My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)

My Name Is Crazy (Si Pecundang Telah Kembali)
Season.147 Setelah semuanya


__ADS_3

"Suka sama burung? Ini burung kesayangan ayah kamu",Kiki menujuk satu ekor burung hantu putih yang ada di kandang nya. Kepala cucu kecilnya yang sangat kegirangan suka.


Walaupun belum bisa berbicara tapi Binzo sangat pandai merespon apa yang di katakan orang lain padanya dengan gerak tubuhnya yang menggemaskan.


Kiki yang melihat tingkah gembira cucunya. Sampai menitihkan air mata bahagia karena teringat sesuatu yang jelas berhubungan dengan Bryan.


Zalfa berjalan mendekati Liv rumah ini, entah kenapa dirinya sangat tertarik sekali pergi ke kamar Bryan. Apakah karena ia masih belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergian Bryan? Atau hanya sekedar melepas rindu.


Hingga tibalah Zalfa di lorong kamar Bryan berada. Ia berjalan keluar Liv berlahan-lahan sampai akhir berhenti tepat di depan salah satu kamar. Dengan tangan ragu-ragu Zalfa membuka pintu kamar ini.


Clekkk.......


Baru berada di ambang pintu kamar. Zalfa sudah di sambut oleh nuansa abu-abu tua dan muda cat warna dan barang-barang di kamar ini. Kamar tidur yang luasnya seluas ruang tamu rumah Zalfa.


Zalfa mulai berjalan lebih masuk dan melihat sekeliling. Melihat beberapa foto Bryan seorang diri dan foto keluarga yang terpajang rapi di dalam pigura kecil yang tertata di atas meja.


Dari semua Foto yang telah Zalfa lihat. Hanya satu foto yang paling menarik perhatian nya. Foto Bryan seorang diri tengah tersenyum bahagia berpose di pantai.

__ADS_1


Tangan Zalfa tergerak mengangkat pigura itu dari tempat nya berada,'Kamu ada di sini, Bry?',batinnya bertanya sedih.


"Binzo sudah beranjak dewasa Bry?",tanya Zalfa pada foto Bryan.


Enggan berlama-lama bersedih ia pun berlalu pergi ke sisi lain kamar. Seperti membuat gorden tebal yang menghalangi sinar matahari masuk. Sampai membuka pintu kaca balkon ini agar udara segar dari luar dalam leluasa masuk ke dalam.


+++++


Tanpa terasa sudah dua Minggu setelah pertemuan itu. Dan sudah dua Minggu ini Afif tidak lagi tinggal bersama Kiki. Afif berangkat di malam itu ke Rusia untuk menempuh pendidikan sarjana perguruan tinggi di sana.


Namun Afif selalu menepis semua kerinduan nya dan memendam nya dalam-dalam. Afif memilih untuk fokus pada mata pelajaran kuliah nya di sini agar lekas bisa kembali pulang.


Dan selama itu Afif menepati apartemen yang telah ia beli sendiri di salah satu gedung mewah yang ada di Rusia. Sampai lulus ia akan melakukan apapun yang ia butuhkan seorang diri karena Afif enggan menyewa art untuk membantu nya.


++++++


"Binzo makan dulu",Zalfa yang berjalan mendekat dengan membawa semangkuk makanan untuk Binzo makan.

__ADS_1


Anak kecil itu bersorak gembira sembaring meletakkan mainan dalam genggaman tangan nya ke lantai. Fokusnya tertuju melihat Zalfa antusias.


"Aaaa.....", memberikan suapan pertama untuk Binzo."Enak kan?".


Mengangguk-angguk ringan seakan-akan mengerti maksud dari ucapan Zalfa.


"Unda", panggil Binzo dengan kalimat yang belum terlalu jelas.


"Eh! Bunda".Zalfa tersenyum sumringah bahagia. Secepatnya meletakkan mangkuk makan dari genggaman tangan di samping ia duduk. Untuk secepatnya mengangkat tubuh Binzo dalam gendongan pangkuannya.


+++++++


"Jadi lu suka Afif",ujar gadis remaja ini terkejut."Sial keren sekali. Gue akan dukung selama lu beneran serius suka sama Afif".


"Makasih, tapi bukan sekarang waktu yang tepat untuk gue mengatakannya pada Afif".


"Kapanpun lu siap. Kalau bisa secepatnya, Afif buka tipikal cowok kasar, jadi lu tidak perlu takut di tolak dengan perlakuan buruk",penjelasnya menyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2