
Setelah turun dari dalam mobil nya. Tapp....Tapp.....Berlari sekencang-kencangnya di tengah malam sampai masuk ke perkampungan pinggir kota.
Afif dan Aftar tidak henti-hentinya terus berlari untuk menghindar dari segerombolan orang-orang pria yang mengejar mereka berdua. Mereka yang mengejar sampai mengikuti keduanya berlari masuk ke dalam perkampungan ini.
Seakan-akan tidak ada hari yang berpihak baik kepada mereka berdua membuat keduanya harus terjebak di gang buntu kampung ini.
"Sial anjing",umpat Aftar kesal dan marah.
Afif mengambil balak kayu yang ada di tumpukan sampah dan memberikan pada Aftar,"Pakai ini".
"Terus lu".
"Ambil jangan sampai lu terluka",paksa Afif pada Aftar.
Mengambil kasar balok kayu itu,"Cik! selalu aku selalu aku", ngedumel kesal Aftar selalu di prioritaskan.
Hingga akhir gerombolan pria-pria itu menemukan keduanya. Mereka yang berjumlah dua puluh orang langsung masuk berganti ke dalam gang buntu sunyi sepi gelap ini.
"Semakin kalian memberontak kami tidak segan-segan untuk menghabisi kalian berdua",ancam pria di barisan paling depan.
Afif yang berdiri paling depan dari Aftar,"Sampai mati pun aku dan abang ku tidak akan ikut bersama kalian",kata Aftar dengan tatapan sinis pada mereka. Jauh sekali dengan Afifi yang tetap terdiam tenang bersiap melawan serangan tiba-tiba dari mereka.
"Hajar",suruh pria ini pada anak buahnya.
__ADS_1
Bakk....Bakk....
Afif dan Aftar sama-sama fokus dengan lawan di depan mereka masing-masing. Yang semakin banyak mereka tumbangkan semakin banyak berdatangan menyerang.
Brekk.....entah karena apa. Saat Afif menengok, ia sudah melihat adik kembarnya terjatuh ke atas tumpukan sampah. Seketika itu Afif semakin fokus menyerang hingga ia berhasil dekat dengan adik nya.
Depp..... Afif berhasil mengunakan tubuhnya sebagai tameng Aftar yang akan di tusuk pisau oleh musuh.
Seketika itu suasana yang ricuh menjadi sangat hening. Kehening yang mengiringi tumbang nya tubuh Afif berlahan-lahan.
Aftar segera menempa tubuh Afif sehingga tidak sampai membentur aspal jalanan ini. Tangan Aftar yang bergetar ketakutan ini pun tergerak menggoyang-goyang kan pipi Afif yang sudah tidak pingsan karena dalamnya luka tusuk yang melukai tubuhnya.
"Afif, Afif bangun, aku mohon bangun",minta Aftar bergetar ketakutan. Manik matanya yang sudah memerah berkaca-kaca.
"Bangun Afif, aku janji tidak akan nakal. Aku akan menurut aku tidak akan membuat kau kesal. Bangun Afif",Attar dengan harapan yang sangat besar nya agar Afif membuka kedua kelopak matanya kembali.
Lelaki yang telah membantai keseluruhan orang yang ada di luar gang saat ini sudah berdiri di balik kegelapan tepat di depan gang buntu dengan pakaian yang sudah acak-acakan kedua tangan berlumuran entah itu darah musuh atau darah tangannya sendiri. Lelaki itu adalah Bryan yang di kuasai emosi meluap-luap.
"Hoi!",nada suara berat Bryan menatap tajam mereka semua.
Belum juga Bryan melakukan apapun mereka yang baru saja melihat Bryan ada di depan mereka seketika mengambil satu langkah kaki mundur. Seakan-akan mereka sudah sangat mengenal kejamnya Bryan.
__ADS_1
Bryan dengan langkah kaki santai berjalan lebih mendekat pada mereka dan mereka semakin mengambil langkah mundur.
Tepat di saat sudah cukup dekat. Bryan semakin terlihat jelas juga semakin bisa mendengar suara rintihan sedih Aftar adik bungsunya.
Langkah kaki cepat berjalan membela kerumunan ini. Sampai akhir Bryan bisa melihat dengan jelas Afif yang sudah terkapar tidak sadarkan diri dalam pangkuan Aftar.
Hingga seseorang tiba-tiba memukul Bryan dengan balok kayu dari belakang membuat Aftar baru menyadari kehadiran Bryan di sini. Namun kehadiran Bryan justru membuat Aftar membulat manik matanya karena melihat Bryan mendapatkan pukulan cukup kuat di belakang kepala.
Sayangnya walaupun begitu. Bryan tetap terlihat baik-baik saja. Ia bahkan berbalik badan mengepalkan kedua tangannya dan langsung menghajar mereka semua sendirian dalam hitungan detik. Tanpa jeda waktu untuk menarik nafas.
Di saat itulah Bryan selesai menghabisi mereka semua sendirian. Bryan kembali mendekat ke kedua adiknya. Dengan jalan yang sempoyongan, seperti luka di belakang kepala sudah cukup parah hingga menguras darahnya.
"Cepat bantu Afif berdiri. Dia hanya pingsan",kata Bryan pada Aftar.
Aftar yang di bantu oleh Bryan akhirnya berhasil membawa Afif masuk ke dalam mobil. Di saat itulah Bryan memberikan kunci mobil pada Aftar. Seakan-akan Bryan sudah menyadari betul dirinya tidak bisa bertahan lebih lama lagi, sekarang saja perhatiannya sudah mulai mengabur.
"Kamu berani kan?",tanya Bryan saat memberikan kunci mobil pada Aftar.
Cukup ragu namun Aftar menyakinkan dirinya jika dirinya pasti bisa menyelamatkan kedua saudara sekarang. Sehingga ia pun mengangguk menerima kunci mobil Bryan.
Di dalam perjalanan ke rumah sakit menembus dingin jalanan malam kota G. Aftar yang fokus-fokus nya mengemudikan mobil dengan kecepatan yang lebih cepat.
"Bang Bryan tadi sudah mendapatkan telfon dari ayah?",tanya Aftar hingga beberapa menit tidak mendapatkan jawaban dari Bryan yang duduk di kursi penumpang samping nya.
__ADS_1
Tidak mendapatkan balasan itulah. Aftar berpaling sekilas melihat ke arah Bryan. Walaupun posisi duduk Bryan tidak menghadap dirinya, tapi Aftar menyadari betul jika Bryan sudah pingsan. Apalagi di tambah dengan darah segar yang mengalir membasahi pakaian dan kursi tempat Bryan bersandar.
Aftar semakin panik manik matanya semakin berkaca-kaca. Tapi ia sadar jika dia panik ia pasti akan membuat kedua saudara dalam bahaya. Ia harus tetap tenang agar bisa fokus menyetir mobil dengan baik dan sampai di rumah sakit dengan selamat. Supaya kedua saudara cepat mendapatkan penanganan dengan baik oleh dokter.