My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.105 Hasil surat


__ADS_3

Selesai keluar dari ruang pemeriksaan. Vlora yang sudah dalam perjalanan keluar dari gedung rumah sakit. Tanpa sengaja berpapasan dengan Ifan kakak kandung ketiga Kiki.


"Ifan",panggil ku pada laki-laki yang berjalan terlalu jauh di depan ku.


Ifan menghentikan langkah kakinya dan berpaling ke arah belakang,"Kenapa ke sini? Om sakit lagi?".


"Tidak, aku kesini cuma menembus obat-obatan nya yang akan habis".


"Hemm".


"Kamu sendiri kenapa ke sini?".


"Periksa kesehatan".


"CK! Ternyata seorang ketua bisa sakit juga",kata Ifan di susul senyum sumringah nya."Kiki tau soal ini?".


Di barengi dengan melanjutkan perjalanan berjalan kaki beriringan keluar rumah sakit.


"Iya, dia yang memberiku saran untuk pergi ke dokter".


"Vlora",seru Ifan kembali menghentikan langkah kakinya saat sudah di luar gedung rumah sakit."Kalau bisa, kalian berdua lekas menikah. Tidak baik terlalu lama menunda-nunda sesuatu. Lagian kalian berdua saling menyukai bukan".


"Aku menyarankan kalian untuk segera menikah karena aku sangat ingin Kiki sedikit menjauh dari kegiatan di organisasinya".


Aku yang sudah terfokus melihat lawan bicara ku,"Setelah menjadi istri aku juga tetap tidak berhak mengatur-atur rutinitas nya. Terutama rutinitas pribadi yang sudah biasa Kiki lakukan".


"Aku hanya bisa mengarahkan nya ke jalan yang benar, tidak dengan melarangnya nya".


"Kau pasti mengenal Kiki. Tidak semudah itu untuk mengatur Kiki".


"Iya sudah, aku pergi duluan",aku yang berlalu pergi lebih dulu meninggalkan Ifan yang masih terdiam di tempat nya berdiri.


+++


Di dalam mobil Vlora langsung menghubungi seseorang di seberang sana melalui panggilan telepon melalui ponselnya. Sebelum akhirnya ia menyalahkan mesin mobil untuk tancap gas meninggalkan area parkiran rumah sakit.


Selang beberapa waktu kemudian. Vlora yang sudah sampai di rumah segera beranjak turun dari dalam mobil setelah selesai memarkir mobil dengan benar.

__ADS_1


Vlora berjalan berlahan masuk ke dalam rumah, lewat di samping sepeda motor yang terparkir tidak terlalu jauh dari mobil nya.


Setelah di dalam rumah. Di ruang tamu Vlora sudah di tunggu oleh seorang laki-laki. Yang tidak lain adalah Kiki yang memang Vlora suruh untuk datang kediaman rumah nya.


Sudah terfokus pada Vlora yang duduk di samping nya. Tidak seperti biasanya yang selalu duduk jauh dari nya,"Ada apa Yun?".


"Dokter tadi tidak bilang yang aneh-aneh kan. Kamu sehat kan Yun? Kenapa Yun? Kenapa kau memanggil ku?",Kiki langsung memberondong Vlora dengan unek-unek pertanyaan dalam benaknya. Apa lagi setelah Kiki melihat raut wajah muram Vlora. Kiki semakin khawatir bukan main.


"Tadi aku ketemu kakak mu?",


"Siapa?".


"Ifan".


"Sedang apa dia ke rumah sakit?",gumam Kiki bertanya-tanya. Yang masih dapat di dengar oleh Vlora.


Memukul kuat bahu Kiki,"Iya buat beli obat ayah mu. Kau ini anak durhaka, ayah masih belum cukup membaik malah di abaikan. Keluyuran terus tidak jelas".


"Jangan lupa Ki. Orang tua mu tinggal satu, rawat dia baik-baik sebelum kau menyesal seperti saat kau kehilangan ibu mu",tutur kata ku yang ada baiknya.


"Iya".


"Aku akan lebih sering di rumah untuk menemani ayah".


"Hanya menemani?".


"Aku juga akan merawat dengan baik, seperti saat aku merawat mu".


"......".


Teringat dengan penasaran tadi soal hasil surat kesehatan Vlora yang belum sempat Vlora katakan pada Kiki. Membuat Kiki mengulangi kembali pertanyaan nya,"Jadi gimana hasilnya Yun? Kamu sakit apa?".


Memberikan amplop coklat yang langsung di ambil oleh Kiki sebelum Vlora suruh untuk mengambil nya.


Kiki langsung membuat mengambil isi surat untuk segera ia baca isi hasil tes kesehatan Vlora.


"Anjing lu",umpat ku pada Kiki yang fokus membaca selembar surat kesehatan Vlora.

__ADS_1


"Eh! Yun seriusan ini?",tanya Kiki tidak percaya terfokus melihat Vlora.


"Hem".


"Perasaan aku keluar cuma dikit loh Yun".


Mengangkat tangan nya mengepal kuat, dan Kiki yang sudah memasang kuda-kuda untuk melindungi dirinya.


Aku justru menghela nafas panjang menahan amarah.


Menurunkan kedua tangan yang sudah menyilang didepan wajahnya,"Eh! Tidak jadi di pukul Yun?".


"Kiki. Aku harus bagaimana?",aku berganti memasang ekspresi bingung juga sedih.


"Bagiamana gimana? Aku akan tanggung jawab toh emang itu yang aku mau".


"Ki!!",bentak ku tegas.


"Kamu takut kedua Abang ku dan ayah tidak merestui?",tanya Kiki terfokus melihat Vlora."Kalau soal itu serahkan saja pada ku. Aku yang akan menjelaskan nya pada mereka".


"Bukan itu".


"Bagaimana jika....? Aku ini ketua mafia Ki. Banyak yang tidak suka dengan kehadiran ku. Apalagi aku adalah cucu terakhir keluarga Alpha. Aku pemilik segalanya. Nyawa anak kita nanti akan terancam. Kalau hanya aku yang terancam tidak masalah, tapi......aku tidak mau...",perkataan ku yang akhirnya berakhir saat Kiki membawa ku ke dalam pelukan.


Kiki mengelus lembut punggung Vlora,"Aku akan melindungi kalian berdua. Sampai tidak ada satupun orang yang bisa menggoreskan luka kecil pada kalian berdua".


"Percayalah pada ku, kamu dan anak kita akan baik-baik saja".


"Benarkah Ki? Aku takut anak kita bernasib sama sep....".


Menghapus bui bening yang membasahi pipi Vlora,"Tidak ada yang bisa menyakiti anak kita Yuna. Aku akan melindungi kalian berdua".


"Maaf Ki, kamu harus terjebak dengan wanita seperti ku".


"What? Terjebak maksudnya? Aku melakukan bukan karena sengaja, juga bukan karena kamu. Justru aku yang memaksa mu. Kenapa kau minta maaf, aduh Yuna. Jika kau bersikap seperti ini kau benar-benar seperti....",memijat pelipis kepalanya."Yuna juga bukan Vlora juga bukan".


"Hemmhehhh.....",tanpa terasa aku justru tertawa lepas melihat tingkah lucu Kiki yang tidak pernah berubah setiap kali bertemu.

__ADS_1


Kiki yang menyadari nya ikut tersenyum bahagia melihat seseorang yang ia sayangi akhirnya benar-benar tertawa bukan karena paksaan.


__ADS_2