My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.130 Kenyataan pahit


__ADS_3

Hujan deras mengguyur Kota G sejak menjelang sore hari hingga malam hari. Di sertai badai juga guntur yang menggelegar membuat kilatan cahaya petir sampai berhasil menembus ke dalam gorden tebal kediaman rumah mewah ini. Sudah dapat terbayangkan bagaimana derasnya hujan di malam ini.


Tokk.....Tokk.....Tokk...Tokkk.....Suara ketukan pintu yang di ketuk sangat cepat dan terburu-buru.


"Tuan Bryan, Tuan Bryan, Tuan Bryan",di barengi dengan suara memanggil-manggil nama Bryan.


Seseorang itu adalah Bi Ningsih salah satu asisten rumah tertua di kediaman rumah ini setelah asisten yang dahulu telah pensiun.


Bi Ningsih mengetuk-ngetuk pintu kamar Bryan dengan dangat panik dan tergopoh-gopoh. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk sanga pemilik kamar keluar dari dalam kamarnya.


Belum sempat Bryan bertanya Bi Ningsih terlebih dahulu berkata bernada panik juga khawatir,"Tuan, adik Tuan, mas Aftar pingsang Tuan di toilet kamar nya".


Tanpa bak bi buk lagi Bryan langsung berjalan pergi meninggalkan kamarnya masuk ke dalam Liv untuk pergi ke lantai kamar adiknya berada.


Setibanya di sana sudah ada Afif yang menangis di sampaikan tubuh tidak sadarkan diri Aftar karena terlalu syok Afif melihat keadaan memperihatinkan Aftar untuk pertama kalinya dalam hidup nya.


Afif sangat pucat lusuh dengan baju penuh becak merah darah terduduk tidak jauh dari wastafel. Saat setelah ia mengeluarkan banyak cairan seluruh isi perut yang ia makan ke dalam wastafel. Karena terlalu lemah sehabis mengeluarkan semuanya. Dan mimisan yang tidak kunjung berhenti. Aftar akhirnya kehilangan kesadaran dan pingsan di dalam toilet kamarnya.


Di saat itulah Bi Ningsih yang paling dekat dengan Aftar hendak mengantar segelas susu hangat seperti biasanya yang Aftar minta ke kamar Aftar. Bi Ningsih yang tidak mendapatkan keberadaan Aftar yang biasa selalu duduk di kursi belajar. Menjadi sangat khawatir, ia mencoba mengetuk pintu kamar mandi. Dengan harapan Aftar sedang ada di sana. Namun belum sempat ia mengetuk pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka membuat Bi Ningsih dapat melihat jelas tubuh terkulai lemas pingsan Aftar di sana.


Di situlah Bi Ningsih yang panik langsung mencari bantu, ia mulia mengetuk pintu kamar Afif sebelum akhirnya ia berlalu pergi ke kemar Bryan.

__ADS_1


Bryan memang sama syok nya dengan adiknya Afif. Akan tetapi ia berusaha setenang mungkin, untuk segera mengangkat tubuh adiknya agar bisa secepatnya ia bawa ke rumah sakit. Setelah ia memeriksa denyut nadi adiknya yang masih bergerak.


Bryan mengemudi mobil dengan sangat hati-hati di sepanjang perjalanan yang masih di guyur hujan deras membuat jarak pandang mobil sedikit terganggu.


Setibanya di rumah sakit. Aftar langsung di larikan ke ruang gawat darurat untuk segera mendapatkan pemeriksaan secara intensif. Karena keadaan nya yang semakin memburuk. Afif bahkan sampai mendonorkan darahnya untuk Aftar yang mengalami anemia sangat parah.


Hingga akhirnya jam 2 malam Aftar baru berhasil pulih dari keadaan kritis. Walaupun begitu ia masih belum di perbolehkan keluar dari ruangan ini ataupun di pindahkan ke ruang rawat inap biasanya. Karena Aftar masih harus mendapatkan pemantauan khusus dari dokter yang menangani nya.


Sepanjang malam itu. Bryan dan Afif dengan di dampingi oleh Ifan seorang yang sangat setia mendampingi kedua keponakan yang tidak bisa berhenti gelisah mencemaskan keadaan Aftar.


