
Salsa juga merasa ketakutan saat mendengar zidan mengusir Raka dan Marni. Dengan langkah pelan Salsa berjalan sembari menunduk.
"Mau kemana kamu?" tanya zidan saat melihat Salsa yang hendak pergi.
"Mau...... Mau.... Mau ambil minum, haus," jawab Salsa asal.
"Duduk," perintah zidan yang hanya bisa di turuti Salsa.
Zidan lalu memanggil pelayan untuk mengambil air minum untuk Salsa.
Salsa yang duduk di sofa hanya menunduk saja, sembari menggosok-gosok gaunnya yang licin dengan telapak tangan nya.
Sedangkan zidan berdiri di samping sofa membelakangi Salsa, meski sesekali ia menoleh mencuri pandang pada Salsa.
Tidak lama pelayan datang membawa teko dan gelas diatas nampan.
Sembari membungkuk kan badan, pelayan meletakkan nampan di atas meja depan Salsa duduk. Lalu pelayan kembali lagi ke belakang.
Salsa menuangkan air yang ada di teko kedalam gelas, lalu meminumnya separo.
Zidan yang melihat nya seperti mendapatkan ide.
"Saya mau minum juga," ucap zidan sembari berjalan dan duduk di depan Salsa.
"Sebentar om, saya ambil gelas dulu," Ujar Salsa yang hendak berdiri.
"Itu kan ada gelas," ucap zidan sembari menunjuk gelas yang di pakai Salsa untuk minum tadi.
"Tapi kan itu bekas saya om," balas Salsa.
"Apa kamu penyakitan?" tanya zidan menatap tajam Salsa.
"Engga," jawab Salsa disertai gelengan kepalanya.
"Ya sudah pakai gelas itu saja," ketus zidan lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Salsa lalu meminum habis air di gelas yang tinggal setengah tadi, kemudian menuang kan lagi air di dalam teko untuk zidan.
"Nih om," ucap Salsa sembari menyodorkan gelas yang sudah berisi air minum yang ia tuangkan dari teko.
Zidan lalu meneguk setengah air di dalam gelas itu.
Kemudian mereka diam. Sesekali hanya curi pandang. sampai Rida datang dengan nafas yang sudah ngos-ngosan.
Rida yang baru datang, lansung duduk di sebelah Salsa dan meraih gelas yang ada di meja, serta menuang kan air yang ada di teko lalu meminum nya sampai habis.
Zidan yang melihat nya menggeram kesal.
"Manusia siluman itu kenapa mudah sekali duduk di sebelah istriku, sedang kan aku. Ish, kenapa juga dia pakai gelas aku," batin zidan kesal.
"Siapa yang menyuruh kau minum?" bentak zidan yang menatap tajam ke arah Rida.
"Ma-, maaf kan ekke tuan, tapi ekke haus sekali tuan," lirih Rida memohon karna mendapat tatapan tajam seakan membunuh dari zidan.
"Nyonya, tolong ekke nyonya," imbuh nya sembari memegang tangan Salsa.
Dada zidan semakin naik turun melihat Rida memegang tangan Salsa, zidan hendak bangkit dari duduk nya, tapi Rida lebih dulu berdiri dan berlari ke belakang sofa yang Salsa duduki.
"Nyonya tolong ekke nyonya," Lirih Rida seraya memegang sandaran sofa belakang Salsa.
__ADS_1
"Dasar manusia siluman," batin zidan menggeram kesal.
"Apa miss sudah membeli tas nya?" tanya Salsa sembari menoleh ke belakang.
"Sudah nyonya, itu tas nya limited edition nyonya, sangat cucok untuk nyonya," ujar Rida sembari menunjuk paper bag yang di bawa nya tadi.
Dengan takut-takut Rida berjalan mengambil paper bag yang di bawa nya tadi, karna masih mendapat tatapan tajam dari zidan.
Rida mengeluarkan tas jinjing kecil berwarna hitam dari dalam paper bag.
"Ini terbuat dari kulit buaya asli nyonya," terang Rida sembari melihat ke arah zidan.
"Heh, siluman, kenapa kau melihat ke arah ku saat menyebut kata buaya," bentak zidan dengan menunjuk Rida, zidan hendak berdiri namun melihat Salsa yang menatap nya jadi ia urung kan, dan duduk kembali.
"Maaf tuan," Lirih Rida dengan menundukkan kepalanya.
"Dan di bagian talinya ini nyonya, terdapat sepuluh karat berlian putih," terang Rida sembari memperlihatkan bentuk berlian nya.
Salsa hanya manggut-manggut saja mendengar penuturan dari Rida.
"Dan tas ini hanya di produksi sepuluh saja di dunia, jadi nyonya adalah salah satu orang yang beruntung bisa memiliki tas ini." imbuh Rida menjelaskan.
"Om, apa kita jadi pergi?" tanya Salsa sembari menatap zidan yang seperti nya menyimak penuturan Rida.
"Iya," jawab zidan singkat sambil berdiri di ikuti Salsa yang juga ikut berdiri.
"Nyonya apa anda tidak ingin tau berapa harga tas ini?" ucap Rida yang merasa belum selesai menerangkan nya.
"Berapa miss," tanya Salsa sembari mengambil tas itu dari tangan Rida.
