Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Nasehat Maria


__ADS_3

Maria kembali masuk ke dalam ruangan, setelah dokter pergi. Raut wajah nya pun kini berubah, ada goresan kecemasan dan ke khawatiran di wajah wanita paruh baya itu.


"Ma, apa mas Zidan ada di luar?" Salsa bertanya saat Maria baru saja akan melangkah mendekatinya.


"Oo, Sebentar ya sayang," balas Maria yang seketika membalikan badannya berjalan keluar dari ruangan itu.


"Alfred, apa kau melihat putraku?" tanya Maria pada Alfred yang sejak tadi berdiri di samping pintu.


"Di sana nyonya," balas Alfred sembari menunjuk posisi Zidan yang duduk di bangku berjarak beberapa meter saja dari tempat nya berdiri.


Maria berjalan mendekati Zidan yang duduk menatap layar ponsel nya.


"Zi, istrimu memanggilmu, Nak," ucap Maria dengan suara takut-takut, kini sudah berdiri di depan Zidan.


Zidan melihat ke arah Maria sejenak, kemudian berdiri dari duduk nya, ia lalu mengayunkan langkah nya pergi keruangan inap Salsa.


"Zi,"


Zidan menghentikan langkahnya tanpa menoleh melihat Maria.


"Tadi ada dokter yang memeriksa Salsa, ia memintamu menemuinya. Zi, mama tidak mau sesuatu terjadi pada cucu mama nanti," ujar Maria dengan penuh haru.


"Cih, berhentilah memikirkan apa yang bukan menjadi urusan anda," ketus Zidan lalu kembali mengayun kan langkah nya.


Ceklek


Zidan membuka pintu sembari melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Salsa yang juga melihat nya.


Zidan lalu duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang pasien.


"Mas, Mama Maria mana?"


Zidan tidak menjawab, ia menyandarkan kepala nya di sandaran sofa sembari memijat dahinya.


"Mas..."


"Hmmm...." sahut Zidan


"Aku mau pulang," ucap Salsa dengan wajah yang cemberut.


"Heish, kamu itu belum sembuh," ucap Zidan tegas membuat bibir Salsa seketika bergetar, disertai bola matanya berkaca-kaca.


Ceklek


Pintu di buka Maria dari luar. Ia melihat wajah sedih Salsa yang berbaring di ranjang pasien.


"Sayang, kamu kenapa?" Maria berjalan mendekati Salsa. Ia mengusap lembut dahi sampai ke puncak kepala nya.


"Kenapa sayang?" lagi Maria bertanya.


Salsa menggelengkan kepalanya, sambil memaksakan bibir nya untuk tersenyum.


Maria menoleh melihat Zidan yang duduk di sofa.lalu kembali menatap Salsa.


"Sayang, mama pergi dulu ya, nanti mama kembali lagi," ucap Maria sembari mencium kening Salsa.


"Makasih ya ma," balas Salsa di sertai senyum manis nya.

__ADS_1


Maria mengusap puncak kepala menantunya itu sembari tersenyum, mengisyaratkan kasih sayang yang tulus di berikan seorang ibu pada anak nya.


Ia lalu melangkah mendekati Zidan yang duduk di sofa.


"Zi, mama mau bicara sebentar, ini tentang istrimu," Bisik Maria di telinga Zidan.


Dengan malas Zidan berdiri dan mengikuti Maria yang sudah dulu berjalan keluar.


"Zi, apa kamu tau! wanita hamil itu perasaan nya sangat sensitif sekali. Ia akan sangat mudah marah, sangat mudah tersinggung, sangat mudah juga ia untuk menangis, bahkan ia nanti akan meminta yang aneh-aneh padamu Zi. Di sana lah peran mu sebagai seorang suami, kamu harus sabar menghadapi sikapnya Zi." Maria menghela nafas, sebelum kembali melanjutkan kata-katanya nya.


"Kata dokter tadi. Kondisi tubuh istrimu saat ini sangat lemah, kamu jangan membuat dia stres atau pun sedih. karna itu bisa membahayakan dia dan anak mu nanti nya. Mama harap kamu bisa menjaga emosi nya," tutur Maria memberi nasehat.


Zidan kembali masuk ke dalam ruangan inap, tanpa menjawab sepatah kata pun nasehat Mama nya tadi.


**


Didalam ruangan VIP itu, ia melihat Salsa yang berbaring dengan wajah yang menatap ke dinding.


"Sabila, besok kita pulang, ya," ucap Zidan lembut.


