Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Janji akan cepat pulang


__ADS_3

"Mas mau kemana?" tanya Salsa, Zidan yang hendak keluar kamar mendekati istrinya yang masih berdiri di depan pintu.


"Sayang, sepertinya Mas nggak jadi ikut kesekolah mu. Ada urusan penting yang harus Mas lakukan," ucap Zidan sambil memegang kedua tangan Salsa.


Mendengar itu, Salsa menepiskan tangan Zidan yang memegang tangan nya. Ia lalu melangkah masuk kedalam kamar.


"Kau tunggu diluar saja Raka," perintah Zidan pada Raka, sebelum ia masuk kedalam kamar. Didalam kamar Zidan melihat Salsa yang berdiri di samping ranjang membelakanginya. Ia berjalan mendekati Salsa dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya lembut Zidan sambil mengecup leher Salsa.


"Mas mau pergi kemana?" balas Salsa dengan suara sarak, entah kenapa hatinya begitu sedih saat Zidan mengatakan akan pergi.


"Sayang, Mas hanya pergi sebentar saja, ada pekerjaan yang harus mas selesaikan," ucap Zidan mencoba meyakinkan. kemudian ia melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang Salsa, menyeka setetes air yang jatuh di sudut matanya, setelah berdiri di depan sang istri.


Salsa lansung memeluk tubuh Zidan yang berdiri di depannya, mata nya pun seketika di banjiri air yang sejak tadi rasa nya ingin tumpah begitu saja. hati dan perasaan nya sangat sedih ketika itu, saat Zidan mangatakan akan pergi sebentar, seakan ia akan berpisah dengan Zidan dalam waktu yang lama.


"Mas jangan pergi," lirih nya yang masih memeluk tubuh Zidan, rasa nya ia tak ingin melepaskan pelukan itu.


Begitu pun Zidan yang selalu tak kuasa menolak permintaan istrinya itu. Hati dan sikap nya yang keras, selalu luluh saat berhadapan dengan Salsa.


"Iya mas kan ada di sini sayang, kamu jangan sedih lagi," Zidan kembali menyeka air yang keluar dari mata sang istri.


"Sekarang, tersenyum lah," zidan manarik sudut bibir Salsa ke atas.


"Tapi mas jangan pergi," Salsa kembali memeluk tubuh Zidan.


*


Satu jam kemudian.


Di luar sudah tampak mobil Maria memasuki mension dengan para pengawal nya. Ia turun dari mobil melangkah sendiri kedalam kediaman yang dulu pernah ia tinggalkan. Sedangkan para pengawalnya hanya menunggu di dalam mobil, sesuai perintah nya.


Pandangan nya sekilas melihat Zidan dan Raka yang terlihat serius berbicara seperti sedang membahas sesuatu. Raka menyapa nya serta sedikit membungkuk kan kepalanya memberi hormat saat Maria berjalan melewati mereka. Wanita paruh baya itu membalas dengan menyunggingkan sunyum ramah nya. Sedangkan Zidan seperti tak acuh dengan kehadiran wanita yang sudah melahirkan nya itu.


Maria terus melangkah masuk kedalam mension, menuju sofa ruang utama yang di sana terlihat Salsa dan Santi tengah asyik mengobrol.


Derap langkah kaki Maria yang cukup jelas terdengar mengalihkan pandangan mata Salsa dan santi ke arah pintu utama.


"Mama," Salsa berdiri dan lansung berjalan mendekati Maria yang baru saja datang.


"Maaf ya sayang, mama agak lama datang nya," ucap Maria saat Salsa sudah memeluk tubuh nya.


"Nggak kok ma, justru Salsa yang minta maaf karna sudah merepotkan mama," ujar nya sambil melingkarkan tangan di lengan sang mertua, Mereka berjalan dan duduk di satu sofa yang sama. Sedangkan Santi hanya diam menatap wanita paruh baya yang terlihat begitu akrab dengan sahabat nya.


"Ma, kenalkan itu teman Salsa nama nya Santi, Santi kenalkan ini mertua ku," Santi tersenyum kaku pada Maria, yang sejak tadi terus saja memandang kagum akan kecantikan wanita paruh baya yang terlihat sangat anggun duduk di sebelah Salsa.


"Oh ya, senang berkenalan dengan mu Santi," ucap Maria sambil menyunggingkan senyum khas nya.


Salsa, Maria dan Santi terlihat mengobrol sangat akrab di sofa ruang utama, saling bercerita dan bercanda.


