My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.52 Johson terbunuh


__ADS_3

Seseorang tiba-tiba saja datang. Menendang Johson sampai terpental jauh. Tidak berhenti sampai di situ seseorang ini sampai berani menodongkan ujung tajam pedang sangat dekat sekali dengan leher Johson. Yang membuat perhatian Johson sedikit mendongak ke atas melihat seseorang yang berdiri tepat di depan nya.


Orang itu adalah Nona Aska. Putri tunggal seorang tangan kanan ketua Alpha.


Entah tau dari siapa Nona Aska sampai bisa datang tepat pada waktunya ke tempat ini. Yang jelas kedatangan Nona Aska sangat membuat yang lain terkejut. Karena walaupun seorang perempuan Nona Aska adalah putri tangan kanan ketua Alpha. Walau ayah nya seorang mantan tangan kanan ketua Alpha. Tapi tetap saja apa yang pernah di lakukan ayah Nona Aska sangat membekas pada ingat mereka, sekalipun mereka seorang anggota baru. Baru terjun ke dunia gelap.


Setelah melontarkan beberapa ucapan yang sangat sekali ia lekas menebas kepala pria ini,"Kenyataan tidak dapat dirubah",ucap Nona Aska."Kau adalah putra pria bodoh itu, dan tidak seharusnya Xana memberikan mu kehidupan sampai sejauh ini".


"Kau pantas mati",Nona Aska dengan nada bicara nya yang tetap tenang.


Tersenyum beringas,"Jika kau mau aku mati",ucap Johson."Maka matilah bersama ku putri pecundang".


Para anak buah Johson sudah siap menodongkan senjata nya masing-masing ke setiap orang-orang yang bernaung di bawah Vlora.


"Satu peluru melesat aku pasti seluruh keturunan kalian hancur di tangan ku",nada bicara tegas seseorang yang baru saja memasuki ruangan.


Raka dan Kiki memberikan jarak, memberi ruang untuk seseorang ini berjalan masuk ke ruangan ini.

__ADS_1



"Hah!?",tatapan mata dingin itu tertuju pada Johson."Turunkan senjata kalian",minta Gio yang segera di laksanakan walaupun mereka adalah anak buah Johson.


Toh siapa yang berani melawan Gio. Om Vlora yang paling kejam. Seorang pria yang tidak segan-segan melakukan apapun agar keinginan nya terpenuhi dengan baik. Sekalipun itu harus menghabisi mereka yang menghalangi jalannya.


"Lebih baik Nona Aska mengobati luka-luka Vlora. Aku tidak mau sampai keponakan infeksi karena luka-luka yang tidak segera di tanganin",kata Gio tanpa berpaling ke arah lawan bicara.


Sudah terfokus pada lawan bicara. Nona Aska hendak mengucapkan kata. Yang di urungkan oleh Jlepp..... Entah sejak kapan Vlora sudah bergerak mendekat keributan ini. Sampai tiba-tiba saja katana milik Vlora sudah menusuk tembus dada kiri Johson dari belakang.


Johson melirik sekilas ke arah sumber datangnya pedang katana yang sudah menembus dada kiri nya. Sebelum akhirnya di susul dengan dirinya yang terbatuk mengeluarkan merah pekat dari dalam mulut nya.


Belum puas sampai di situ. Vlora semakin menekan katana lebih dalam lagi ke dalam sana. Tanpa memperdulikan rintihan kecil Johson.


Ia mencabut katana nya paksa dari sana, belum lama katana itu tercabut. Johson langsung kehilangan kesadaran dan tumbang tidak sadarkan diri.


Penampilan berlumuran darah, pedang katana masih dalam genggaman tangan kanan nya berlumuran darah segar milik Johson yang masih menetes-netes. Sepasang sorot mata tajam bak elang yang tidak memperlihatkan sedikit pun rasa ketakutan dengan apapun di dalam sana. Seperti Vlora sudah benar-benar kehilangan jatidiri Yuna di dalam sana.

__ADS_1


Kehilangan, kesendirian, kehilangan lagi, kesendirian lagi, satu alasan yang merubah Vlora benar-benar menjadi seorang Vlora bukan Yuna yang humoris. Sudah di katakan, jika tidak ada alasan lagi untuk merasa bahagia. Itulah yang telah membuat nya benar-benar menjadi perempuan tegar.


"Sudah berakhir",ucap ku bernada suara tenang."Cepat kalian berdua pergi, bukankah dulu pernah ku katakan jika aku tidak mau melihat kalian berdua membantu. Sekalipun kalian berdua melihat aku sekarat, jangan pernah datang",aku yang semakin meninggikan nada bicara ku pada mereka berdua.


"Pergi!!!",bentak ku.


Gio langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sementara Nona Aska yang masih ada di sana berkata,"Tidak ku sangka semua yang pernah terjadi sangat melukai mu".


"Memang",timpal ku."Bagiku setelah kematian ayah dan bunda aku sudah tidak pernah lagi memiliki keluarga. Kalian berdua adalah orang asing untuk ku".


Tanpa mengatakan sepatah katapun Nona Aska berlalu pergi dari tempat ini. Meninggalkan ruangan ini.


Terfokus pada Raka dengan sorot mata tajam melihat nya,"Bereskan kekacauan ini, aku tidak mau melihat kotoran ini ada di sini lagi",ucap ku masih bernada tegas."Jika perlu buang dia ke tebing jauh dari pusat Kota. Tidak perlu ku jelaskan panjang lebar kau pasti sudah mengetahui apa yang ku maksud kan".


Vlora berjalan berlahan di antara keduanya. Dengan pedang katana penuh darah masih dalam genggaman tangan nya.


Langkah kepergian Vlora membuat Kiki terdiam mematung di tempat nya. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba sulit sekali ia gerakkan. Padahal dalam hatinya sangat mendorong dirinya untuk menghentikan Vlora.

__ADS_1


__ADS_2