
Suasana dalam kamar yang awalnya menghangat kembali menjadi hening. Karena pertanyaan yang belum pernah mendapatkan penjelasan jelas dari Vlora. Kiki pertanyakan kembali pada Vlora. Namun setelah mendengar kebenaran nya, di situlah situasi semakin hening.
Dan Kiki secepatnya mencairkan suasana dengan basa basi tidak berguna nya. Membuat Vlora kembali seperti Yuna.
Kiki yang sudah mengetahui kebenaran tentang penyerangan di perbatasan utama Kota.
Membuat suasana yang awalnya sudah menghangatkan menjadi hening serius kembali.
"Geo adalah pelaku kekerasan di perbatasan kota".Tebak Kiki asal.
"Iya",aku yang tetap tenang karena sudah mengetahui betul seorang Kiki mustahil belum mengetahui dalangnya selebih dahulu.
"Btw lu jadi tidak ada niatan ngambil gue makanan gitu",Kiki kembali dengan lawakan nya.
"Gue belum belanja, semua camilan kosong dan lu sendirian yang menghabiskan".
"CK".
Beranjak dari tempat duduk,"Gue pulang".
"Serius lu pulang?",aku yang sudah terfokus pada lawan bicara ku yang sibuk mengenakan sepatutnya.
"Mampir-mampir bentar mungkin".
"Jangan terlalu dekat mencari informasi atau kau akan kembali babak belur seperti dulu".
"Okay",membuka pintu kaca balkon."Jangan lupa di kunci Yun".
__ADS_1
"Hemm".
"Hemm apa?".
"Iya anjing".
"Monyet lu",Kiki menutup pintu balkon.
Vlora berjalan ke sana untuk mengunci pintu balkon. Melihat keluar balkon yang sudah tidak melihat batang hidung Kiki kembali.
Baru selesai mengunci pintu balkon. Ponsel yang ia biarkan tergeletak di meja kecil dekat tempat tidur menyalah bergetar.
Vlora berjalan ke sana, mengambil ponsel nya menggeser gagang telepon yang bergetar-getar di layar ponsel nya untuk menerima panggilan.
*Vlora kau belum mendapatkan ide apapun?".
*Perbatasan selatan dalam bahaya".
*Aku akan segera ke sana".
*Kau bilang jangan gegabah, tap....".
*Mereka jauh lebih membutuhkan, aku sudah tau apa yang harus ku lakukan".
Panggil di akhir sepihak oleh Vlora.
++++++
__ADS_1
Penyerangan kembali terjadi. Vlora di buat pontang panting, pergi kesana, pergi kesini. Sampai ia tersadar jika ini hanya sebuah permainan om nya yang ingin mempermainkan diri. Kurang lebih supaya Vlora terlihat bodoh di depan para anggota nya.
Vlora memutus untuk memisahkan diri dari para anggota nya. Ia menyuruh seluruh anggota untuk kembali ke markas. Sementara diri nya sendiri akan berkeliling sendirian.
Sudah tau itu akan membahayakan dirinya. Bahkan Raka sudah mengingatkan dirinya dan melarangnya. Vlora tetap akan pergi. Karena om nya tidak akan pernah berhenti sebelum ia sendiri yang datang menemui nya.
Next......
Tanpa Vlora sadari, tepat saat ia sampai di tempat perbatasan akhirnya tempat antar anggota mafia biasa saling berinteraksi. Kiki iku mengikuti sampai di sini. Mengunakan motor yang biasa ia kendarai.
"Anjing, kenapa lu kesini?".
"Tugas lu juga tugas gue",balas Kiki singkat padat terdengar tidak ingin lagi mendengar bantahan.
Tepat saat keduanya sudah sampai di depan pintu perbatasan. Vlora dan Kiki langsung di sambut oleh gerombolan para anggota Mafia ZCBlack. Yang siap menerkam keduanya.
"Monyet banyak banget",gumam Kiki.
"Hemm",fokus ku yang hanya tertuju pada satu arah. Yaitu pada seorang pria berjas rapi di belakang Johson.
Pria itu tersenyum licik pada keduanya. Seakan-akan puas dengan permainan nya yang berjalan sangat lancar.
Pria itu adalah om Vlora. Om Geo anak kedua dari dua bersaudara. Putra kedua saudara kandung kakek Vlora yang telah tiada.
Vlora sudah banyak mendengar jika Geo memang selalu berusaha untuk mendekati Johson. Namun selalu di gagalkan oleh kakak nya Vlora. Mendengar kabar tentang kematian Xana membuat Geo memiliki peluang besar untuk mengendalikan Johson. Sebagai mesin pembunuh yang akan melahirkan kebencian, kesedihan, dan haus akan balas dendam.
Iya, tujuan Geo adalah ingin melahirkan kebencian di mana-mana. Agar mereka semua merasakan apa yang pernah ia rasakan. Melihat ayahnya sendiri terbunuh di depan nya dan ibunya yang mengakhiri hidupnya di depan nya.
__ADS_1