"Nggak, mau nya sekarang," ucap nya ketus tanpa menoleh melihat Zidan yang berdiri di dekat sofa.


Zidan menghela nafas panjang.


"Ya sudah, mas keluar dulu ya,"


Salsa seketika menoleh, melihat Zidan yang sudah membalikkan badannya hendak keluar.


"Mas....." Zidan menghentikan langkahnya.


"Mas ngomong apa tadi?" tanya Salsa.


"Itu mas nyebut diri mas apa tadi?" kekeh Salsa bertanya.


Zidan menyipitkan matanya.


"Iiiih...! Mas ini, coba mas ulang lagi kata-kata tadi," ucap Salsa kesal.


"Mas mau keluar dulu, itu kah?" balas Zidan datar.


Salsa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Masalah nya dimana?" tanya Zidan.


"Masalah nya itu, Mas udah kayak orang Jawa banget, he he he" jawab Salsa di sertai tawanya.


"Emang apa yang lucu?" Zidan kembali mengernyit kan dahinya.


"Mas sini deh!"


Zidan berjalan mendekati nya.


"Dekat sini lagi,"


Zidan melangkah lebih mendekat lagi ke ranjang. Salsa mengulurkan tangan nya ke wajah Zidan lalu menarik ke dua sudut bibir Zidan ke atas.


"Tuh lucu kan," ucap nya dengan kedua tangan yang masih menarik sudut bibir Zidan ke atas.

__ADS_1


***


Setelah dokter mengizinkan Salsa pulang. Zidan menelpon Marni terlebih dahulu, ia menyuruh Marni untuk memindahkan barang-barang nya ke kamar bawah. Karna Ia tidak ingin Salsa merasa capek nanti nya jika harus turun naik tangga.


"Mas, jam berapa kita pulang?" tanya Salsa yang sudah tidak betah tidur di ranjang pasien.


"Nanti sore saja, cuaca di luar masih panas," jawab Zidan yang duduk di sofa.


"Aku lapar mas," Salsa merengek.


Zidan bangkit dari duduk nya, melihat makanan diatas meja yang belum terjamah.


"Aku gak mau makan itu,"


"Terus kamu mau makan apa?" tanya Zidan.


"Mau makan nasi padang, pakai rendang hati," ucap Salsa sembari menggigit kukunya.


Sejenak Zidan menatap nya dengan mata yang membola, tapi ia teringat kata Maria jika Salsa nanti nya akan meminta hal yang aneh-aneh.


Zidan mengeluarkan ponsel nya, lalu menelpon Jefri.


"Belikan satu bungkus nasi pa...."


"Mas, biar aku ngomong," Salsa menyela meminta ponsel yang sedang di pegang Zidan.


Salsa terlebih dahulu melihat nama yang tertera di layar ponsel, setelah ponsel itu berada di tangan nya. Lalu ia mendekatkan ke telinga.


"Bang Jeff, tolong belikan Salsa nasi padang ya. Pakai rendang hati sapi dua potong kalau ada, kuah nya juga di banyakin. Terus bungkus nya pakai daun pisang ya." ucap Salsa.


"Baik nyonya," balas Jefri dari ujung telepon.


"Makasih bang Jeff." ucap Salsa sebelum mengakhiri sambungan telepon nya.


***


Sore harinya.


Zidan membantu Salsa berdiri dari kursi roda. Di depan meraka sudah ada Jefri dan Raka berdiri di samping mobil. Jefri melajukan mobil nya setelah Salsa dan Zidan duduk di kabin belakang, sedangkan Raka mengikuti mereka dari belakang, mengemudikan mobil Lamborghini Zidan yang di tinggal nya tadi di sekolah Salsa.


Di kabin belakang, Salsa memeluk lengan Zidan serta menyandarkan kepala nya di sana.


"Tuan di belaka..."


Dor


Belum selesai Jefri bicara tiba-tiba suara tembakan terdengar dari arah belakang mereka. Di sertai laju mobil yang oleng, karna ban mobil belakang mereka yang pecah.


Zidan menoleh kebelakang saraya tangan nya menundukkan kepala Salsa yang sudah berada di kedua paha nya.


"Brengsek.....!!!"


Mobil sedan hitam yang ada di belakang mereka tadi kini berpapasan dengan mobil mereka. Zidan melihat jelas seseorang menggunakan kaca mata hitam menodongkan senjata ke arah nya dari dalam mobil sedan hitam itu.


"Menunduk.....!!" Zidan memberi aba-aba.


Dor

__ADS_1


Di sertai kaca samping mobil yang pecah.


__ADS_2