
"Aaahh....sial pusing sekali",ujar Afif beranjak bangun dari tempatnya tidur. Dan duduk di tepi tempat tidur sembaring memegangi kepalanya yang pening,'Aku tidak mabuk semalam, tapi kenapa pusing sekali',Afif bertanya-tanya dalam pikiran nya.
"Bagaimana semalam?Menyenangkan?",tanya Kiki menyilangkan kedua tangannya bersandar di ambang pintu masuk kamar Afif.
Afif terdiam terfokus pada tempat ayahnya yang berjalan mendekat.
Kiki terduduk di samping Afif di susul hembusan nafas beratnya,"Ayah tidak bermaksud melarang apa yang ingin kamu lakukan. Kamu sudah dewasa kamu berhak menentukan hidup mu sendiri. Tapi saran ayah jangan terlalu berlebihan. Minuman beralkohol sangat tidak baik untuk kesehatan mu".
"Juga jangan main perempuan. Ingat selalu tuturkan bunda mu".
Terfokus masih melihat ke arah ayahnya,"Iya ayah maaf. Semalam aku minum terlalu banyak".
"Saking banyaknya berjalan ke kamar pun tidak bisa",kata Kiki membuat Afif terdiam."Kamu tidak sadar diri di depan pintu, ayah pikir kamu pisang karena belum makan. Soalnya kamu sering mengabaikan waktu makan mu".
"Tapi setelah di dekati, kamu mabuk",berubah ekspresi menjadi datar.
Mendengar itu Afif hanya benar-benar bisa terdiam merasa bersalah karena membuat ayahnya khawatir. Pasti di malam itu ayahnya sangat panik saat melihat dirinya tiba-tiba pingsan.
'Tapi jika boleh jujur saat kembali kemarin aku dalam keadaan baik-baik saja. Apa jangan-jangan efek minuman nya baru terasa saat aku sampai di depan rumah. Saat itu aku sudah tidak ingat apapun. Kemarin aku juga minum banyak sekali, sial perempuan itu benar-benar sangat merepotkan',pikir Afif dalam lamunan nya.
__ADS_1
Menepuk bahu Afif,"Cepat bebersih diri dan turun, ayo sarapan bersama",Kiki sebelum berlalu meninggalkan kamar Afif setelah mendapatkan balasan anggukan kepala ringan dari Afif.
Afif beranjak dari tempat duduknya. Berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya yang sangat lengket ini.
"Ah.....sial....gue minum terlalu banyak, pusing nya sial",sembaring memegangi kepalanya dan membuka kelopak matanya di barengi dengan beranjak untuk bangun dari tempat nya tidur tengkurap."Minum sialan".
Dalam perhatian kabur wanita ini melihat sekeliling nya yang ruangan nya sangat berbeda warna dari kamar yang biasanya ia tempati. Ia langsung melonjak bangun dari tempat nya tidur, namun karena tubuhnya masih sangat lemah efek minum tadi malam. Tubuh wanita ini kembali terhuyung terjatuh tersungkur di samping tempat tidur.
Ia merintih kesakitan karena lututnya membentur lantai keramik ini cukup kuat. Di saat mendongak mencari pegangan untuk kembali bangun. Wanita ini langsung di hadapan oleh cermin besar yang ada di sisi lain tempat tidur.
"Asihh....sial",umpatnya melihat pakaian yang ia kenakan sudah berganti dengan pakaian piyama abu-abu tua."Habis sudah diriku, dasar ceroboh bodoh",umpat pada diri sendiri.
Di pintu utama masuk rumah. Afif berpapasan dengan Binzo sedang libur sekolah ingin bermain-main pedang dengan kakeknya.
"Om mau kemana di hari libur?".
Menekan kepala Binzo dengan telapak tangan yang lebar gemas,"Libur untuk kamu, tidak untuk ku",kata Afif tanpa menghentikan langkah kakinya berlalu pergi masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan di depan rumah.
'Iya masak tidak ada liburnya. Apa tidak gila orang-orang dewasa itu terus bekerja setiap hari?',pikir Binzo bergumam sembaring berlalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Baru juga membuka pintu kamar hotel ini sedikit. Afif langsung di sambut oleh sebilah pisau yang siap untuk melukai nya, jika saja ia tidak cekatan menghindar dan mengambil alih menguasai tubuh wanita yang mau melukainya ini. Mungkin Afif bisa saja terluka cukup parah.
Menendang pintu agar tertutup rapat kembali dengan kakinya. Afif yang masih mencengkeram kuat tubuh wanita yang terus saja meronta ini. Mengiringi nya ke sova yang tersedia di sini lalu mendorong tubuh wanita ini agar duduk di sana.
"DUDUK!!",Tegas Afif membentak.
Wanita agresif ini seketika terdiam membeku di tempat nya duduk. Afif terdiam menatap dingin di barengi berlalu duduk di sova tunggal yang tersedia.
"Apa yang lu lakukan dengan gue semalam?",tanya wanita ini bernada marah dan kesal.
"Tidak ada",balas Afif enteng tanpa tekanan.
"Lalu....", menyilang kedua tangan di depan dadanya.
"Aku menyuruh pelayan hotel untuk menganti pakaian mu. Kau sangat merepotkan ku semalam, jadi imbalan apa yang akan aku dapatkan setelah menolong mu?",Afif masih dengan sorot mata dingin, cuek.
Wanita ini hanya terdiam di tempat nya. Enggan berkomentar apapun lagi.
"Bagiamana kalau kau membunuh diri mu sendiri sekarang?Di depan ku. Aku ingin melihat nya",perkataan Afif tiba-tiba membuat manik mata wanita ini seketika membulat sempurna melihat Afif, terkejut.
__ADS_1