Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Bilang saja kamu tidak mau menolong saya


__ADS_3

Zidan berdiri di depan pintu kamar nya, jarinya sibuk bermain di layar ponsel, mencari artikel yang bisa memberikan nya solusi.


"Cara membujuk pasangan yang sedang marah dan sedih." kata itu yang zidan ketik kan di kolom pencarian suatu aplikasi di layar ponsel nya.


"Ini dia,  hadiah untuk pasangan yang ngambek agar tersenyum lagi," gumam Zidan setelah menemukan sebuah artikel yang dia cari.


Zidan tampak fokus membaca artikel tersebut di layar ponsel nya.


"Yang pertama. Hadiah kan buket bunga untuk pasangan, di jamin senyum nya akan kembali merekah," zidan membaca artikel tersebut sembari tersenyum.


"Ternyata sangat mudah membuat wanita tersenyum," gumam Zidan setelah membaca artikel tersebut.


"Yang ke dua. Hadiah kan satu boneka agar si dia selalu ingat kamu," Zidan membaca poin ke dua artikel tersebut.


"Jangan kan satu boneka, satu pabrik nya pun akan aku berikan," batin zidan tersenyum senang.


"Baiklah sekarang aku akan suruh Raka untuk membelinya," gumam Zidan sembari menggeser-geser layar ponsel nya mencari kontak nama Raka, setelah menemukan ia lansung melakukan panggilan suara.


"Kau belikan aku satu buket bunga yang paling bagus," ucap Zidan saat sambungan telepon nya mulai tersambung.


"Apa bos bercanda lagi?" balas Raka yang masih mengira bos nya masih kerasukan.


"Kau jangan banyak tanya Raka, kau laku kan saja apa yang aku perintah kan," balas Zidan sengit, membuat Raka ketakutan.


"Baik bos," balas Raka pasrah.


"Bagus," puji Zidan.


"Tapi. bunga apa yang bos inginkan?' tanya Raka yang tidak tau.


"Bunga, bungaaa, bungaaaaa. aku juga tidak tau Raka, kau bilang saja pada penjual nya, bunga yang bisa membuat wanita tersenyum," ujar Zidan yang yang ingat artikel yang ia baca tadi.


"Baik lah bos." balas Raka.


"Satu lagi Raka. Kau belikan juga satu boneka,"


"Boneka apa bos?" tanya Raka lagi.


"Kau bilang saja pada penjual nya seperti yang aku katakan tadi," jawab Zidan kesal.


"Baik bos," balas Raka pasrah.


"Cepat lakukan Raka, aku tunggu satu jam dari sekarang," ucap zidan dengan penekanan.


kemudian memutuskan sambungan ponsel nya.


-

__ADS_1


-


Sedangkan Salsa di dalam kamar. Merasakan hal lain, setelah Zidan masuk mengambil ponsel nya lalu, keluar lagi tanpa melihat nya, Membuat ia merasa bersalah.


"Sadar Sa, sadar. kamu itu siapa? Kamu di jadikan istri, bukan karna dia menginginkan mu, tapi hanya untuk menolong mu saja, dia itu sudah punya kekasih, jadi gak usah berharap lebih. Suatu saat nanti dia juga akan menceraikan mu," Salsa membatin.


"Ya aku harus kuat, aku nggak ingin merepotkan si Om lagi, aku harus bisa hidup sendiri," ucap Salsa menyemangati dirinya sendiri.


Salsa perlahan bangkit dari ranjang nya, berusaha untuk melawan segala rasa sakit di kaki nya.


-


-


Raka yang sedang berpacu dengan waktu untuk membelikan permintaan bos nya. Kini sedang berada di toko bunga.


"Selamat datang di toko bunga kami tuan," sapa ramah si penjual bunga yang datang mendekati Raka.


"Berikan aku satu buket bunga yang bisa membuat wanita tersenyum," ucap Raka datar pada wanita itu.


Wanita itu mengerutkan dahi nya, ia bingung mau memberikan bunga yang mana untuk Raka.


"Begini tuan, wanita itu akan tersenyum jika hatinya sedang bahagia, jadi apa pun bunga yang akan tuan berikan akan membuat wanita tuan tersenyum jika hatinya sedang bahagia," terang si wanita penjual bunga itu menjelaskan pada Raka.


"Terserah mu saja, cepat berikan aku satu," ucap Raka yang terburu-buru.