"Sepuluh 'M' nyonya," ucap Rida sembari memperagakan sepuluh jarinya, dangan gaya bicaranya.
"No, no," balas Rida sembari satu telunjuk nya ia goyang-goyangkan kekiri dan kanan.
"Sepuluh miliar nyonya bukan sepuluh jeti," Imbuh Rida.
Mata Salsa membola kaget, seraya menutup mulut dengan satu tangan nya.
"Miss balikin lagi sana, sebelum om tau," Ucap Salsa setengah berbisik seraya memberikan tas itu pada Rida.
"Tuan gak akan marah nyonya, percaya sama ekke," balas Rida melihat zidan yang sudah berjalan di depan.
"Tuan, tuan, tuan," panggil Rida sembari berjalan mendekati zidan yang langkah nya telah terhenti di depan.
"Masa tuan dan nyonya mau ke pesta jalan nya seperti ini, yang satu di depan yang satu di belakang," cerca Rida yang membuat zidan mengerutkan dahinya.
"Nyonya sini," panggil Rida sembari melambaikan tangan nya ke arah Salsa.
Salsa berjalan pelan, otak nya masih saja memikirkan harga tas kulit buaya yang ada di tangan nya saat ini.
"Begini kalau jalan dengan pasangan yang cucok itu tuan, tangan anda di sini nyonya," Rida menuntun satu tangan Salsa agar merangkul satu tangan zidan.
"Perfect." ucap Rida setelah menatap mereka dari depan.
"Dagu anda di angkat nyonya," ucap Rida sembari mengangkat naik dagu Salsa yang sejak tadi hanya menunduk.
"Ternyata berguna juga siluman ini," batin zidan dalam hati.
"Coba sekarang jalan," Rida memberi arahan.
__ADS_1
Zidan dan Salsa mengikuti saja arahan dari Rida.
"Aduuuuuuh, jalan nya biasa saja dong tuan, jangan kaku seperti itu," terang Rida yang melihat jalan zidan yang kaku.
"Jalan nya biasa saja ya tuan,"
"Kita ulang sekali lagi," imbuh Rida.
Zidan dan Salsa kembali melangkah berjalan pelan.
"Oke, perfect, pasti tuan dan nyonya nanti akan menjadi pusat perhatian disana nanti," ucap Rida sembari bertepuk tangan.
Zidan dan Salsa, hanya saling pandang satu sama lain.
"Nyonya muka anda jangan tegang seperti ini, coba smile," ujar Rida sembari memperagakan senyuman nya. Salsa yang mengikuti nya hanya tersenyum kacut.
"Dan wajah anda tuan, issh, jangan lah seperti harimau lapar seperti ini," Rida mengambil tissu dan membersihkan keringat di wajah Zidan.
"Heais, lama-lama kau yang akan aku makan," batin zidan.
"Tuan cobalah wajah anda itu tersenyum, seperti ini," ujar Rida sembil memperagakan senyuman nya.
Salsa yang ingin melihat senyum zidan, ikut menoleh, melihat wajah zidan dari samping.
"Kenapa senyum anda seperti itu tuan, menakutkan sekali." Rida melangkah mudur melihat seringai di wajah zidan.
Membuat Salsa sedikit tertawa.
"Apa yang membuat mu tertawa," tanya zidan dengan suara beratnya.
"Gak ada kok, siapa yang ketawa? saya tadi cuma menguap saja!" alih Salsa yang lansung menguap.
"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya zidan yang lansung mendapat anggukan kepala dari Salsa.
"tidak mungkin aku akan memaksanya pergi, kalau dia sudah mengantuk," batin zidan dalam hati.
"Kamu pergi lah ke kamar dan tidur," imbuh zidan lalu melepaskan tangan Salsa yang memeluk tangannya.
"Benaran om! Terus om pergi dengan siapa?" ujar Salsa bertanya senang.
"Bukan urusan mu, sudah kamu pergi sana," ketus zidan sembari melangkah ke luar.
"Issh, dia itu kenapa nyebelin sekali, awas saja kalau dia mengajak si niken pacar nya itu, ehh, tapi gimana kalau nanti dia bertemu dengan pacar nya itu di sana," batin Salsa cemas.
"Om, saya mau ikut om saja," ucap Salsa sambil melangkah mendekati zidan.
"Kenapa? bukan nya kamu sudah mengantuk," tanya zidan dengan satu alis nya naik.
"Saya takut sendiri an di kamar om," dalih Salsa beralasan sembari tangan nya kembali melingkar di lengan zidan. Yang membuat degup jantung zidan berdegup sangat kencang.
Zidan memaksa melangkah dengan degupan jantung yang sudah seperti bunyi genderang perang saat Salsa secara sukarela memeluk lengan nya.
"Wah bos, kalian terlihat seperti pasangan yang serasi sekali," ucap Raka saat melihat zidan dan Salsa keluar dengan bergandengan tangan.
"Apa tuan Raka mau ekke gandeng juga," Timpal Rida yang sejak melihat seringai menakutkan zidan sudah berjalan keluar.
Raka hanya bergidik ngeri mendengar Rida yang bicara.
"Ayo Raka kita segera berangkat," Ucap zidan.
__ADS_1
"Baik bos," balas Raka dengan segera membuka pintu belakang mobil nya yang sejak tadi sudah menunggu sang bos datang.