
Waktu itu! Sudah selama dua hari Bryan tidak pulang sekalipun ke rumah. Ia di sibukkan dengan kegiatan di luar rumah. Sibuk mengejar Zion yang berhasil Bryan dapat informasi tempat persembunyian nya.
Sayangnya setelah pengejaran panjang menguras tenaga. Bryan dan Daniel yang awalnya menyusun rencana dengan sangat baik justru di hancurkan dengan tembok perlindungan Zion yang jauh lebih licik melindungi keberadaan nya. Zion justru menjebak mereka berdua dengan ribuan anak buahnya. Bahkan sebagian dari mereka adalah anak buah keluarga Alpha sendiri.
Bryan dan Daniel berlari sebisa mungkin, menerabas dinginnya angin malam. Untuk menghindari gerombolan pria-pria bersenjata yang mengejar mereka berdua.
"Lari pun tidak ada gunanya",kata Daniel sembaring terus berlari. Sebelum akhirnya menghentikan langkah kakinya,"Kamu pergi saja aku akan menyusul nanti",suruh Daniel pada Bryan.
"Cepat",suruhnya sedikit membentak.
Dengan ragu Bryan tetap memilih untuk melanjutkan berlari menjauh meninggalkan Daniel seorang diri di belakang.
'Seenggaknya aku berguna bagi Kiki',pikir Daniel bersiap menyusun strategi nekat melawan mereka semua sendirian. Dengan hanya mengandalkan satu pedang katana dalam genggaman tangan nya. Karena hanya itu senjata yang tersisa. Di kala isi peluru dalam pistol telah habis.
__ADS_1
Bryan masih berlari sebisanya untuk secepatnya mencari bantuan agar bisa menyelamatkan Daniel. Terus berlari sampai berpapasan dengan anggota keluarga Alpha yang di pimpin oleh Raka.
"Di mana Daniel?",tanya Raka.
"Cepat ikuti aku",ajak Bryan tanpa istirahat berlari kembali ke awal ia berlari untuk menyusul Daniel sebelum terlambat.
Daniel terus mengayunkan katana dengan sangat baik melukai beberapa musuhnya. Bahkan sampai ia sudah terluka parah sekalipun karena peluru tembakan musuh.
Begitu juga dengan Bryan dan Raka. Perkelahian antar geng mafia terus terjadi. Dan baru berhenti saat bala bantuan lebih besar dari Raka kembali datang.
Sayangnya saat itu bala bantuan datang terlambat. Bryan sudah terkapar bersimbah darah di pangkuan Daniel.
Merangkul tubuh yang sudah tidak berdaya ini lagi"Bry bangun, jangan seperti ini Bry bangun",Daniel dengan bui bening yang ia tahan-tahan agar tidak sampai menetes.
__ADS_1
"Cepat bantu bawa mereka ke RS",suruh Raka tegas.
Daniel terlalu sibuk dengan musuh di depannya sampai tidak menyadari ada musuh lain di belakang yang siap memberondong tubuhnya dengan senapan laras panjang otomatis.
Raka berhasil menghentikan dengan menebas kepala musuhnya ini dengan katana. Akan tetapi itu semua tidak menghentikan peluru-peluru yang sudah terlanjur di tembakan. Maka Bryan berlari ke arah belakang Daniel dan menggunakan punggung nya sendiri sebagai tameng melindungi Daniel.
Bak....Bak....Bakk.....Peluru bersarang cukup dalam di dalam tubuh Bryan membuat ia langsung tidak sadarkan di saat itu juga.
Namun Tuhan berkehendak lain. Bryan meningal sebelum mendapatkan penanganan dokter. Ia kehilangan banyak sekali darah dengan luka sobek cukup parah di hati nya lah yang membuat mustahil untuk Bryan selamat dari luka tembakan itu.
Tangis Aftar pecah saat ia melihat sendiri tubuh terbujur kaku Bryan. Apalagi semenjak sakit Aftar menjadi pribadi yang lebih sangat sensitif. Ia jadi lelaki yang mudah menitihkan air mata karena hal-hal kecil di sekitarnya.
Dengan sepasang manik mata yang sudah memerah,"Bang Bryan kan tidak memiliki riwayat sakit apapun. Bagiamana dia bisa divonis serangan jantung? Ia selalu sehat bahkan lebih sehat",kata Aftar penuh amarah pada Afif."Jawab Fif?",membentak
__ADS_1