsel nya juga headset. Dengan harapan dirinya bisa tidur dengan mendengarkan musik.
Boro-boro bisa tidur, matanya malah makin lebar menyalah terang. Dan isi kepala semakin berisik membuatnya kembali melamun menatap langit-langit kamarnya yang membosankan juga gelap.
"Oi Yet".
Berpaling menatap tajam sesosok laki-laki yang sudah berdiri di samping tempat tidur nya,"CK".Umpat ku berpaling merubah posisi membelakangi nya.
"Gue menawarkan diri sebagai pembaca cerita. Bisanya orang kalau tidak bisa tidur setelah....,"terpotong oleh Vlora yang tiba terbangun duduk. Menatap menakutkan ke arah Kiki yang melotot kaget.
"Duduk sini lu"Suruh ku.
"Eh".
"Duduk Anjing"Aku menarik pergelangan tangan Kiki.
Sudah terduduk di atas tempat tidur. Menyilangkan kedua tangan di depan dadanya,"Jangan di apa-apa Yun. Gue masih perjaka".
"Mata mu anjing"umpat ku,"Gue tidak tertarik sama yang tidak normal".
"Monyet lu!!".
"Gue minta tolong. Tolong elus-elus punggung gue".
"What!?".
"Katanya lu mau bantu gue".
"Apalah, gue tadi mau Pamit pulang".Mendapatkan tatapan datar.
Tidak memperdulikan kehadiran Kiki. Entah masih ada di sini ataupun tidak. Vlora pun kembali membaringkan tubuhnya. Tidur membelakangi Kiki yang masih terduduk di samping nya.
Namun tiba-tiba ia merasakan ada tangan besar yang mengelus-elus lembut punggung nya,"Tidur nyenyak Yet".
__ADS_1
"Ya anjing".