My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Eps.6 Hanya mengenal nama ku


__ADS_3

"Wah benar-benar suami istri ini. Tidak masuk sekolah saja janjian".Ucap Anzel.


Ana tidak terima nama sahabat di bawah-bawah,"Jaga Ba**cot lu. Yuna tidak masuk karena sakit iya".


Vernon yang baru saja sampai di kelas,"Ini Kiki juga sakit. Dia baru saja telfon gue suaranya ilang".


"Ko bisa?".Tanya Anzel.


Yang di balas kedipan bahu oleh Vernon yang terfokus pada Ana,"Kalau Yuna kenapa?".


"Demam".Balas Ana ketus.


Jehan mengelus-elus bahu Vernon,"Sabar bro. Situasi ini akan sangat berat untuk lu sebagai buaya yang tidak pernah gagal".Awalnya Vernon mendengar dengan baik ucapan Jehan yang mengerti perasaan nya. Akan tetapi karena kalimat akhir Jehan. Vernon langsung menepis tangan Jehan yang mengelus-elus punggung nya.


"CK mau bantu atau mematahkan semangat gue bang**sat!!".


"Gue bicara menurut logika yang gue lihat".


"Sudah diam gurunya datang".Kata Hanai melerai keributan di belakang bangkunya.


+++++


Vlora sengaja mengambil libur tidak masuk sekolah hari ini. Karena ada keperluan tertunda, kejadian kemarin yang harus ia selesaikan hari ini juga. Yang sangat membutuh nya muak. Dan di hari ini. Vlora hanya akan full terfokus pada keperluan yang ia tunda.


Kini Vlora tengah mengemudi mobil Buggati hitam untuk pergi ke tempat bisa. Untuk bertemu dengan para anak buah nya. Walaupun mobil BMW putih nya sudah di ambil oleh satpam rumah nya. Vlora tetap mengendarai mobil Buggati hitam yang khusus untuk keperluan pribadi nya.


Oya!Perlu kalian ketahui. Jika mereka hanya mengenal nama ku. Vlora ,Queen Mafia King88. Tidak dengan identitas ku yang sebenarnya. Bahkan tidak pernah ada yang tahu wujud ku sebenarnya seperti apa. Hanya anggota tertentu saja yang mengetahui ku.


Next......


Di jam yang sama. Kiki juga tengah menyusuri jalanan kota G mengendarai motor nya untuk mencari tempat kakak pertama nya bekerja.


Selesai mengantarkan adik perempuan nya berangkat sekolah. Ia langsung tancap gas melaksanakan misinya bolos sekolah.


Baarrr.......Tepat di lampu lalu lintas yang menyalah merah. Kiki menghentikan laju motor nya.


Begitu juga dengan Vlora yang tanpa keduanya sadari keduanya tengah berada di tempat yang sama. Sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.


Vlora langsung tancap gas saat lampu menyalah hijau. Mendahului motor Kiki yang melaju santai.


++++++


Sudah 9 jam Kiki berkeliling jalanan kota dan tidak mendapat keberadaan kakak pertama nya sama sekali.


Matahari juga semakin bersinar terang di atas sana. Dan Jam makan siang juga sudah tiba. Kiki memutuskan untuk singgah di rumah makan untuk mengisi perut.


Kiki yang sudah duduk menunggu pesanannya di antar,"Harus cari di mana lagi?".Gumamnya entah bertanya pada siapa. Sembaring mengacak-acak surai rambut kepalanya yang lumayan panjang.


++++


Kembali ke ruangan dengan warna coklat tua mendominasi. Tempat di mana Vlora tengah duduk di kursi kebesaran nya. Menangkup kan kedua telapak tangan berdiri menutupi sebagian wajah nya. Menyisakan kan tatapan dingin nan tajam saja. Yang memperhatikan depan nya. Di mana Kenan dan Daniel tengah berdiri.

__ADS_1


Tanpa kehadiran Raka yang Vlora suruh untuk mengurus perusahaan keluarga nya.