"Jam berapa kita berangkat ke sekolah mu Sayang?" tanya Maria setelah cukup lama mereka saling menceritakan diri masing-masing.


"Tunggu mas Zidan dulu ya ma! Oh ya ma, apa tadi mama melihat mas Zidan di luar?"


"Iya, dia ada di luar dengan asistennya. Kelihatan nya dia sangat sibuk sayang," balas Maria.

__ADS_1


"Mereka ngomongin apa sih? Lama betul," gerutu Salsa yang sudah tidak sabar ingin cepat pergi kesekolah nya.


"Mungkin, dia sedikit sibuk sayang," ucap Maria lembut.


"Itu lah ma. Tadi nya mas mau pergi dengan abang Raka, tapi Salsa melarang nya, karna mas udah janji mau ikut kesekolah Salsa." tutur nya, yang membuat Maria terkekeh.


"Kok mama ketawa sih?" Salsa menggerutu.


"Habis kamu sih Sa, masa kesekolah mau ajak suami, emangnya kamu kira kamu mau pergi kondangan," timpal Santi meledek.


"Iiih, suka aku lah," ketus Salsa dengan wajah cemberut nya.


"Sayang, suami mu itu seorang pemimpin besar, ada tanggung jawab besar juga yang di pikul nya. mungkin saat ini dia harus menyelesaikan sesuatu. Jadi biarkanlah dia menyelesaikan nya dulu, kan ada mama yang menemani kamu ke acara sekolah," ujar Maria.


Salsa hanya diam menunduk setelah mendengar kata-kata mertuanya, ia membenarkan semua itu, rasanya ia sangat egois jika memaksa Zidan untuk ikut kesekolah nya, padahal ada pekerjaan penting yang harus suaminya lakukan di luar.


Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan perasaan nya, rasa cemas di hatinya jika Zidan pergi.


"Ya sudah kita pergi sekarang saja ma," ucap Salsa pelan tanpa mengangkat wajahnya.


"Udah wajah mu nggak usah gitu, biasa aja. dasar bucin!" ledek Santi menggoda.


"Biarin," Salsa membelalak kan matanya pada Santi.


"Sudah, sudah, ayo kita pergi sekarang," Maria menengahi perseteruan yang memang sering terjadi diantara menantu dan sahabatnya itu.


***


Salsa, Santi dan Maria mereka bertiga melangkah keluar, menuju mobil Maria yang terparkir di halaman mension. Santi dan Maria terus berjalan dan masuk kedalam mobil. Sedangkan Salsa mendekati Zidan yang masih berbicara dengan Raka.


Salsa mengangguk pelan.


"Raka, lakukan sesuai perintahku," ucap Zidan pada Raka.


"Mas, kalau hari ini mas sibuk, aku nggak apa-apa kok perginya dengan mama Maria dan Santi saja," ucap Salsa menyela. Meski hatinya tidak ingin mengucap kan kata-kata itu.


"Kamu yakin tidak apa?" balas Zidan.


"Iya, aku nggak apa-apa mas, tapi mas janji cepat pulang ya," Salsa menatap wajah suami nya itu lekat.


"Pastinya mas akan cepat pulang sayang," bisik Zidan disertai seringai di bibirnya. wajah Salsa merona karna tau maksud kata-kata suami nya itu.


Salsa melangkah pelan meninggalkan Zidan yang masih berdiri menatap nya sampai masuk kedalam mobil Maria. entah kenapa perasaan Salsa saat itu begitu mengganjal. Rasa nya ia tidak ingin pergi ke acara perpisahan sekolah nya, tidak seperti keinginan nya tadi yang begitu besar ingin pergi.


Baru saja mobil Maria meninggalkan mension. tidak lama mobil Raka pun melaju sangat cepat meninggalkan kediaman megah itu.


***


Di sebuah bangunan dengan pagar tinggi yang kokoh menjulang, mobil Raka berhenti. Zidan yang masih duduk di kabin belakang menatap bangunan yang sebagian sudah hangus terbakar.


"Kanapa ini bisa terjadi?" tanya Zidan yang sudah keluar dari dalam mobil, menatap tajam pada beberapa orang yang berdiri disana.


"Maaf tuan, kami benar-benar tidak tau, tiba-tiba saja api sudah membesar dari arah gudang senjata," jawab Ruli salah satu pria yang ada di sana.


"Kau!" Zidan menunjuk Ruli dengan penuh amarah. Ruli berjalan mendekati Zidan dengan menunduk ketakutan.

