
Sudah lebih dari satu Minggu. Sendi atau Kiki mencari keberadaan Vlora yang tidak membuahkan hasil sampai pada hari ini.
Selama itu Sendi telah mengakui dirinya sebagai Kiki. Dan selama itu selain mencari keberadaan Vlora ia juga mencari keberadaan pria tua yang menemui nya di tempat pembuangan sampah.
Karena masih belum dapat mengingat identitas nya. Kiki masih tetap tinggal bersama dengan perempuan tua yang telah merawat nya dan yang menganggap dirinya sebagai putra nya. Ia juga telah mengetahui tentang bagaimana ia bisa di rawat oleh perempuan ini. Dari mulai ia yang di ketemukan tergeletak di pinggir jalanan perbatasan kota dengan tubuh penuh luka bersimbah darah. Sampai akhir ia siuman setelah koma berbulan-bulan di rumah perempuan tua ini dalam keadaan tidak mengingat apapun. Ingin perempuan ini membawa kembali Kiki ke rumah sakit, akan tetapi karena keterbatasan uang ia mengurungkan niatannya. Ia memilih untuk merawat Kiki di rumah.
Next....
Saat siang Kiki menjalani keseharian yang biasa ia lakukan selama dua Minggu terakhir setelah sembuh. Yaitu membantu berjualan sayuran di toko perempuan tua ini. Dan saat malam ia mencari keberadaan Vlora dan pria tua misterius itu.
Hingga tibalah menjelang malam hari. Belum sempat makan malam. Kiki langsung beranjak keluar rumah untuk melanjutkan pencariannya ke seluruh kota. Dengan sepeda angin yang ia pinjam dari perempuan tua yang merawat nya.
Kiki pergi dengan harapan besar di hari ini ia akan menemukan sesuatu yang membawa nya untuk bertemu dengan Vlora.
'Aku mohon pertemukan aku dengan Yuna, bantu aku Tuhan',batin bergumam dengan harapan yang sangat besar.
__ADS_1
Uhukk...uhukk.... terbatuk-batuk sangat sesak sekali ia rasakan di dada semakin Vlora rasakan semakin menusuk. Bukan sekedar batuk tapi tubuh Vlora juga sangat dingin berkeringat.
Vania yang menyadari segera berjalan kembali lagi pada Vlora setelah mengambil selimut miliknya. Ia bahkan sampai melepaskan jaket yang ia bawa untuk menutupi tubuh bergetar menggigil kedinginan Vlora.
"Panas",ujarnya seketika cepat menjauhkan telapak tangannya dari kening berkeringat Vlora."Badan kak Hyuna panas sekali, aku...",nada bicara semakin merendah bergetar ketakutan.
Sudah siap tergerak untuk membantu Vlora dengan mencari bantuan seseorang pria yang tengah berjaga di luar penjara ini. Vania justru di hentikan oleh Vlora yang sudah menggenggam pergelangan tangan nya. Seakan-akan sudah tau apa yang akan di lakukan Vania.
"Jangan kemana-mana. Tetap di sini, Abang mu akan segera datang",kata ku bernada bicara rendah."Jangan lakukan apapun yang mempersulit Abang mu mencari mu".
Vania tergerak lebih mendekat lagi pada Vlora untuk memeluk erat, menambah kehangatan tubuh yang sudah berbalut selimut ini.
"Dia",Kiki yang mengayunkan pedal sepeda anginnya semakin cepat untuk mengejar mobil yang baru saja tancap gas, mobil yang baru saja di naiki oleh seorang pria tua waktu itu. Walaupun sudah sangat jauh, Kiki tetap tidak hilang semangat untuk tetap mengejar mobil itu.
Sett...Brakk.... bugkk..... terlalu fokus dengan apa yang ia kejar. Kiki sampai tidak menyadari jika lampu perempatan jalan ini sudah menyala merah. Alhasil mobil dengan kecepatan tinggi berlainan arah dengan nya menabrak dirinya sampai tubuh terpental jauh bersama dengan sepeda angin yang ringsek parah.
__ADS_1
Kiki tergeletak di tengah jalan bersama dengan merah pekat yang mengalir deras dari sela-sela surai rambut kepala nya. Bahkan hidup juga mulutnya.
Di sinilah Kiki kembali bergumam lirih memanggil nama yang sama,"Yuna...aku harus bertemu dengan Yuna",
"Bang Kiki",Vania berteriak dalam hati langsung melonjak bangun dari tidur.
Ahh itu hanya mimpi buruk, dan dia tengah tertidur dalam pelukan Vlora. Tapi tunggu!Kenapa Vlora tidak lagi membalas pelukan nya. Vania yang sudah menyadari seketika itu juga langsung sangat panik.
Vania pegang pipi wajah pusat di depan nya ini,"Kak Hyuna",panggil nya bernada rendah bergetar. Dengan harapan Vlora akan bangun membuka kelopak mata nya.
"Kak Hyuna",panggil sekali lagi. Namun kali ini dengan menggenggam tangan yang sudah terkulai lemah itu.
Vania segera menempelkan kepala atau daun telinga nya di dada Vlora dengan harapan besar yang di dalam sana tetap berdetak.
"Pasti akan, tidak bisa seperti ini, pasti masih ada",racau nya masih tetap menunggu suara decak jantung Vlora."Kita harus keluar dari sini bersama-sama kak Hyuna, aku mohon bertahan lah, aku mohon kakak".Vania yang semakin putus asa sangat-sangat putus asa.
__ADS_1
Vania sudah tidak mendengar apapun di dalam sana. Vlora benar-benar sudah tidak bernafas lagi. Tapi Vania masih tetap di sini, engan beranjak untuk memberitahu kepada mereka tentang apa yang terjadi pada Vlora. Karena Vania percaya Vlora hanya tidur, bukan meninggal. Vania masih percaya jika ia akan bebas dari sini bersama dengan Vlora.