My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.142 Siuman


__ADS_3

Sayup-sayup kedua kelopak mata yang sudah terpejam cukup lama ini akhirnya membuka mata. Sepasang manik mata dengan perhatian kabur ini melihat sekeliling ruangan yang sunyi senyap. Ruangan sangat tidak asing untuk ia lihat.


Ruang kamar rawat inap rumah sakit. Dan ia adalah Aftar yang akhirnya siuman setelah beberapa hari koma. Ia yang sendirian melihat sekeliling ruangan yang sunyi senyap. Tak ada suara kebisingan apapun di dalam ruangan ini selain suara monitor pendeteksi detak jantung yang terpasang di tubuhnya.


Tangan lemah ini tergerak berlahan-lahan terangkat untuk melepaskan alat bantu oksigen yang ia gunakan.


"Bang Bryan ikut dengan bunda boleh. Kenapa aku tidak Bun? Sakit sekali berada di sini. Aftar sangat lelah",kata Aftar memandangi langit-langit kamar rawat nya.


Sampai bui bening lolos membasahi pipinya pun Aftar biarkan. Ia jauh lebih fokus dengan rasa sakit di dada kirinya. Membuat tubuhnya mulai menggeliat kesakitan. Menjerit pun percuma tidak mungkin ada seorang pun yang mendengar.


Hanya ucapan lirih saja yang dapat Aftar katakan,"Bolehkah aku menyerah?",


Setengah sadar Aftar samar-samar masih dapat mendengar suara teriakan perawat yang baru memasuki ruang kamar rawat inap nya panik. Entah karena apa?

__ADS_1


"Cepat panggil dokter Sus".


"Sus cepat pakai alat bantu oksigen nya".


"Aftar",salah seorang suster."Aftar tarik nafas pelan-pelan. Bernafas pelan-pelan Aftar",dengan sesekali menepuk pipi Aftar pelan agar kesadaran nya tetap terjaga sampai dokter Yuta yang menanganinya tiba.


Brummmm.......Baru beberapa menit mendapatkan kabar adiknya dalam keadaan kritis. Afif tanpa berpamitan dengan pihak sekolah langsung tancap gas pergi dari sekolah untuk secepatnya pergi ke rumah sakit.


Di jalan Kota yang sangat ramai ini Afif mengemudi mobil dengan ugal-ugalan. Ia tidak memperdulikan apapun. Isi kepala penuh dengan bayang-bayang negatif adiknya, bukan lagi tetap resiko yang akan terjadi.


Tabrakan yang tidak terhindar membuat bagian depan mobil Afif ringsek parah. Akan tetapi sesaat setelah tabrakan antara sadar ataupun tidak. Afif membuka pintu mobil nya sendiri. Ia berjalan keluar sempoyongan menahan rasa sakit luar biasa di kening nya.


Ia bahkan mengabaikan kehadiran orang-orang yang membantu nya. Afif memilih pergi dari sana dalam keadaan kening yang masih mengeluarkan darah.

__ADS_1


Sesaat setelah berjalan tidak terlalu jauh dari pusat kecelakaan. Afif masuk ke dalam mobil taksi,"Antar aku ke rumah sakit....",kata Afif pada supir taksi ini.


Supir ini mengikut saja walaupun menyimpan sedikit keheranan melihat luka yang masih berdarah di kening lelaki ini.


"Afif kecelakaan",ujar Raka kaget."Di mana?".


"Perempatan jalan besar Kota".


"Kamu urus kasus Afif di sana, aku akan pergi ke Rumah Sakit menemui Daniel. Katanya dia sudah mulai siuman",kata Raka secepatnya berlalu pergi begitu juga Kenan teman ngobrol Raka sejak tadi.


Di rumah sakit masih dengan menahan rasa sakit Afif tetap berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terasa sangat panjang sekali menurut untuk segera sampai di kamar rawat inap adiknya. Padahal langkah kaki Afif saja yang terlalu lambat berjalan.


Sampai seseorang tiba-tiba merangkul lengan tangan dari samping,"Ayo",ajak Juan seseorang yang akhirnya menuntut Afif berjalan pergi ke kamar rawat inap Aftar.

__ADS_1


Setibanya di sana Juan berkata,"Tidak mau mengobati bekas luka mu dulu?".


Mengerti maksud Juan Afif langsung membalas dengan anggukan kepala tanpa bantahan. Alhasil keduanya tidak jadi masuk ke dalam kamar rawat inap melainkan pergi untuk mengobati luka Afif terlebih dahulu.


__ADS_2