__ADS_1


"Kau kira dengan maaf, semua bisa perbaiki," ucap Zidan yang penuh dengan penekanan.


"Apa saja yang kau lakukan," Satu tangan Zidan kini mencengkram leher Ruli dengan kuat, mata pria itu kini kini melotot serta Lidah yang sedikit terjulur keluar.


"Bos, saya curiga jika ini di lakukan dengan sengaja oleh orang lain, karna di belakang bangunan saya menemukan sebuah jerigan bekas yang masih tercium aroma bensin di dalam nya," sergah Raka cepat, sebelum terjadi sesuatu pada Ruli.


Zidan beralih menatap Raka perlahan melepas kan tangan nya yang mencengkram leher Ruli.


"Maksud kau apa Raka?" kudua alis mata Zidan terangkat naik.


"Lebih baik kita selidiki dulu bos, karna saya curiga pelakunya adalah orang yang sama, dengan penyusup yang pernah mencuri senjata dulu," jawab Raka yakin.


Zidan berfikir sejenak, mengingat kejadian yang pernah terjadi dulu. Saat markas nya di masuki oleh penyusup dan mencuri senjata yang ada di dalam, tanpa di ketahui anak buah nya.


"Kalau begitu kau selidiki lah Raka,. Aku tidak mau kejadian ini terjadi lagi." Zidan melangkah kan kaki nya masuk ke dalam bangunan itu di ikuti Raka dan anak buah nya yang lain.


Zidan keluar dari bangunan itu setelah memeriksa bagian yang terbakar. Ia berjalan  masuk kedalam mobil saat teringat akan sang istri.


Raka kembali melajukan mobil nya menuju sekolah Salsa, Zidan yang tidak sabar untuk bertemu dengan Salsa, meminta Raka untuk melajukan mobil nya dengan cepat.


*****


Di sekolah Salsa.


Di ruang aula tempat diadakan nya acara perpisahan. Perasaan Salsa yang sejak tadi memang sudah tidak nyaman. Ia tidak menikmati acara perpisahan sekolah itu.


Bahkan saat acara drama pentas seni Cinderella di pentaskan, banyak adagen lucu yang mengundang gelak tawa dari para penonton. Tapi tidak dengan Salsa, wajah nya begitu murung sejak tadi.


Dua jam sudah Salsa yang di temani Maria berada di ruang aula, menyaksikan rentetan acara yang diadakan panitia pelaksana.


Salsa meminta izin pada Maria untuk ke toilet. Maria pergi menemani karna tidak ingin hal yang dulu pernah terjadi terulang kembali, meski Salsa berusaha meyakinkan agar ia bisa pergi sendiri tapi Maria kekeh ikut dengan nya.


"Salsa," terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama nya.


Salsa sudah tau siapa orang yang memanggilnya, meski tanpa menoleh ke arah sumber suara untuk mengetahui siapa orang yang memanggil. tapi ia tetap menghentikan langkahnya dengan masih memeluk lengan Maria.


"Kamu apa kabar Sa?" tanya laki-laki yang memanggilnya tadi. laki-laki itu memandang Maria yang lengan nya di peluk erat oleh Salsa.


"Baik Ren," jawab Salsa singkat. Ya laki-laki itu adalah Rendi.


Rendi lalu menyodorkan tangan nya memperkenalkan dirinya pada Maria. "Saya Rendi tante! Tante apa kabar?"


"Oo, nak Rendi, tante mama nya Salsa!" Maria juga memperkenalkan dirinya.


"Rendi yang ikut drama pentas seni tadi ya?"


"Iya tante, bagaimana penampilan saya tadi tante?" tanya Rendi mengakrabkan diri.


"Bagus, sangat bagus sekali. Peran itu sangat cocok sekali dengan nak Rendi," jawab Maria memuji nya.


Pandangan Rendi dan Maria tertuju pada Salsa karna tangannya terlihat sibuk merogoh tas untuk mengambil ponsel nya yang berdering.


Salsa mengangkat panggilan suara di ponsel nya itu tanpa melihat nama pemanggil yang tertera di layar.


"Hallo," sapa Salsa saat sambungan teleponnya terhubung. Setelah itu mata nya membola dengan tubuh yang bergetar hebat. Saat mendengar suara di balik sambungan telepon.

__ADS_1


ponsel yang di pegang nya itu pun terlepas dari tangan nya. di sertai tubuh nya yang seketika itu lansung melemah sebelum pandangan nya benar-benar menjadi gelap.


__ADS_2