Dokter yang menangani Aftar keluar dari ruang rawat intensif. Bryan, Afif, dan Ifan langsung menyambutnya dengan tergopoh-gopoh.


"Pihak keluarga Aftar bisa ikut saya ke ruangan saya?Ada hal penting yang perlu sampai tentang kesehatan Aftar".


Bryan yang sudah duduk di kursi yang tersedia dengan dokter yang menangani adiknya di ruangan kerja pribadi dokter.


Dokter Yuta yang duduk di kursi kerjanya mulai berkata,"Maaf saya harus memberitahu kabar buruk ini. Dari hasil pemeriksaan, kondisinya sudah sangat parah. Aftar sangat terlambat mendapat penanganan. Kini kerusakan pada organ hatinya sudah sangat gawat. Pengobatan biasa mungkin tidak akan berpengaruh. Aftar harus segera melakukan operasi pencangkokan hati".


Bryan terdiam seribu bahasa. Dengan isi kepala yang sangat berisik. Kenapa harus adik nya? Ayah belum di ketemukan? Apakah kau juga akan mengambil adik nya? Kau sudah merenggut nyawa ibu nya. Apa yang telah dirinya lewatkan, hingga berjanji yang telah ia buat untuk menjaga adik-adik nya gagal ia lakukan. Sampai ia tidak menyadari penyakit mematikan ini ada di dalam tubuh adik nya. Pikir Bryan hancur.


Sirosis hati

__ADS_1


Penyakit mematikan organ vital hati itu bersemayam di dalam tubuh Aftar. Kerusakan pada organ hati yang jika di biarkan tanpa penanganan, dapat memicu kompilasi penyakit mematikan lainnya.


"Jika di biarkan. Sirosis dapat memicu kanker. Dan pada kasus Aftar kemungkinan besar itu bisa terjadi".


Pertahanan Bryan sudah hancur, ia mengepalkan kuatkan kedua tangan nya. Ia memang tidak pernah membebani apapun pada adiknya. Tapi ia gagal dalam memahami apa yang sebenarnya rasa sakit yang di rasakan Aftar hingga menghancurkan hati yang Aftar miliki.


"Tapi bagaimana bisa bisa, dok. Selama ini adik saja baik-baik saja. Adik saya sangat menjaga kesehatannya dengan baik, ia bahkan tidak pernah meninggalkan rutinitas favorit olahraga basketnya. Bagiamana bisa tiba-tiba begini?",Bryan tidak menerima kabar pahit yang tidak bisa dirinya sangkal.


"Sirosis biasanya di picu karena pola hidup yang tidak sehat. Faktor paling umum nya karena terpapar Hepatitis atau terlalu sering meminum minuman beralkohol. Akan tetapi dalam kasus Aftar, di sebabkan karena penimbunan lemak di hati nya. Pemicunya bisa karena stres atau pola tidur tidak sehat. Walaupun Aftar sering olahraga, tapi jika imun nya tidak baik, maka kemukiman besar ini bisa menjadi faktor penyebab nya".


"Gejala muncul secara berkala. Mungkin Aftar tidak menyadari atau memang Aftar menyembunyikan nya dari yang lain".


Hanya bisa terdiam. Bryan mulai berjalan keluar dari ruang pribadi dokter Yuta dalam keadaan muram. Belum juga masalah ayahnya terselesaikan, masalah lain justru datang membuat nya semakin hancur sangat sedih.


Namun baru juga ia membuka pintu ruangan ini. Bryan langsung di sambut oleh Afif yang sepertinya sudah mendengarkan semua yang di bicarakan oleh dokter Yuta dan dirinya.


Manik matanya terfokus melihat Bryan berkaca-kaca ini akhirnya pecah. Afif tidak bisa lagi menahan kesedihannya setelah mengetahui penyakit yang saudara kembar nya derita.


Ia memang sedang sedih dan sangat ingin sekali menangis. Tapi ia adalah satu-satunya bahu panutan pertahanan adik-adik sekarang. Ia tidak boleh menangis, ia harus kuat demi adik-adik nya.


Bryan yang memendam semua kesedihan yang ia rasakan pun merangkul bahu layu di depannya ini.

__ADS_1


"Menangislah sebanyak-banyaknya yang kamu bisa, agar nanti saat Aftar siuman ia tidak sedih karena melihat kesedihan ini",tutur kata Bryan.


__ADS_2