Selesai mendengar informasi yang Kenan dapatkan,"Maksud kalian ada orang dari dalam kota G yang ikut bergabung dengan ZCBlack. Orang itu yang selalu memberikan informasi seputar perkembangan dalam Kota. Benar?".Aku yang dengan tatapan dingin ku.


"Benar Nona".Balas Kenan.


"Terus cari informasi terbarunya".Kata ku,"Untuk pengganggu selajutnya ku serahkan pada Daniel. Biarkan untuk sementara waktu Kenan yang menjaga perbatasan. Kamu fokus lenyapkan pengganggu itu."


"Siapapun dia kau harus melenyapkannya. Melindungi satu nyawa tidak lah penting dari ribuan nyawa yang akan terancam karena satu pengganggu".


"Baik Nona. Mafia King88 tidak pernah melanggar sumpahnya".Ucap Daniel.


"Jangan sampai bocorkan masalah ini kepada anggota di bawah".Ucap ku beranjak dari tempat ku duduk,"Semakin sedikit yang mengetahui kebenaran akan jauh lebih baik".


"Baik Nona".Balas mereka berdua bersamaan.


"Kalian bisa pergi".


"Baik, permisi".


+++++


Memberikan helm pada adik perempuan nya,"Abang jadi bolos sekolah tadi?".Tanya Vania pada Kiki.


"Iya, cepat di pakaian helm nya".Suruh Kiki pada adik nya.


Selesai memakai helm Vania langsung beranjak naik ke atas motor. Menyadari adiknya sudah duduk dengan baik. Kiki segera menyalakan mesin motor sebelum tancap gas meninggalkan halaman depan pekarangan sekolah SMP adik ku.


"Itu Vania bukan?".


"Buset anak itu masih kelas dua saja ganti-ganti cowok".


Gosip para cewek langsung terhenti oleh kehadiran seorang pemuda yang menghentikan motor nya tepat di samping mereka berdiri bergosip.


Membuka kaca helm nya,"Kalian mau di bunuh sama Abang nya Vania".


"He?!".


"Laki-laki yang baru saja menjemput Vania adalah abangnya. Makanya otak di pakai sebelum berbicara".Pemuda ini berlalu pergi tancap gas meninggalkan pekarangan sekolah setelah selesai membuat para ciwik-ciwik bergosip kena mental.


++++++


Sampai di kediaman rumah. Kiki yang sudah mematikan mesin motor nya mempersilahkan adik nya untuk turun terlebih dahulu. Yang baru di susul oleh dirinya sembaring melepaskan helm yang ia kenakan.


Menyadari ponsel dalam saku roknya berdering. Vania segera merogoh kantong rok nya, menunjukkan layar ponsel dalam nada panggilan telepon,"Aku telfon bentar, emak-emak lampir akan ngomel kalau tidak di angkat".


"Iya. Mau di buatkan makanan apa?".Tanya Kiki.


"Tidak perlu nanti pesan saja, kasihan Vania tuh setiap hari lihat Abang masak muluk padahal cowok. Kan tidak lucu cowok bisa masak".


"Hmm,"Sembaring menyungging senyum tipis sebelum berlalu masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.

__ADS_1


Di dalam rumah. Sudah menjadi kebiasaan Kiki untuk pergi ke dapur mengambil air mineral terlebih dahulu untuk ia tegak. Akan tetapi saat ia sampai di dapur.


"Bang Ifan".Seru Kiki melihat pemandangan yang sangat mustahil terjadi. Atau memang tidak mungkin.


Ifan yang tengah sibuk menata peralatan makan,"Tepat waktu. Makanan nya sudah jadi".Ucap nya di barengi melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja makan.


"Abang ngapain?".Kiki melangkah lebih mendekat ke dapur.


"Iya masak buat kalian".


"Tapi??Abang sehat?Maksud ku?".Kiki merasakan ada yang aneh dengan kakak ketiga nya ini.


"Sebenarnya saat ibu pulang terlambat. Ibu selalu berpesan pada ku untuk tidak pulang terlambat agar bisa membuat kan kalian makanan".Kata Ifan menjedah ucapan nya,"Tapi aku selalu mengabaikan nya. Maaf baru kali....".