"Apa tuan tidak ingin memilihnya sendiri?" tanya si penjual bunga.


"Jangan lakukan itu pada ku tuan. Sebaik nya tuan saja yang memilih nya sendiri," balas wanita penjual bunga itu ketakutan.


"Cepat lah kau berikan saja satu untuk ku, aku tidak banyak waktu," tegas Raka.


"Baik tuan," balas wanita penjual bunga itu, seraya mengambil satu buket bunga lily, yang diikat dangan pita warna merah jambu muda.


Setelah mendapat kan satu buket bunga lily Raka buru-buru mencari toko yang menjual boneka.


-


-


-


Dikamar Zidan.


Salsa yang merasa telah mampu berjalan sendiri, dan tidak ingin lagi merepotkan Zidan. Dirinya memutuskan untuk pindah ke kamar nya lagi. Dengan langkah kaki yang masih pincang. Perlahan Salsa berjalan mendekati pintu kamar Zidan.


Ceklek!

__ADS_1


Braaaak!


Zidan yang sedang bersandar di pintu itu Seketika terjatuh ke lantai. Kepala nya cukup keras terhempas ke lantai.


"Om. om ngapain!" pekik Salsa panik, yang masih berdiri di tepi pintu.


"Kamu yang ngapain! auuuwhhh, kepala ku sakit sakit," Zidan meringis sembari memegang ke palanya.


Zidan belum bangun, posisi nya masih tidur di lantai sembari memegang kepalanya yang sakit.


Salsa mendekati Zidan, ia sedikit berjongkok membantu mengangkat kepala Zidan, menyelipkan satu tangan nya di belakang leher Zidan. Tapi, tenaga Salsa yang tidak seberapa itu di tambah Zidan yang mengeraskan badan nya, semakin membuat Salsa kewalahan.


"Om, saya panggil pelayan saja ya, saya gak kuat buat ngangkat om," Salsa mulai menyerah mengangkat tubuh Zidan.


"Bilang saja kamu tidak mau membantu saya!" Zidan memalingkan wajah nya.


"Bu-bukan, saya bukan gak mau bantu, tapi saya gak kuat, Om." Salsa merasa serba salah.


"Kamu pergi saja, biar kan saja saya di sini," ketus Zidan.


Salsa berfikir sejenak, kemudian kembali bediri di samping pinggang Zidan. Dirinya lalu meraih kedua tangan Zidan dengan ke dua tangan nya, sedikit membungkuk kan badannya mencoba manarik tubuh Zidan agar bisa duduk.


Tapi memang dasar Zidan yang tidak mau bangun, dia malah mengeraskan badan nya.


"Saya tidak kuat om, saya panggil bantuan saja ya," Salsa yang menyerah, nafas nya sudah ngos-ngosan.


"Semua orang sedang sibuk, jangan mengganggu mereka," tegas Zidan menolak.


"Bos!" pekik Raka dari luar pintu kamar Zidan yang tidak tertutup. Tangan Raka memegang satu boneka dan satu buket bunga lily yang di minta Zidan tadi.


"Hais, kau kenapa datang Raka, sialan,"  umpat Zidan dalam hati sembari memalingkan wajah nya kesamping.


"Bos kenapa nyonya?" tanya Raka yang masih berdiri di luar. Ia tidak lansung masuk ke dalam kamar bos nya itu karna belum mendapatkan izin.


"Syukurlah abang datang," Salsa merasa lega.


"Abang sini! bantuin Salsa," imbuhnya melambaikan tangan memanggil Raka.


"Iya nyonya," Raka bergegas masuk ke dalam kamar Zidan, tangan nya masih memegang buket bunga dan boneka.


"Abang tolong bantu om berdiri, pindahkan ia ke ranjang."


"Baik nyonya," balas Raka seraya meminta Salsa untuk memegang buket bunga dan boneka yang di pegang nya.


"Maaf bos," ucap Raka sebelum memindahkan Zidan ke atas ranjang nya. Rahang zidan seketika mengeras saat Raka membantu nya.


"Awas saja kau Raka," ucap Zidan dalam hati sembari menatap Raka dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Nyonya apa perlu saya panggilkan dokter," ucap Raka setelah memindahkan Zidan ke atas ranjang.


"Iya bang, tolong abang panggilkan dokter ya," balas Salsa.


__ADS_2