"Yoo....bang Ifan!!".Ujar Vania yang baru saja memasuki ruangan.


Perempuan ini langsung berdiri di depan Kiki menghalangi jalan Kiki dengan merentangkan kedua tangannya,"Bang Ifan mau hajar bang Kiki lagi iya. Aku bakal telfon ibu kalau Abang melakukan nya lagi. Beneran Vania tidak bohong".


Menggenggam bahu adiknya,"Tidak dik. Sudah berdiri di sini. Jangan emosi nanti cepat tua".Kiki menggeser dengan mudahnya tubuh Vania untuk berdiri di samping nya.


Ifan yang masih terdiam di tempat nya, mulai berjalan lebih mendekat pada saudaranya.


Menghentikan langkah nya tepat berdiri tidak terlalu jauh dari kedua saudaranya,"Maaf soal kejadian waktu itu. Seharusnya aku sebagai yang tertua melerai. Akan tetapi aku malah membiarkan kamu di hajar oleh bang Ikbal".


"Bagus kalau sadar".Ujar Vania,"Intinya Abang ku cuma dua. Tidak untuk kalian yang jahat".


"Sudah dik".


Meninggalkan sedikit nada bicara,"Emang bener bang. Bang Kiki masih saja membela mereka".


"Benar kata Vania. Orang seperti ku memang tidak pantas menjadi Abang yang baik untuk kalian yang seharusnya Abang jaga".


Ifan tiba-tiba membungkukkan badan di depan kedua adiknya,"Maafkan Abang, entah kalian mau memaafkan atau tidak. Abang benar-benar menyesal. Maafkan saya".


"Eh!!Bang tidak perlu kayak gini juga. Lagian kejadian nya juga sudah lama. Aku sudah melupakan nya".Kiki yang hendak membantu Ifan untuk kembali berdiri dengan benar. Akan tetapi di hentikan oleh Vania yang bergerak lebih dulu membantu Ifan.


Vania menggenggam kedua bahu runtuh ini,"Sebagai adik yang baik dan tidak sombong, Vania memaafkan bang Ifan. Tapi bang Ifan harus janji tidak boleh galak-galak lagi".


"Iya Abang berjanji".Ifan sembaring mengacak-acak surai rambut kepala Vania.


Tidak marah dengan perlakuan abangnya,"Bang Ifan kalau gini kelihatan ganteng dan baik loh. Jauh berbeda dari biasanya".Kata Vania.


Yang membuat Kiki sedikit bernafas lega sekaligus bahagia akhirnya salah satu abangnya sudah berubah. Walaupun belum di ketahui karena apa. Tapi bodoh lah yang penting abangnya sudah berubah menjadi Abang yang baik untuk adik nya.


"Kalian mau makan?".Tanya Ifan,"Aku sudah buat susah-susah ini".


"Hemm".Dehem Vania memperhatikan makanan di atas meja. Tidak lupa dengan tatapan masih belum yakin seutuhnya jika abangnya benar-benar berubah baik.


Menyadari nya,"Kalian berdua pasti trauma dengan kejahilan bang Ikbal yang memasukkan obat sakit perut ke dalam makan waktu itu".


"Maka untuk membuktikan jika tidak ada apa-apa di dalamnya. Abang akan mencicipi semuanya terlebih dahulu".Ifan yang berlalu mengambil sendok dan mulai mencicipi satu persatu makanan.

__ADS_1


Melihat tidak ada yang aneh saat Abang nya sudah memakan makanan di atas meja. Kiki pun merangkul bahu Vania untuk mengajaknya makan bersama.


Kami berdua akhirnya memakan makanan telah di siapkan olah Ifan untuk kami. Bersamaan dengan bang Ifan yang ikut makan bersama kami. Entah kenapa suasana rumah saat hari ini sedikit berbeda. Dari Vlora yang biasanya hanya berdua saja atau sendirian saja makan di rumah. Kini kami bertiga. Walaupun masih terasa sepi, seenggaknya ada satu anggota keluarga yang ikut bergabung.


__ADS_2